Monthly Archives: Juli 2011

Si Kancil Penyebab Korupsi?

Picture by Loveshugah on DevianArt

“Dongeng menunjukkan budaya bangsa.”

–Eko Meinarno, dosen Psikologi Antropologi Universitas Indonesia

Waktu kecil saya suka didongengi sebelum tidur. Mama biasanya membacakan saya sebuah cerita yang saya pilih dari kumpulan naskah dongeng yang saya miliki. Tapi kakek saya berbeda. Alih-alih membacakan saya sebuah dongeng dari buku dongeng saya, beliau selalu menceritakan dongeng-dongeng lokal seperti Bawang Merah, Bawang Putih, atau dongeng favoritnya, Si Kancil.

Ada banyak versi cerita Si Kancil, dengan teman-teman yang berbeda. Saya dulu paling suka versi Si Kancil dan Si Siput, karena Kakek selalu mengajak saya ikut memanggil si siput pada saat beliau menceritakan tentang si kancil yang berusaha mengecek posisi siput dalam lomba lari. “Koooooooll…. Kuk!”* begitu kami selalu berseru bersama.

Tapi dari semua cerita Si Kancil, saya selalu bingung kenapa si kancil selalu jadi tokoh yang suka mengakali hewan-hewan lain untuk mendapatkan keinginannya. “Mbah, kenapa Kancil selalu nipu temen-temennya?” itu pertanyaan saya waktu kecil dulu. Jawaban kakek saya, “Karena Kancil itu cerdik tapi nakal. Dia pakai kecerdikannya untuk berbuat yang nggak baik.” Dan sejak saat itu saya memutuskan kalau Kancil itu adalah pemeran utama yang antagonis. (Protagonis yang antagonis, hmm…)

Anehnya, waktu saya mulai bersekolah, teman-teman saya jarang ada yang menganggap Kancil itu antagonis, alias tokoh yang seharusnya dibenci. Mereka suka-suka saja pada tokoh Kancil, dan memujanya sebagai “Kancil pintar”. Waktu itu saya mulai berkompromi. Oke, Kancil memang pintar tapi dia itu pintar antagonis.

Lalu semester kemarin, saya mendapatkan sebuah pengetahuan mengejutkan mengenai Si Kancil saat saya sedang mengikuti kuliah Individu, Kebudayaan, dan Masyarakat (Inkemas) tentang Psikologi Antropologi. Dalam kuliah tersebut, Mas Eko, dosen saya, menceritakan tentang hubungan dongeng dengan mental budaya sebuah bangsa.

David McClelland, seorang psikolog sosial, meneliti tentang hubungan dongeng dengan perkembangan suatu bangsa yang dirangkum dalam artikel ilmiah “The Need For Achievement“. Menurutnya, negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik adalah negara-negara yang dalam dongengnya tersirat n-Ach (need for achievement) yang tinggi. Ia mengambil contoh Eropa dan Spanyol. Dongeng-dongeng Eropa rata-rata memiliki plot yang sarat motivasi tinggi, sementara dongeng Spanyol rata-rata berisi kenyamanan yang membuat anak-anak terlelap dalam tidur. Dan bisa dilihat, saat Spanyol mulai merasa puas dengan daerah jajahannya, Eropa mulai perlahan-lahan mengambil alih jajahan Spanyol. Spanyol pun akhirnya semakin terpuruk sementara Eropa kian menanjak.

Jika ditinjau dari sisi Asia, ada Jepang dan China yang kini maju. Jika kita melihat dongeng-dongeng kedua negara tersebut, memang sarat dengan usaha keras dan keinginan untuk berhasil. Momotaro, misalnya, yang pergi menuju pulau penuh iblis untuk menghabisi mereka agar desanya dapat hidup terbebas dari teror. Dari cerita ini dapat dilihat keinginan Momotaro untuk mendapatkan keamanan desa dari serangan iblis.

Berangkat dari penelitian tersebut, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Ismail Marahimin, membuat penelitian yang sama. Beliau memberikan dua buah cerita pada seratus pekerja Indonesia dari berbagai kalangan, dari pegawai negeri sampai pengusaha. Salah satu cerita adalah Si Kancil (versi Mencuri Ketimun), sementara yang satunya adalah sebuah dongeng lokal lain yang menceritakan tentang kegigihan usaha seseorang dalam mencapai sesuatu (saya lupa cerita satunya dan Google sama tidak tahunya dengan saya). Secara mengejutkan, saat diperintahkan untuk memilih salah satu cerita, sebagian besar orang memilih cerita Si Kancil. Alasan mereka bermacam-macam tapi mereka sepakat bahwa dongeng Si Kancil lebih bagus daripada dongeng satunya.

Hal ini membuat Ismail Marahimin mengungkapkan kekhawatiran tentang pengaruh cerita Si Kancil pada budaya korupsi di Indonesia, karena seperti yang kita tahu, Kancil digambarkan sebagai tokoh yang sangat cerdik dan gemar menipu kawan-kawannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Pemilihan sebagian besar pekerja Indonesia terhadap Si Kancil menunjukkan bahwa alam bawah sadar mereka menyetujui dan menginginkan sifat Kancil. Menurut mereka akan lebih mudah dan lebih cepat untuk mendapatkan sesuatu dengan cara memperdaya orang lain dengan kecerdikan daripada berusaha dengan tenaga sendiri. Bukankah hal itu juga yang mendasari tindak korupsi di Indonesia? Karena para pekerja tersebut menginginkan cara tercepat dan termudah untuk mendapatkan kekayaan?

Nampaknya penelitian tersebut cukup membuat resah, karena Dr. Sofyan Djalil, MA. MALD, menteri BUMN RI periode 2004-2009 segera menekankan tentang pentingnya reformasi dongeng anak Indonesia dan agar para orangtua berhenti membacakan dongen Si Kancil Mencuri Ketimun.

“Harus ada reformasi dongeng anak Indonesia, karena dongeng bisa membentuk karakter anak. SUDAH SAATNYA ORANGTUA INDONESIA BERHENTI MENDONGENG TENTANG KANCIL MENCURI KETIMUN!”

–Dr. Sofyan Djalil, MA. MALD – menteri BUMN RI 2004-2009

Menanggapi hal tersebut, pada bulan Mei 2009, terbitlah seri dongen Si Kancil terbaru karangan Tedi Siswoko. Buku pertamanya untuk seri Si Kancil terbit dengan judul Kancil (Bukan) Si Pencuri Ketimun. Dalam buku dongeng ini dikisahkan Si Kancil bukanlah pencuri ketimun dan ia mendapatkan ketimun dari Pak Tani dengan cara yang sopan. Si Kancil tetaplah binatang yang cerdik, namun dalam seri ini ia menggunakan kecerdikannya bukan untuk menipu kawan-kawannya, tapi untuk membantu mereka. Dalam blog pribadi penulis, ia berharap dengan reformasi dongeng ini dapat dibentuk anak-anak yang lebih baik untuk masa depan bangsa yang lebih gemilang.

Saya sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan banyak orang begitu menyukai Si Kancil, karena saya sejak dulu memutuskan bahwa Si Kancil itu tidak baik. Menurut saya, pada awalnya dongeng Si Kancil Mencuri Ketimun diceritakan untuk memberi pesan bahwa kecerdasan tidak seharusnya digunakan untuk cara-cara yang tidak baik seperti mencuri atau menipu. Setiap kali kakek saya selesai bercerita tentang Kancil, beliau selalu memberi wejangan agar saya tidak seperti Kancil, karena jika saya menggunakan kecerdasan saya seperti Kancil, suatu saat saya akan menerima ganjarannya.

Mungkin yang salah dari penceritaan dongeng Si Kancil adalah karena setelah dongeng berakhir, nasihat seperti yang kakek saya berikan tidak diberikan oleh orangtua lain, sehingga anak-anak mereka memutuskan bahwa Kancil itu binatang yang cerdik dan lucu, dan cerdik serta lucu itu hal baik yang patut dicontoh bukan? Yang terlewat di sini adalah fakta bahwa Kancil menggunakan kecerdikan dan kelucuannya untuk menipu dan membodohi binatang lain di sekitarnya. Sayangnya, sebenarnya tindak penipuan dan pembodohan tersebut yang menjadi inti kisah Si Kancil namun entah bagaimana orangtua mengabaikan pesan tersebut dan menutupinya dengan fakta bahwa tingkah Kancil dalam memperdaya teman-temannya sangat mengundang tawa–jujur, saya pun selalu tertawa saat Kancil mengatakan sesuatu yang cerdas.

Kehadiran seri terbaru kancil bagi saya oke-oke saja, karena memang lebih baik tokoh protagonis itu digambarkan sebagai orang baik daripada orang jahat toh? Agak risih bagi kita menerima kenyataan bahwa tokoh sentral dalam sebuah cerita sebenarnya tidak baik dan patut dibenci, walau kenyataannya kini cara penceritaan seperti itu mulai banyak dipakai. Tapi untuk anak-anak yang masih memerlukan bimbingan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang tidak, sifat jahat pada tokoh utama tidak dianjurkan, karena bisa menimbulkan kebingungan yang bisa mengakibatkan miskonsepsi dalam pikiran anak-anak (mis. “Kancil adalah tokoh utama dalam dongeng Si Kancil, karena itu Kancil sifatnya harus ditiru”). Kalaupun orangtua tetap berniat menceritakan dongeng Si Kancil sebagaimana aslinya (mencuri ketimun), yang perlu diperhatikan adalah agar mereka tidak melupakan kalimat penutup dalam sesi dongeng mereka bahwa sifat Kancil yang menggunakan kecerdikannya untuk membodohi orang itu tidak sepantasnya ditiru.

 

Catatan:

*teriakan “Kooooll… Kuk!” pada kisah Si Kancil dan Si Siput itu berarti Kancil sedang memanggil Siput “Kooooll!” (bahasa Jawa siput adalah kol, atau kul, saya tidak tahu bagaimana tulisannya) dan Siput menjawab panggilan Kancil dengan bahasa siput “Kuk!” untuk membiarkan Kancil tahu di mana posisinya.

Dengan kaitkata ,

[Interlude] Emosi Negatif Dalam Social Media

Belakangan ini saya merasa sangat jengah dengan yang namanya jejaring sosial. Tiap masuk ke dalam sebuah situs saya pasti dihadapkan oleh sebuah situs/komentar yang mengandung emosi negatif, seperti “Saya ingin mati” atau “Saya benci X” atau kalimat-kalimat yang mengandung emosi negatif lainnya. Dan, jujur, hal itu sangat mengganggu saya.

Oke, saya tahu kalau salah satu keuntungan social media adalah karena situs macam itu menyediakan tempat untuk curhat. Tapi kadang saya benar-benar jadi merasa terpengaruh pada kalimat dengan emosi negatif. Pernah saya membuka akun Facebook saya, dan di dalam News Feed berderet penuh dengan status-status yang memiliki emosi negatif. Padahal waktu membuka situs tersebut, emosi saya sedang baik, sangat positif malah. Tapi begitu melihat News Feed yang penuh dengan begitu banyak kalimat beremosi negatif, rasanya saya langsung jadi sebal dan mood saya untuk sehari itu langsung hancur berantakan

Saya tidak tahu apakah ini hanya saya yang memang gampang terpengaruh atau memang kalimat-kalimat negatif di jejaring sosial pada akhirnya bisa mempengaruhi emosi seseorang. Mungkin saya akan melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mendapatkan hasilnya.

Dengan kaitkata ,

Nama Sebagai Awal Segala Kontemplasi

What is in a name?

–William Shakespeare, Romeo and Juliet.

Keputusan sang ayah menunjukkan bahwa nama bukan sekadar tempelan. Nama punya daya performatif.

–Goenawan Mohamad

Fear of the Name increases fear of the thing its self.

–J.K. Rowling, Harry Potter and The Chamber of Secrets

Karena itulah saya memutuskan untuk membahas mengenai nama pada posting pertama saya. Setelah membaca sebuah esai di blog Goenawan Mohamad, saya juga jadi tertarik untuk membahas masalah ini. Bukan, bukan sebuah tinjauan khusus tentang budaya pemberian nama atau yang semacamnya, yang saya sanggup tulis hanya sebuah pemikiran egois tentang nama saya sendiri.

Nama saya Ayu Puspita Sari Ningsih. Arti dari Ayu sampai Sari-nya adalah “sari bunga yang cantik”, sementara Ningsih-nya hanya tempelan di detik-detik terakhir yang diberikan nenek saya yang bahkan tidak ada yang tahu apa artinya. Ironis.

Saya tidak pernah suka nama saya karena banyak yang mempunyai nama sama sampai rasanya kalau ada bisnis jual beli nama, nama saya adalah nama yang akan dijual di pinggir jalan dengan obralan paling rendah sama seperti kaus kaki. Saya selalu protes pada ayah yang telah memutuskan nama itu diberikan kepada saya. Tapi toh mau protes segencar apa pun nama saya sudah terdaftar dan kini memenuhi semua lembaran ijazah, kartu identitas, dan buku-buku yang jadi milik saya.

Tadinya saya ingin diberi nama Fransisca oleh ibu saya–yang, sebenarnya, lebih saya pilih–dengan alasan bahwa ayah saya beragama Katolik, jadi nama anaknya mungkin harus berkesan kebarat-baratan. Tapi ayah mengatakan bahwa seharusnya saya diberi nama netral karena persetujuan mereka adalah saya akan diikutkan agama ibu, maka aneh kalau namanya mengundang imej seperti orang non-muslim.Terlepas dari dinamika pemikiran orangtua saya yang unik–maksudnya, ibu saya yang beragama Islam ingin saya bernama seperti orang Katolik sementara ayah yang (dulunya) Katolik malah menyarankan saya seharusnya tidak bernama seperti orang Katolik–akhirnya dicapai suatu kesimpulan untuk memberi saya nama Jawa, Ayu Puspita Sari–Ningsih, setelah nenek tidak terima kalau tidak kebagian jatah memberi nama.

Kata orang “nama adalah do’a”, dan justru hal itu menimbulkan satu lagi alasan untuk tidak menyukai nama saya. Saya tidak pernah habis pikir kenapa orangtua saya lebih memilih mendoakan saya menjadi “cantik” daripada pintar atau berbagai harapan yang lain. Apakah memang ada pengharapan bahwa saya akan lebih menonjol dalam segi fisik dibanding segi lain atau pengharapan justru karena saya tidak mempunyai aspek yang diharapkan tersebut?

Begitu saya tanya, jawaban Mama adalah “karena nama itu yang paling gampang”. Dengan jawaban itu mau tak mau saya mundur. Apalah artinya protes kalau alasannya ternyata hanya sekedar kepatutan memberi nama? Saya bisa saja bernama Zea Mays–seperti yang Mama pernah nyatakan dalam keinginannya memberi nama pada anaknya–atau Arum–nama usulan Papa sebelum Ayu yang langsung ditolak oleh Mama–toh hal itu hanyalah sebuah formalitas. Anak harus punya nama, dan Ayu adalah doa umum yang sering diinginkan orangtua–karena siapa sih, orangtua yang tidak mau anaknya jadi cantik?

Sejak sadar akan hal itu saya mencoba suatu metode untuk menghindari nama saya: menciptakan nama alias. Sejak SD saya sudah mulai sering mencari-cari nama alias. Saya ingat nama pertama yang saya gunakan adalah Takenouchi Sora, nama sebuah tokoh Digimon yang tomboy–saya lumayan mempersepsi diri saya sebagai seorang tomboy–lalu teman-teman saya mulai ikutan memberi saya nama yang hampir seperti plesetan dari nama saya tapi cukup lebih saya terima daripada nama saya sendiri; ada Yayoi, Yue, Yuu-chan, dan lain-lain. Nama alias yang paling tetap dan saya gunakan sampai sekarang adalah Phoebe Yuu, sebuah nama yang saya ciptakan saat kelas X. Phoebe muncul dari nama satelit Saturnus, dan kebetulan frasanya masih seperti plesetan Puspita, dan Yuu berasal dari nama yang sering dipakai teman-teman untuk memanggil saya. Sekarang nama itu saya gunakan untuk alias jika saya menulis fiksi–semata demi kepantasan (dan saya pun akhirnya jatuh ke dalam sirkulasi pemikiran orangtua saya).

Sebenarnya konyol, kalau diingat lagi sekarang. Usaha saya mencari nama alias itu sejak dulu tidak pernah melalui proses pemaknaan yang panjang. Padahal sepertinya orang-orang yang mempunyai alias itu memikirkan namanya matang-matang sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Tapi apa boleh buat, nama Phoebe Yuu sekarang sudah lekat di hati saya. Kalau saya memutuskan untuk menggunakan nama alias saya suatu saat nanti, saya tidak mau ganti yang lain lagi.

Meskipun begitu, nama, pada akhirnya tetap menunjukkan siapa diri seseorang sebenarnya. Walau saya terkadang bersembunyi dalam nama alias, tapi nama yang mendukung eksistensi saya adalah Ayu Puspita Sari Ningsih. Nama itu yang menceritakan riwayat saya sejak kecil dan di bawah nama itu semua catatan kehidupan saya dikenang. Saat nama itu menghilang, eksistensi saya sebagai seorang Ayu Puspita Sari Ningsih pun hilang. Semua riwayat yang dicatat di bawah nama itu takkan berarti lagi jika saya berusaha memasukkannya ke dalam nama lain. Pada akhirnya, saya tetaplah seorang Ayu Puspita Sari Ningsih. Dan demi eksistensi saya sendiri, saya tidak akan menghilangkan nama itu–walau menyamarkan sesekali masih mungkin.

Dengan kaitkata ,