Monthly Archives: Januari 2012

Menguasai Pengetahuan Dunia dengan 150 Buku: Sebuah Apresiasi Bagi Sang Pendeta

Saat ini saya tengah membaca buku novel klasik The Count of Monte Cristo karangan Alexandre Dumas. Baru membaca sekitar 10%, saya tertarik – kalau bukan jatuh cinta setengah mati – dengan salah satu tokohnya yang bernama Abbe Faria.

Abbe Faria ini adalah seorang pendeta yang dipenjara di Chateau de If, sebuah penjara pulau, atas tuduhan yang sampai akhir hayatnya tetap tak ia ketahui. Ia dianggap gila karena setiap tahun berusaha menyogok sipir penjara dengan harta karunnya, dan setiap tahun bertambah ia juga akan menambahkan bagian harta karunnya ke dalam negosiasi. Atas alasan gila inilah akhirnya ia dipenjarakan di ruang bawah tanah, tempat dimana akhirnya ia bertemu Edmond Dantes, sang tokoh utama.

Pertemuannya dengan Edmond bermula saat ia salah perhitungan dalam menggali jalan keluar dari selnya. Alih-alih menggali ke luar sel, ia malah menggali ke arah ruang tahanan Edmond yang juga ada di bawah tanah. Dari situ mereka berkenalan, dan karena Abbe Faria menyerah dalam kegagalannya, maka ia memutuskan untuk berteman saja dengan Edmond dan melupakan keinginannya untuk kabur dari Chateau de If.

Setelah beberapa kali berkorespondensi tanpa bertatap muka (hanya lewat suara), Abbe Faria akhirnya mengunjungi Edmond, dan membiarkan Edmond berkunjung ke selnya. Di sana Edmond kagum mengetahui bahwa selama Faria disekap, ia masih dapat menulis dan mengembangkan pengetahuannya. Pulpennya terbuat dari batangan besi yang diruncingkan dan tintanya dibuat dari abu perapian dan lemak. Ia menulis bukunya di kain baju penjaranya yang telah usang dan ia sobek menjadi beberapa bagian. Semua fasilitas yang tidak bisa didapatkan para penghuni penjara yang lain bisa ia dapatkan dengan cara mempunyai pengetahuan yang cukup untuk membuatnya sendiri.

Edmond yang terkagum-kagum dengan semua hal ini, akhirnya menanyakan rahasia dari semua ilmu yang dimiliki oleh pendeta itu, bagaimana caranya ia bisa mengetahui hampir semua hal yang berguna dalam menghidupi dirinya sendiri di kala krisis seperti penjara bawah tanah yang gelap. Jawaban Abbe sederhana:

I had nearly five thousand volumes in my library at Rome, but after reading them over many times, I found out that with one hundred and fifty well-chosen books a man possesses, if not a complete summary of all human knowledge, at least all that a man need really know.

Ya. 150 buku yang dipilih dengan baik akan dapat membantu kita setidaknya memahami pengetahuan peradaban manusia, itulah yang dikatakan oleh Abbe Faria. Dengan 150 buku yang dipilihnya dengan baik, selama bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya untuk menghapalkannya, dan lihatlah apa yang bisa diperbuatnya dengan 150 buku tersebut di saat ia sedang berada pada masa krisis. Dari buku-buku itu ia mengetahui sejarah, membuat benda-benda, mengetahui kondisi tubuhnya berdasarkan gejala-gejala biologisnya, bahkan membuat obat untuk menyembuhkan dirinya sendiri! Sebuah pengharapan baru yang sangat luar biasa! 150 buku yang dipilih dengan baik, dan kita akan dapat mengetahui setidaknya segalanya yang kita butuhkan.

Tentu bukan hanya pengetahuannya saja yang membantunya bertahan selama empat tahun sebelum bertemu Dantes, kreativitasnya yang hebat juga membantunya mengatasi stres dan depresi yang biasanya hinggap dari minimnya aktivitas seorang tahanan. Ia bisa memikirkan jalan keluar agar ia bisa menulis, yang tentu saja, merupakan salah satu cara untuk menghindari stres karena ketidakmampuan mengeluarkan energi ide. Ketidakmampuan seseorang untuk menyampaikan pemikiran dan gagasan adalah sumber depresi utama manusia, karena manusia mampu bertahan untuk kehilangan apa pun namun tidak dengan kebebasan untuk mengungkapkan pemikiran. Abbe Faria dengan briliannya dapat mengatasinya.

Ia juga adalah orang yang menghargai filsafat di atas segala ilmu. Seperti yang diajarkannya pada Edmond:

Philosophy cannot be taught; it is the application of the sciences to truth; it is like the golden cloud in which the Messiah went up into heaven.

Ia menekankan bahwa filsafat adalah inti dari segala ilmu. Ia mengatakan pada Edmond bahwa dia bisa menguasai semua ilmu yang dimilikinya hanya dalam waktu dua tahun, selama Edmond dapat mengerti inti dan filosofi dari semua ilmu yang diajarkannya. Lagi-lagi, sebuah paradigma yang menimbulkan pengharapan baru. Yang penting dari semua ilmu pengetahuan adalah filosofinya, bukan apakah kita dapat menghafal semua teorinya dalam kepala kita.

Sayangnya, keberadaan tokoh Abbe Faria seakan dianggap kecil oleh sebagian besar orang yang membaca The Count of Monte Cristo – dan juga bagi produser-produser film yang mengadaptasi cerita tersebut. Saya tidak dapat menemukan sosoknya baik di (review) movie The Count of Monte Cristo dan Gankutsuou (adaptasi animasi). Padahal sebenarnya tokoh sang Abbe adalah tokoh kunci yang membuat Edmond menjadi The Count yang kita baca sepanjang 2/3 buku kemudian. Ialah yang mengajari Edmond banyak bahasa dan ilmu pengetahuan selama 14 tahun mereka berkorespondensi di Chateau de If. Ialah yang membuat sosok Monte Cristo begitu mengagumkan dengan kalimat-kalimat paradoks dan filsafat yang sering diucapkannya kemudian. Dan yang paling utama, ialah yang telah memberi tahu Edmond mengenai harta karun di pulau Monte Cristo, yang tentu saja membuat Edmond berubah menjadi seorang Count.

Walaupun bagi banyak orang peran Abbe Faria hanyalah peran kecil sebagai tutor Edmond Dantes yang eksis selama kurang-lebih 50 halaman (dari total kisah yang mencapai lebih dari 800 halaman bagi edisi Wordsworth Classics milik saya), bagi saya kehadiran Abbe Faria adalah sebagai sumber inspirasi utama; juga bagi Edmond Dantes dan kisah ini. Kehadirannya dan ucapan-ucapan filosofinya membuat saya terinspirasi untuk rajin membaca dan terus meningkatkan pengetahuan.

Karena, ya, Abbe Faria memberi saya pengharapan baru bahwa dunia yang luas ini bisa kita rengkuh jika kita dapat memilih setidaknya 150 buku yang tepat.

 

Iklan
Dengan kaitkata ,

Jadi Milikku, Mau?

Ia tidak tahu apa yang membuatnya tertarik pada sosok itu. Tebakannya, hal itu disebabkan oleh sebuah barisan nama yang menghadirkan lebih dari satu eksistensi. Gilang Angkasa.

gilang angkasa adalah namanya.

Gilang Angkasa adalah nama sosok itu.

Meskipun label eksistensi mereka seperti cermin—memantulkan takdir satu dan yang lainnya dengan sama persis—namun esensi mereka jauh berbeda. Ia adalah gumpalan tanah yang berubah menjadi daging; sama, biasa, dan mengabu di antara ribuan pelangi-pelangi jenius, sementara sosok itu adalah cahaya yang dengan rendah hati menutupi kilaunya dari mata para tanah; luar biasa, multitalenta, dan satu diantara sejuta.

Sosok itu selalu berada di pojok kelas dekat jendela, duduk sendiri dan mengacuhkan segala rasa kagum dan iri yang melingkupi sekitarnya. Ia melingkupinya dengan keduanya. Menjadi sepertinya adalah mimpinya. Bisa dipandang olehnya adalah karunia.

Karena itu, ketika sosok itu—Gilang dengan G besar, karena menurutnya dia sama mahaagungnya seperti G dalam God—mendatanginya dan memintanya untuk menjadi miliknya—ia, sang tanah yang mengabu—siapa yang akan menolak? Bukan gilang, tentu saja.

Maka gilang mengiyakannya.

Keesokan harinya, anak-anak kelas XI IPA 1 menatap heran pada sosok Gilang Angkasa. Ia yang dulu pemalu, tidak mencolok, dan serba biasa kini berubah menjadi begitu mempesona—hanya dalam rentang 24 jam, bagaimana mungkin?

Gilang Angkasa, guru mengabsen. Gilang mengangkat tangannya tinggi dan tersenyum mempesona. Kagum dan iri melingkupi presensinya. Kemana perginya Gilang yang dulu selalu mengangkat tangannya ragu? Dari mana datangnya Gilang yang sangat mempesona dan multitalenta ini? Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?

Ketika selama seminggu penuh Gilang Angkasa tetap menjadi Gilang Angkasa Yang Mempesona—yang ternyata bukan lelucon April tanggal satu yang datang pada bulan Desember—semua anak di kelas, dan seantero sekolah, mulai berusaha menebak-nebak alasan perubahan drastis Gilang Angkasa.

Mungkin dia digantikan oleh doppleganger atau semacamnya, komentar salah satu murid di kelas, terkekeh penuh humor. Gilang menolehnya, mengetahui namanya Andri Pratama.

Yang benar saja, ah. Gilang kan cuma ada satu di kelas ini, tawa satu siswa lain. Lagipula, terusnya, doppleganger itu kan tidak nyata.

Nama anak itu Rio Saputra. Gilang tersenyum kepadanya.

Tiga hari kemudian, sifat dan perilaku Rio Saputra berubah 180 derajat, membuat teman-temannya keheranan—karena, hanya dalam jangka 24 jam, bagaimana bisa?

Tiga hari kemudian, tak ada yang pernah mengingat kehadiran Gilang Angkasa. Tidak juga buku absen kelas.

Jadi milikku, mau?

END

.

.

Posted for #15HariNgeblogFF at Twitter.

Demotivasi

Demotivasi untuk menulis. Jatuh ke level basement. Will do something ’bout it, though. I just, ugh!

Dengan kaitkata , , ,