Monthly Archives: Februari 2012

I Feel Psychotic

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku memoar tentang penderita manic-depressive disorder (atau sering juga disebut bipolar disorder) yang berjudul An Unquiet Mind karangan seorang psikiater Kay Redfield Jamison.

An Unquiet Mind, buku tentang Manic-Depressive Disorder yang dikarang oleh Kay Redfield Jamison

Apa sih manic-depressive disorder itu? Bagi yang belum familiar dengan istilah kerennya, bipolar, manic-depressive adalah salah satu bentuk kelainan kejiwaan yang membuat penderitanya merasakan episode mania dan depresi bergantian secara cepat, bahkan terkadang kedua episode itu terjadi secara bersamaan. DSM-IV TR, sebuah manual bagi segala mental disorder (dan kitab suci bagi para psikiater dan psikolog klinis) memberi definisi sebagai berikut:

Bipolar disorder is characterized by the occurrence of at least one manic or mixed-manic episode during the patient’s lifetime. Most patients also, at other times, have one or more depressive episodes. In the intervals between these episodes, most patients return to their normal state of well-being. Thus bipolar disorder is a “cyclic” or “periodic” illness, with patients cycling “up” into a manic or mixed-manic episode, then returning to normal, and cycling “down” into a depressive episode from which they likewise eventually more or less recover.

Tingkat manic-depressive ini juga ditentukan dengan tingkat episode mania yang dialami penderita. Ada penderita yang hanya mengalami fase hipomania, di sini penderita, saat mengalami episode ini, hanya merasa dirinya tiba-tiba berada dalam mood yang sangat baik, semangatnya meningkat, banyaknya ide yang muncul, dan merasa mampu untuk mengerjakan banyak hal. Lalu ada juga fase mania akut, dimana seseorang saat berada dalam kondisi ini akan merasakan peningkatan mood hingga sampai ke tahap euforia, hiperaktivitas, dan kurangnya waktu tidur, serta seringkali diikuti oleh gejala delusional. Yang terakhir, yang paling parah, adalah mania delirium. Pada fase yang seperti ini penderita sudah mengalami tingkat delusional yan parah hingga terkadang tidak menyadari di mana mereka berada. Ketiga jenis mania ini, jika kemudian disertai oleh episode depresi, maka akan menjadi bipolar disorder. Dua mood yang saling bergantian ini membuat bipolar terkenal dengan ikon dua topeng berwajah sedih dan senang.

The Happy and The Sad, ikon manic-depressive disorder

Ada teman kuliah saya yang mengaku bahwa dirinya bipolar dan secara rutin telah mengikuti terapi sejak semester awal kami berkuliah di Psikologi. Waktu teman saya menyatakan hal tersebut saya merasa bingung karena saya tidak pernah melihatnya berganti mood secara cepat, bahkan selalu terlihat seolah bahagia. Bagaimana mungkin dia bipolar? Bukannya bipolar adalah pergantian mania dan depresi secara cepat?

Ternyata saya salah besar. Manic-depressive memang merupakan kelainan yang selalu menimbulkan mania yang kemudian disusul oleh depresi, tapi ternyata tidak secepat itu. Selama ini saya kira penderita bipolar mengalami mood-switch yang sangat cepat, seperti misalnya dalam hitungan jam atau bahkan menit. Ternyata tidak, begitu saya baca lebih lanjut di DSM-IV, ciri utama dari manic-depressive hanyalah episode mania yang diikuti oleh depresi akut. Waktu pergantiannya ternyata bukan selalu dalam hitungan jam atau menit (walau memang ada juga yang seperti itu), tapi bahkan bisa berbulan-bulan. Seorang penderita bisa saja mengalami episode mania selama tiga minggu dan kemudian dilanjutkan dengan episode depresi yang bisa jadi lebih lama, lalu kembali normal hingga berbulan-bulan sebelum siklus itu bisa kembali menyerang. Bahkan ada orang yang kembali normal dahulu setelah mengalami episode mania, lalu baru mengalami depresi dalam jangka beberapa minggu setelahnya. Karena itulah saya tidak bisa menangkap simtom bipolar kawan saya itu, karena saya hanya memperhatikannya dalam lingkup per jam atau harian, padahal mungkin bisa saja teman saya itu mengalami perubahan dalam lingkup mingguan.

Dan karena salah persepsi mengenai waktu serangan itulah saya jadi tidak menyadari kalau saya juga penderita manic-depressive.

Saya baru menyadarinya ketika saya membaca buku An Unquiet Mind tersebut. dr. Jamison sangat detil dalam menggambarkan penyakitnya, menggambarkan setiap situasi yang dihadapinya ketika ia mendapatkan serangan mania dan depresinya hingga saya bisa mengerti dengan jelas bagaimana rasanya menjadi seorang manic-depressive. Dan membaca buku itu dalam seratus halaman pertama membuat saya bergidik ngeri karena menyadari bahwa semua simtom yang terdapat pada psikiater tersebut juga saya rasakan.

Dr. Jamison menceritakan bahwa ia baru menyadari kelainannya saat ia mengikuti kelas psikologi (sepertinya memang kuliah psikologi merupakan tempat berobat jalan) di waktu dirinya menyelesaikan kuliah magister kedokterannya. Saat mengalami episode mania ia selalu melakukan sesuatu secara hiperaktif, seperti mengkopi satu puisi yang sedang ia sukai pada waktu itu dan membagikannya ke semua orang yang ia kenal, menyuruh mereka membacanya. Ia juga sering merasa ide berkeliaran di kepalanya hingga satu saat ia bisa saja menulis artikel ilmiah sementara beberapa menit sebelumnya ia baru saja browsing mengenai resep yang ingin dicobanya. Pikirannya terus berlompatan tanpa bisa diikuti oleh aktivitas fisiknya hingga ia selalu berpindah dari satu tugas ke tugas lain yang jauh berbeda. Saat berada dalam kondisi mania ia akan bicara terlalu cepat dengan topik melompat-lompat hingga tak ada yang berhasil mengikuti arah pembicaraannya, dan ia akan bicara berteriak dengan energi yang sangat besar. Ia impulsif dalam membelanjakan uang sampai ke titik dimana semua kartu kreditnya mencapai limit tanpa mempedulikannya. Lalu saat semua energi yang besar itu menyusut, ia akan dengan cepat jatuh ke dalam jurang depresi. Ia akan sadar bahwa ia telah mengkopi sebuah puisi hingga kamarnya penuh dengan kertas-kertas bertuliskan kalimat-kalimat sama persis, atau sadar bahwa ia telah menghabiskan seluruh gajinya untuk membeli satu buku yang sama sebanyak puluhan kopi atau baju-baju dan aksesoris. Begitu ia kembali turun ke tanah yang menyadarkannya akan hasil kegilaannya, ia akan langsung terjun ke lembah depresi; merasa dirinya bodoh dan tidak berharga karena telah melakukan hal-hal tersebut, merasa dunia kejam padanya, bahkan sampai pada pemikiran untuk mengakhiri hidupnya agar bisa terbebas dari kondisi manianya.

Semua hal itu juga terjadi pada saya. Akan ada satu saat dimana saya merasa sangat bahagia, melayang seakan semua masalah meninggalkan saya. Di saat seperti itu saya akan mendapatkan banyak ide – terlalu banyak ide – hingga tangan dan mulut saya sama sekali tidak dapat mengikutinya. Dalam satu hari seperti itu saya bisa membuat sekitar dua puluh draft cerita – hanya draft, karena kepala saya terlalu penuh dengan ide hingga saya harus menuliskan semuanya sebelum ide tersebut menghilang, baru akan saya kerjakan setelah semua ide berhasil saya pindahkan ke suatu bentuk solid. Saya akan tersenyum puas – kadang tertawa – saat menulis, merasa terlalu aroused saat membiarkan tangan saya menari di atas keyboard. Saya akan gemar merekomendasikan buku – kalau bukan memaksa membaca – buku yang saya anggap bagus atau meng-quote kata-kata dari buku tersebut dimana pun. Kalimat-kalimat yang keluar dari kepala saya akan lebih susah untuk dimengerti oleh kawan-kawan saya karena saya cenderung mengatakan sesuatu tanpa topik penyambung bahkan konjungsi. Saya akan gemar meletupkan humor-humor sarkastis yang membuat teman-teman saya terbahak.  Dan saya akan menjadi spending-spree dalam hal membeli buku. Saya akan terus-menerus membeli buku hingga uang di rekening mencapai batas limit, terkadang bahkan saya tidak mencari review buku itu terlebih dahulu, hanya karena kovernya cantik atau ada satu kata yang saya sukai dalam deskripsi buku, saya akan langsung membelinya. Saya akan merasa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan, bahkan dalam keadaan seperti itu tak jarang saya pergi ke pagar pembantas lantai atas suatu bangunan dan mengintip ke bawah, berkhayal mengenai kenikmatan dalam menjatuhkan diri dari sana, merasakan angin memburu di sekitar saya saat terjatuh. Tidak, pada saat seperti itu saya tidak pernah memikirkan bagaimana sakitnya setelah mencapai tanah.

Lalu saat lambungan pemikiran tersebut selesai (biasanya setelah satu-dua minggu), saya langsung merasa ditarik kembali ke kenyataan. Hal-hal yang masuk ke dalam pikiran saya bukan lagi hal-hal menyenangkan seperti sebelumnya. Saya diingatkan oleh tugas, oleh absen yang berbaris dan bersiap mencekal ujian saya, oleh kewajiban saya terhadap beasiswa, oleh nilai-nilai saya, oleh jumlah uang di rekening saya, saya teringat kepada semua hal itu dan langsung jatuh ke lembah depresi. Saya akan merasa tidak berguna, merasa bodoh, dan merasa bahwa dunia ini terlalu buruk untuk bisa saya jalani. Saya akan menjadi paranoid yang skeptis, tidak mempercayai apa pun, mencela semua orang, dan memaki-maki diri sendiri karena tidak bisa membenahi diri dan dunia. Ya, dan dunia. Saya akan mencela semua karya yang telah saya tulis, menyadari letak kesalahan sekecil apa pun dan akan semakin depresi karena menyadari bahwa saya tidak berkembang meskipun orang lain berkata sebaliknya. Di saat seperti itu saya akan berubah dari humoris-sarkastis menjadi pengkritik-skeptis. Dunia ini perlu dibenahi, saya harus membenahi dunia ini, saya ingin menghapus dunia ini, dan lain-lain.

Karena itu, saat membaca An Unquiet Mind saya merasa seperti sekaligus menemukan diri sendiri dan menolak bahwa saya mempunyai kelainan kejiwaan seperti itu. Untuk meyakinkan diri sendiri saya akhirnya mencari tes online untuk bipolar disorder dan mengecek diri saya sendiri. Hasilnya? Ternyata saya mempunyai tipe Bipolar II, kondisi bipolar disorder yang mempunyai episode hipomania dan disusul dengan episode depresi yang lebih dominan, bahkan termasuk major depression atau acute depression. Merasa masih gamang, saya akhirnya mencari tes untuk depression disorder, dan menemukan bahwa saya memang menderita major depression. Saya positif manic-depressive.

Tapi kenapa saya baru menyadari mood saya yang mudah berubah ini setelah saya masuk kuliah? Kenapa sebelumnya saya tidak pernah merasa ada yang salah dengan perubahan mood saya?

Ternyata, menurut DSM-IV, gejala manic-depressive memang pada umumnya baru disadari saat penderita berusia awal 20an, walaupun ada juga yang memang merasakannya sejak jauh lebih muda. Dan saya sekarang ini berada pada tahun ke-21 kehidupan saya. Wajar. Semuanya jadi wajar. Dan semuanya menjadi lebih jelas bagi saya.

Memang tes yang saya jalani sampai saat ini hanya didapat secara online dari sebuah website psikologi dimana saya berlangganan artikelnya. Mungkin untuk membuat diagnosa saya lebih baik, saya akan mengunjungi psikolog saya dan meminta tes yang lebih akurat.

Dan bagi yang ingin mengetahui tentang Bipolar disorder, An Unquiet Mind adalah buku yang sangat saya rekomendasikan.

Jadi, kesimpulannya, kelainan yang saya miliki hingga sekarang bertambah menjadi; ADHD-I (Attention Deficit-Hyperactive disorder predominantly inattentive), disleksia, dan bipolar II. God help me.

 

Dengan kaitkata , ,

Lisa Hannigan: Lagu Untuk Laut dan Burung

Baru-baru ini saya tengah mendengarkan seorang penyanyi asal Irlandia bernama Lisa Hannigan. Sebelumnya ia dikenal sebagai teman duet Damien Rice yang terkenal dengan tembang Volcano-nya. Pada tahun 2007 terjadi perselisihan antara Damien dan Lisa hingga Lisa akhirnya memutuskan untuk berpisah dari Damien dan bersolo karir. Ia mengeluarkan debut albumnya Sea Sew pada tahun 2008 dan kemudian disusul dengan album keduanya, Passenger, pada tahun 2011 kemarin.

Lisa Hannigan - Sea Sew (2008)

 

Lisa Hannigan - Passenger (2011)

Saya mendengarkan Lisa Hannigan karena saya menyukai kolaborasinya dengan Damien Rice. Bagi saya lagu-lagu Damien baru terasa soul-nya jika dinyanyikan berdua dengan Lisa, karena itu saya merasa sangat kecewa ketika Lisa memutuskan untuk keluar dari band Damien. Dan akhirnya, karena lagu solo Damien sama sekali tidak sesuai dengan selera saya, saya mencoba mendengar bagaimana lagu Hannigan pasca berpisah dari Damien.

Dan hasilnya? Luar biasa! Saya bahkan mengakui bahwa saya lebih menyukai rythm Lisa yang penuh dengan alunan cello dan gitar serta piano dalam sebuah komposisi sederhana, tidak seperti rythm Damien yang penuh dengan orkestra kompleks. Lirik-liriknya sederhana namun bermakna dan terkadang memiliki penafsiran yang tersembunyi di baliknya.

Saya otomatis langsung mengunduh kedua albumnya – yap, langsung keduanya – dan tidak ada satu album pun yang membuat saya kecewa. Genre musiknya tidak berubah, rythm-nya tetap sederhana dan lirik-liriknya benar-benar khas Lisa Hannigan. Di album pertamanya Lisa banyak memberi rujukan pada laut dalam nyaris setiap lagunya, dan sebagian besar lagunya bercerita tentang kehidupan, sakit hati, kekecewaan, dan perubahan. Sepertinya album ini, melihat dari jangka waktu rilisnya, kebanyakan ditulis berdasarkan perselisihannya dengan Damien. Lalu pada album kedua, Lisa lebih sering menggunakan kata “burung” dalam lagu-lagunya, dan kebanyakan lagunya berkisah tentang melepas masa lalu dan perjalanan dengan takdir baru. Such a nice experience hearing her.

Di bawah ini saya beri contoh salah satu karya Lisa Hannigan. Sebuah lagu yang menjadi favorit kedua saya – yang pertama berjudul “Teeth” – dalam album pertama Lisa Hannigan, Sea Sew. Lagu ini berjudul “Pistachio”. Happy listening! 😀

Lyric

“Pistachio”

Sit down and fire away, I know it’s tricky when you’re feeling low,
When you feel like your flavour
Has gone the way of a pre-shelled pistachio…
I know you’re weighed down
You’re fed up with your heavy
Your boots
Laced with melancholy notion’s all you own…I do – like sugar – tend toward the brittle and sticky when spun
And I know my demeanor
Has gone the way of a photo left out in the sun…
I try to keep myself in lillies and flax seeds…
Oh what a folly- fooling just yourself…

Sit down and smoke away, I wouldn’t knock it till you’re in them shoes
Oh watch as ours subtlety blows away as a blusher gives way to a bruise…
But seemly, we’d freely make a trade-off
A dry rot to take the weight off
Swap the boots for red shoes

Bagaimana menurut kalian lagunya? Kalau ada yang tahu artis folk yang mirip genre-nya dengan Lisa Hannigan, boleh juga rekomendasikan ke saya. 😀
Dengan kaitkata ,

Thank God Hardcopy Books Still Exist (and I still Have Many Unreads)

Nothing much, just my usual rant this time.

So. There’s a consent blackout in my block this morning till afternoon. No, wait, consent isn’t the right term, since mostly my neighborhood didn’t give an affirmative for this blackout. But well, we’re informed. Yes, that’s the right term, informed blackout.

Okay. So, this blackout was informed yesterday to be expected from 10 to 17. Which in reality, thank god, it only lasted from 11 to 14. Mom got the information too late, she knew it at 9 (surprise, surprise!) and immediately went spastic because she didn’t even start to cook today’s meal. Me was just shrugged it off.

But just one question floated in my mind: What will I do during this blackout? It looks rather long.

The answer is quite easy if you can judge me from just my blog header. I read.

books I read during the blackout

Thank god hardcopy still exist. And Thank god I still have many unread hardcopy books with me. Imagine what would I do without some hardcopy in hands, I’ll die bored. Okay, my Mom was there, but listening to my Mom has it limits before fun become boring. And I can’t write during blackout, Mom’ll get angry. So I read, instead – not to say Mom was not angry, but well, I read outside.

Anyway, I read (continuing) The Count of Monte Cristo and a psychology stuff titled The Black Swan. And no, I’m not gonna tell you what it’s about right now, I’ll make a different post for it later (maybe). But during I read those books, I think about digitalization era we now faced. Surely, if Indonesia want to get digitalized like any other country, there should be no more blackouts.

Which maybe, that’s why we still cut down trees to print a hardcopies.

I’m not a greenpeace activist, mind you, and I surely as hell love hardcopies much more than ebooks – because, no bookworm (even a self-proclaimed one) could ever  be seperated from the parfume of those papers, eh? So no, I’m just merely stating the fact. Because digitalized era needs electricity like a human needs a heart. So make sure all your citizens at least have enough electricity supplies and then you can go all globalized like a boss.

I love hardcopy, but I (am starting to) like ebook too. So please, no more blackout, Indonesia? Without my laptop or cellphone I can’t read any ebook.

But wait. Mom just said that there’ll be a blackout again tomorrow. Bless you, PLN, bless you.

P.S. and I still need an update for my course next semester. And if there’s any more blackout tomorrow, I’ll be dead.

Dengan kaitkata , , ,

Saya Ingin Kembali Berkarya

Saya sadari, belakangan ini saya nyaris tidak menulis apa pun selain paper, makalah, atau esai analisis yang merupakan tugas kuliah. Semester kemarin berlalu dengan sebegitu hectic-nya hingga bahkan untuk menulis satu paragraf non-tugas pun saya tidak bisa bagaimana bisa jika untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah pun saya bahkan harus tidak tidur selama dua-tiga hari?

Dalam beberapa kesempatan diskusi bebas di grup internal Psikologi 2010 di Facebook, beberapa teman saya pernah menyatakan ketidakbebasan mereka dalam menangani hal di luar kegiatan kuliah. Well, waktu itu topiknya memang mengenai pergerakan mahasiswa dan suara-suara mahasiswa yang seakan terbungkam oleh padatnya tugas kuliah, tapi ada satu pendapat yang seakan mengena di hati saya.

Jangan-jangan sebenarnya alasan universitas begitu mengedepankan prestasi dan ngotot menekankan pentingnya IPK tinggi kepada mahasiswanya adalah untuk membungkam kreativitas dan pergerakan mahasiswa.

Waktu itu terjadi perdebatan panjang begitu komentar itu muncul. Anak-anak yang merasa diri mereka study-oriented langsung merasa tersinggung dan berkomentar pedas, “Memang apa salahnya menjadi study-oriented?” dan beberapa teman yang skeptis pada pergerakan mahasiswa (saya salah satunya, walaupun kali ini saya diam saja) memandang komentar ini sangatlah sepihak bagi kalangan aktivis saja.

Di saat semuanya ribut, saya terpaku di depan layar monitor. Dan menyadari bahwa kalimat tersebut, dilihat dari sebuah sisi lain, adalah benar adanya.

Dunia saya, semenjak memasuki bangku perkuliahan, sudah bukan lagi hanya untuk belajar.

Sejak kecil saya adalah orang yang study-oriented; mendewakan nilai di atas segalanya dan menganggap orang-orang yang tidak bisa mendapat nilai bagus bukanlah orang yang patut saya hormati. Saya harus sempurna. Saya dilahirkan untuk itu.

Tapi dua tahun vakum dari dunia pembelajaran mengajari saya arti dari kehilangan kesempatan untuk memperoleh ilmu. Saat itu saya menyadari bahwa yang saya inginkan bukanlah nilai bagus. Yang saya inginkan, murni, hanya kesempatan untuk bisa menambah pengetahuan saya tentang banyak hal, dan memformulasikannya dalam mimpi utama saya: menjadi seorang penulis.

Dan Tuhan sangat baik, sangat baik, karena telah mendengarkan keinginan saya yang paling besar dan mengabulkannya dengan perangkat-perangkat yang dapat membantu mimpi saya.

Perangkat yang paling berarti – dan paling utama – adalah beasiswa fullbright saya.

Bodohnya, saya sama sekali tidak menyadari bahwa beasiswa itu adalah suatu karunia yang begitu besar yang sebenarnya merupakan sarana utama untuk menuju mimpi saya. Selama tiga semester saya hanya menganggap beasiswa itu sebagai jalan saya untuk kembali mendapatkan pengetahuan. Ternyata beasiswa saya menawarkan lebih banyak dorongan. Dan saya baru menyadarinya setelah masa depresi panjang di penghujung semester 3 kemarin.

Berikut adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh saya selama mendapatkan beasiswa:

  1. IPK > 3.00
  2. Mengikuti setidaknya satu organisasi ekstra atau intra kampus
  3. Mengikuti kegiatan kepanitiaan di fakultas
  4. Mempunyai karya tulis ilmiah yang dipublikasikan
  5. Mempunyai karya non-ilmiah yang dipublikasikan
  6. Mempunyai prestasi di bidang non-akademis

Selama ini saya dengan bodohnya hanya berusaha memenuhi tiga syarat pertama, karena itu adalah syarat wajib yang harus dipenuhi agar beasiswa bisa terus berjalan. Selama tiga semester saya dicekam ketakutan bahwa saya tidak bisa memenuhi syarat tersebut, pikiran saya buntu oleh adanya kemungkinan beasiswa saya dicabut hingga saya akan kembali tidak bersekolah.

Tapi beberapa hari belakangan, setelah masa depresi panjang yang membutuhkan saya bolak-balik ke psikolog fakultas untuk melakukan terapi, pernyataan salah satu teman saya itu kembali melayang-layang di kepala saya bersamaan dengan salah satu nasihat yang saya terima dari psikolog saya:

You got that 3.5 or so for your GPA and then so what? I don’t care any of it. What are you fighting so hard for? To reach your dream, right? And does that GPA of yours now represent your dream?

Jawabannya, tidak. Dalam IPK saya, dalam perjuangan saya selama tiga semester, mimpi saya sama sekali tidak ada di dalamnya. Mimpi saya simpel hanya ingin mengembangkan pengetahuan dan menjadi seorang penulis, dan hal itu tidak bisa saya dapatkan selama saya memfokuskan diri saya untuk mengejar IPK tinggi. Saya terlalu terobsesi untuk mendapatkan nilai tinggi dan dicekam ketakutan bahwa suatu saat, jika saya lengah, semua fasilitas dan pengetahuan yang saya dapat akan segera diambil dari saya. Saya takut, karena pengetahuan adalah hal paling utama yang tidak akan bisa saya lepaskan.

Dan karena ketakutan itu, saya jadi menutup mata saya pada tiga syarat non-wajib beasiswa saya.

Kembali ke atas dan lihat apakah ketiga hal tersebut. Ya, ketiga hal tersebut adalah dorongan untuk menulis. MENULIS! Beasiswa saya mendorong saya untuk menulis! Beasiswa saya mengizinkan saya untuk menjadi penulis! Tuhan telah mengizinkan saya, dalam cara-NYA yang tidak dapat ditebak, untuk menjadi penulis!

Sewaktu menyadari hal tersebut, saya menangis – setengah karena kebodohan saya tidak menyadarinya sejak awal, dan setengah karena memang kondisi emosi saya masih sangatlah labil.

Dengan menyadari hal itu, saya kembali ke psikolog saya, dan menyatakan bahwa mulai sekarang dalam IPK saya akan terdapat mimpi saya di dalamnya. Saya ingin kembali menulis. Saya ingin kembali berkarya. Beliau (psikolog saya yang begitu baik dan hebat) tersenyum puas.

“Do your best, Ayu,” katanya. “And do what you want, don’t be restricted. This life’s yours, and as long as you do it the way it pleases you, your chance to be here won’t dissapear. UI needs more people like you.”

Jadi, pada masa registrasi online pada tanggal 31 Januari kemarin, saya memantapkan tekad saya. Saya akan lay low pada semester ini, tidak mengambil sks muluk-muluk, mungkin hanya akan mengambil 18 sks. Lalu saya akan membiarkan diri saya terfokus pada menulis dan menulis, menulis apa pun yang non-tugas, dan mungkin akan berusaha mempublikasikannya.

Orang lain bisa saja mendapatkan IPK tinggi dan mendapatkan mimpinya sekaligus. Tapi saya bukan manusia yang sehebat mereka. Saya tahu saya butuh manajemen tersendiri untuk mendapatkan keduanya; salah satu harus mengalah sementara untuk membiarkan yang lainnya berkembang, dan sebaliknya. Untuk sekarang ini, saya akan mementingkan tulisan saya.

Karena saya ingin di dalam IPK saya, terdapat mimpi saya. Karena saya ingin kembali berkarya.

Dengan kaitkata , ,