Monthly Archives: Desember 2012

Overwhelmed

My life right now….

and then…..

tumblr_lr2ccbk0uo1qfk6vyo1_500

sigh….

Dengan kaitkata ,

We Are Skin and Bones

Belakangan ini saya sedang benar-benar tergila-gila dengan David J. Roch, musisi folk asal Inggris. Awal saya mengetahui artis satu ini adalah karena saya sedang senang menontoni variety show So You Think You Can Dance. Saat saya sedang melihat performance salah satu kontestannya, lagu yang dimainkan adalah lagu Skin and Bones milik David J. Roch. Karena lagunya langsung bikin saya merinding di tempat (dan juga karena dance dengan lagu ini hasilnya sangaaaat bagus) maka saya memutuskan untuk mendownload album dari David J. Roch ini yang berjudul Skin + Bones.

Track:

01. Lost Child (4.48)

02. Hour of Need (3.01)

03. Evil’s Pillow (3.56)

04. The Devil Don’t Mind (4.10)

05. Lonely Unfinished (3.09)

06. Only Love (4.37)

07. Dew (4.05)

08. Skin & Bones (3.53)

09. Bones (3.05)

10. Yours (4.59)

Dan ternyata…. SATU ALBUM LAGUNYA SAYA SUKA SEMUA!! Saya jarang suka semua lagu di satu album, tapi saya benar-benar suka semua lagu di album ini, tidak hanya Skin and Bones. Menurut kritikus musik, David J. Roch memiliki kecenderungan musik dan lirik dark romantic. Suaranya juga dianggap “Supernatural” karena dia mempunyai range suara yang lebar dan indah. Sebagian besar liriknya tentang cinta sejati, pertanyaan tentang Tuhan, dan keikhlasan. Melodi lagunya mendayu dengan indah namun tidak cengeng, rasanya seperti mendengarkan Elf cowok bernyanyi di tengah hutan. So clear, so sacred. Very recommended buat yang suka musik romantis nan kalem. Beautiful songs. 🙂

Dengan kaitkata , ,

Books!

Ada campus bookfair di kampus saya kemarin dan tentunya nggak saya lewatkan kesempatan ini untuk memborong buku. Ada banyak penerbit-penerbit keren yang pasang stand, dan dengan buku-buku bagus serta diskon yang tak kalah keren pula. hehe. Alhasil, saya kemarin berhasil mendapatkan 6 buku hanya dengan budget 100rb. What a price! Ini dia buku-buku yang berhasil saya sikat.

16122012

1. Berbeda Tetapi Setara by Saparinah Sadli 

Profesor wanita satu ini adalah mantan dekan fakultas saya (Psikologi UI) dan pendiri Program Pascasarjana Kajian Perempuan dan Gender UI. Buku ini merangkum semua esai-esai mengenai kajian perempuan yang beliau tulis selama 20 tahun belakangan. Saya beli selain karena beliau adalah guru besar fakultas saya (uhuk) tapi juga karena setahun belakangan ini saya juga mulai tertarik dengan studi gender (dan mulai mengumpulkan buku-buku tentangnya).

2. Radikal Itu Menjual by Joseph Heath and Andrew Potter

Beli karena memang sudah lama cari buku ini. Begitu ketemu (dan ada diskon) tentu saja langsung sikat. Buku ini berisi tentang Budaya-Tanding, atau istilah yang lebih kita kenal mungkin adalah budaya nonmainstream atau indie (dalam musik). Buku ini dirating bagus oleh teman-teman saya di Goodreads, dan karena saya juga menyatakan bahwa saya adalah seorang yang non-konformitas, buku ini semacam jadi bacaan wajib yang sudah saya cari sejak tahun lalu. hehe.

3. Manusia Menjadi Tuhan by Erich Fromm

Erich Fromm adalah salah satu psikolog yang tergabung dalam aliran Psikoanalisa, aliran favorit saya, walau tokoh psikoanalisa favorit saya adalah Carl Jung dan Alfred Adler. Kemarin tanpa sengaja lihat bukunya dan saya impulsif beli. Maksudnya, buku terjemahan filsafat dan psikologi langsung dari tokohnya sendiri itu jarang, lho! Sejak dulu buku tokoh-tokoh filsafat dan psikologi yang saya suka (seperti Dante Alighieri, Sigmund Freud, David Hume, dll) semuanya saya baca dalam versi bahasa inggris, itu pun bukunya sudah menguning saking lawasnya. Jadi ada versi terjemahannya itu wajib banget di beli! Di dalam buku ini Fromm mengkaji agama dan konsep ketuhanan dengan sudut pandang psikologi. Nice book!

4. Derrida by Muhammad Al-Fayyadi

Ini juga buku yang sudah lama saya cari-cari. Pertama baca di perpustakaan fakultas, tertarik karena ada pengantar Goenawan Mohamad dan di esai-esai GM juga sering menyebut masalah Derrida. Begitu saya baca, ternyata pemikiran Derrida memang luar biasa. Dia terkenal dengan pandangan “dekonstruksialisme”, sebuah pandangan radikal terhadap penguraian definisi yang tersimpan dalam suatu teks. Sejak baca di perpus waktu itu, jadi tertarik dengan pandangannya dan pengin mengkoleksi buku-bukunya.

5. Maya: Misteri Dunia dan Cinta by Jostein Gaarder

Jostein Gaarder adalah salah satu dari “10 Literary Gods” saya. Dia adalah seorang guru filsafat yang sering memasukkan unsur filsafat dalam novel-novel yang ditulisnya. Dia booming lewat karyanya Dunia Sophie, satu novel tentang filsafat yang pertama saya baca dan membuat saya tertarik dunia filsafat. Setelah itu saya terus mengkoleksi novel-novelnya (yang sudah jarang sekarang ini). Dengan Maya berhasil di dapat, berarti incaran saya tinggal satu: Misteri Soliter! why that one book is so hard to find!

6. The Good Thief by Hannah Tinti

Sebenarnya beli ini karena diprotes teman soal buku-buku yang saya beli kayaknya berat semua, belilah yang ringan sedikit! Jadinya, setelah browsing tempat diskon (diskon is the must) dan menyisihkan berpuluh-puluh novel teenlit (yang oh-so-cliche), fantasi (bosen!), metropop (well, sama aja kayak teenlit beda umur), novel korea-koreaan (plis, kalian penulis Indonesia buatlah novel tentang Indonesia, jangan tentang negara lain!), pilihan jatuh ke novel ini. Novel ini katanya berkisah tentang seorang anak yatim piatu yang berusaha mencari kasih sayang keluarga. Well, there are worthy books one in a million of trash literature, at least!

Well, itu semua buku-buku yang berhasil saya sikat. Worth it, no? Rencananya bakal saya baca selama liburan semester. Apa yang sedang kalian baca sekarang?

Happy reading all!

Dengan kaitkata ,

Lucunya….

“Lucunya, saat kita menjadi mahasiswa Psikologi kita yang berbeda bisa duduk bersama tanpa saling melukai.”

Itu katanya di suatu siang sehabis membiarkan piring-piring makan siang kami kosong, masuk ke dalam perut bersamaan dengan hasil diskusi ringan yang masuk ke kepala. Bukan hal muluk seperti perang atau korupsi. Kami hanya berbeda prinsip esensial. Dia adalah kaum kolektifis yang menolak dibilang komunis, sementara aku adalah kaum sekular melenceng yang kaki dipasak oleh budaya timur sementara kepala diulur sampai ke barat. Hal yang kami bicarakan pun bukan masalah paham mana yang lebih benar. Kami duduk dan mengkaji. Dengan tawa. Kadang dengan tangis. Tapi tak pernah dengan kemarahan.

Kenapa, ya? tanyanya kemudian. Apa karena kita anak Psikologi?

Aku mengangkat bahu. Jadi mahasiswa Psikologi itu hanya variabel moderator. Variabel independennya mungkin karena kita memang tak suka bertengkar hanya karena masalah prinsipil yang jelas kemutlakannya melebihi nisbi. Plek begitu. Susah diutak-atik kecuali ada kiamat atau ada Nabi yang bangun lagi (yang berarti kiamat juga). Jadi buat apa panas mengenai hal yang mengakar. Radikal. Sebenarnya beda pendapat itu hanya butuh “Oooh” dan lalu diskusi bisa lanjut maju. Tidak perlu berhenti dan mencari siapa yang benar dulu. Toh pada akarnya, semuanya benar, tergantung akarnya siapa.

Tapi memang lucu, ketika yang berbeda bisa duduk bersama tanpa saling melukai. Satu “Oooh” dan kembali maju. Senjata dan kemarahan duduk manis di gudang. Berdebu.

Dengan kaitkata , ,