Category Archives: (mean to be) Article

Menguasai Pengetahuan Dunia dengan 150 Buku: Sebuah Apresiasi Bagi Sang Pendeta

Saat ini saya tengah membaca buku novel klasik The Count of Monte Cristo karangan Alexandre Dumas. Baru membaca sekitar 10%, saya tertarik – kalau bukan jatuh cinta setengah mati – dengan salah satu tokohnya yang bernama Abbe Faria.

Abbe Faria ini adalah seorang pendeta yang dipenjara di Chateau de If, sebuah penjara pulau, atas tuduhan yang sampai akhir hayatnya tetap tak ia ketahui. Ia dianggap gila karena setiap tahun berusaha menyogok sipir penjara dengan harta karunnya, dan setiap tahun bertambah ia juga akan menambahkan bagian harta karunnya ke dalam negosiasi. Atas alasan gila inilah akhirnya ia dipenjarakan di ruang bawah tanah, tempat dimana akhirnya ia bertemu Edmond Dantes, sang tokoh utama.

Pertemuannya dengan Edmond bermula saat ia salah perhitungan dalam menggali jalan keluar dari selnya. Alih-alih menggali ke luar sel, ia malah menggali ke arah ruang tahanan Edmond yang juga ada di bawah tanah. Dari situ mereka berkenalan, dan karena Abbe Faria menyerah dalam kegagalannya, maka ia memutuskan untuk berteman saja dengan Edmond dan melupakan keinginannya untuk kabur dari Chateau de If.

Setelah beberapa kali berkorespondensi tanpa bertatap muka (hanya lewat suara), Abbe Faria akhirnya mengunjungi Edmond, dan membiarkan Edmond berkunjung ke selnya. Di sana Edmond kagum mengetahui bahwa selama Faria disekap, ia masih dapat menulis dan mengembangkan pengetahuannya. Pulpennya terbuat dari batangan besi yang diruncingkan dan tintanya dibuat dari abu perapian dan lemak. Ia menulis bukunya di kain baju penjaranya yang telah usang dan ia sobek menjadi beberapa bagian. Semua fasilitas yang tidak bisa didapatkan para penghuni penjara yang lain bisa ia dapatkan dengan cara mempunyai pengetahuan yang cukup untuk membuatnya sendiri.

Edmond yang terkagum-kagum dengan semua hal ini, akhirnya menanyakan rahasia dari semua ilmu yang dimiliki oleh pendeta itu, bagaimana caranya ia bisa mengetahui hampir semua hal yang berguna dalam menghidupi dirinya sendiri di kala krisis seperti penjara bawah tanah yang gelap. Jawaban Abbe sederhana:

I had nearly five thousand volumes in my library at Rome, but after reading them over many times, I found out that with one hundred and fifty well-chosen books a man possesses, if not a complete summary of all human knowledge, at least all that a man need really know.

Ya. 150 buku yang dipilih dengan baik akan dapat membantu kita setidaknya memahami pengetahuan peradaban manusia, itulah yang dikatakan oleh Abbe Faria. Dengan 150 buku yang dipilihnya dengan baik, selama bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya untuk menghapalkannya, dan lihatlah apa yang bisa diperbuatnya dengan 150 buku tersebut di saat ia sedang berada pada masa krisis. Dari buku-buku itu ia mengetahui sejarah, membuat benda-benda, mengetahui kondisi tubuhnya berdasarkan gejala-gejala biologisnya, bahkan membuat obat untuk menyembuhkan dirinya sendiri! Sebuah pengharapan baru yang sangat luar biasa! 150 buku yang dipilih dengan baik, dan kita akan dapat mengetahui setidaknya segalanya yang kita butuhkan.

Tentu bukan hanya pengetahuannya saja yang membantunya bertahan selama empat tahun sebelum bertemu Dantes, kreativitasnya yang hebat juga membantunya mengatasi stres dan depresi yang biasanya hinggap dari minimnya aktivitas seorang tahanan. Ia bisa memikirkan jalan keluar agar ia bisa menulis, yang tentu saja, merupakan salah satu cara untuk menghindari stres karena ketidakmampuan mengeluarkan energi ide. Ketidakmampuan seseorang untuk menyampaikan pemikiran dan gagasan adalah sumber depresi utama manusia, karena manusia mampu bertahan untuk kehilangan apa pun namun tidak dengan kebebasan untuk mengungkapkan pemikiran. Abbe Faria dengan briliannya dapat mengatasinya.

Ia juga adalah orang yang menghargai filsafat di atas segala ilmu. Seperti yang diajarkannya pada Edmond:

Philosophy cannot be taught; it is the application of the sciences to truth; it is like the golden cloud in which the Messiah went up into heaven.

Ia menekankan bahwa filsafat adalah inti dari segala ilmu. Ia mengatakan pada Edmond bahwa dia bisa menguasai semua ilmu yang dimilikinya hanya dalam waktu dua tahun, selama Edmond dapat mengerti inti dan filosofi dari semua ilmu yang diajarkannya. Lagi-lagi, sebuah paradigma yang menimbulkan pengharapan baru. Yang penting dari semua ilmu pengetahuan adalah filosofinya, bukan apakah kita dapat menghafal semua teorinya dalam kepala kita.

Sayangnya, keberadaan tokoh Abbe Faria seakan dianggap kecil oleh sebagian besar orang yang membaca The Count of Monte Cristo – dan juga bagi produser-produser film yang mengadaptasi cerita tersebut. Saya tidak dapat menemukan sosoknya baik di (review) movie The Count of Monte Cristo dan Gankutsuou (adaptasi animasi). Padahal sebenarnya tokoh sang Abbe adalah tokoh kunci yang membuat Edmond menjadi The Count yang kita baca sepanjang 2/3 buku kemudian. Ialah yang mengajari Edmond banyak bahasa dan ilmu pengetahuan selama 14 tahun mereka berkorespondensi di Chateau de If. Ialah yang membuat sosok Monte Cristo begitu mengagumkan dengan kalimat-kalimat paradoks dan filsafat yang sering diucapkannya kemudian. Dan yang paling utama, ialah yang telah memberi tahu Edmond mengenai harta karun di pulau Monte Cristo, yang tentu saja membuat Edmond berubah menjadi seorang Count.

Walaupun bagi banyak orang peran Abbe Faria hanyalah peran kecil sebagai tutor Edmond Dantes yang eksis selama kurang-lebih 50 halaman (dari total kisah yang mencapai lebih dari 800 halaman bagi edisi Wordsworth Classics milik saya), bagi saya kehadiran Abbe Faria adalah sebagai sumber inspirasi utama; juga bagi Edmond Dantes dan kisah ini. Kehadirannya dan ucapan-ucapan filosofinya membuat saya terinspirasi untuk rajin membaca dan terus meningkatkan pengetahuan.

Karena, ya, Abbe Faria memberi saya pengharapan baru bahwa dunia yang luas ini bisa kita rengkuh jika kita dapat memilih setidaknya 150 buku yang tepat.

 

Dengan kaitkata ,

Si Kancil Penyebab Korupsi?

Picture by Loveshugah on DevianArt

“Dongeng menunjukkan budaya bangsa.”

–Eko Meinarno, dosen Psikologi Antropologi Universitas Indonesia

Waktu kecil saya suka didongengi sebelum tidur. Mama biasanya membacakan saya sebuah cerita yang saya pilih dari kumpulan naskah dongeng yang saya miliki. Tapi kakek saya berbeda. Alih-alih membacakan saya sebuah dongeng dari buku dongeng saya, beliau selalu menceritakan dongeng-dongeng lokal seperti Bawang Merah, Bawang Putih, atau dongeng favoritnya, Si Kancil.

Ada banyak versi cerita Si Kancil, dengan teman-teman yang berbeda. Saya dulu paling suka versi Si Kancil dan Si Siput, karena Kakek selalu mengajak saya ikut memanggil si siput pada saat beliau menceritakan tentang si kancil yang berusaha mengecek posisi siput dalam lomba lari. “Koooooooll…. Kuk!”* begitu kami selalu berseru bersama.

Tapi dari semua cerita Si Kancil, saya selalu bingung kenapa si kancil selalu jadi tokoh yang suka mengakali hewan-hewan lain untuk mendapatkan keinginannya. “Mbah, kenapa Kancil selalu nipu temen-temennya?” itu pertanyaan saya waktu kecil dulu. Jawaban kakek saya, “Karena Kancil itu cerdik tapi nakal. Dia pakai kecerdikannya untuk berbuat yang nggak baik.” Dan sejak saat itu saya memutuskan kalau Kancil itu adalah pemeran utama yang antagonis. (Protagonis yang antagonis, hmm…)

Anehnya, waktu saya mulai bersekolah, teman-teman saya jarang ada yang menganggap Kancil itu antagonis, alias tokoh yang seharusnya dibenci. Mereka suka-suka saja pada tokoh Kancil, dan memujanya sebagai “Kancil pintar”. Waktu itu saya mulai berkompromi. Oke, Kancil memang pintar tapi dia itu pintar antagonis.

Lalu semester kemarin, saya mendapatkan sebuah pengetahuan mengejutkan mengenai Si Kancil saat saya sedang mengikuti kuliah Individu, Kebudayaan, dan Masyarakat (Inkemas) tentang Psikologi Antropologi. Dalam kuliah tersebut, Mas Eko, dosen saya, menceritakan tentang hubungan dongeng dengan mental budaya sebuah bangsa.

David McClelland, seorang psikolog sosial, meneliti tentang hubungan dongeng dengan perkembangan suatu bangsa yang dirangkum dalam artikel ilmiah “The Need For Achievement“. Menurutnya, negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik adalah negara-negara yang dalam dongengnya tersirat n-Ach (need for achievement) yang tinggi. Ia mengambil contoh Eropa dan Spanyol. Dongeng-dongeng Eropa rata-rata memiliki plot yang sarat motivasi tinggi, sementara dongeng Spanyol rata-rata berisi kenyamanan yang membuat anak-anak terlelap dalam tidur. Dan bisa dilihat, saat Spanyol mulai merasa puas dengan daerah jajahannya, Eropa mulai perlahan-lahan mengambil alih jajahan Spanyol. Spanyol pun akhirnya semakin terpuruk sementara Eropa kian menanjak.

Jika ditinjau dari sisi Asia, ada Jepang dan China yang kini maju. Jika kita melihat dongeng-dongeng kedua negara tersebut, memang sarat dengan usaha keras dan keinginan untuk berhasil. Momotaro, misalnya, yang pergi menuju pulau penuh iblis untuk menghabisi mereka agar desanya dapat hidup terbebas dari teror. Dari cerita ini dapat dilihat keinginan Momotaro untuk mendapatkan keamanan desa dari serangan iblis.

Berangkat dari penelitian tersebut, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Ismail Marahimin, membuat penelitian yang sama. Beliau memberikan dua buah cerita pada seratus pekerja Indonesia dari berbagai kalangan, dari pegawai negeri sampai pengusaha. Salah satu cerita adalah Si Kancil (versi Mencuri Ketimun), sementara yang satunya adalah sebuah dongeng lokal lain yang menceritakan tentang kegigihan usaha seseorang dalam mencapai sesuatu (saya lupa cerita satunya dan Google sama tidak tahunya dengan saya). Secara mengejutkan, saat diperintahkan untuk memilih salah satu cerita, sebagian besar orang memilih cerita Si Kancil. Alasan mereka bermacam-macam tapi mereka sepakat bahwa dongeng Si Kancil lebih bagus daripada dongeng satunya.

Hal ini membuat Ismail Marahimin mengungkapkan kekhawatiran tentang pengaruh cerita Si Kancil pada budaya korupsi di Indonesia, karena seperti yang kita tahu, Kancil digambarkan sebagai tokoh yang sangat cerdik dan gemar menipu kawan-kawannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Pemilihan sebagian besar pekerja Indonesia terhadap Si Kancil menunjukkan bahwa alam bawah sadar mereka menyetujui dan menginginkan sifat Kancil. Menurut mereka akan lebih mudah dan lebih cepat untuk mendapatkan sesuatu dengan cara memperdaya orang lain dengan kecerdikan daripada berusaha dengan tenaga sendiri. Bukankah hal itu juga yang mendasari tindak korupsi di Indonesia? Karena para pekerja tersebut menginginkan cara tercepat dan termudah untuk mendapatkan kekayaan?

Nampaknya penelitian tersebut cukup membuat resah, karena Dr. Sofyan Djalil, MA. MALD, menteri BUMN RI periode 2004-2009 segera menekankan tentang pentingnya reformasi dongeng anak Indonesia dan agar para orangtua berhenti membacakan dongen Si Kancil Mencuri Ketimun.

“Harus ada reformasi dongeng anak Indonesia, karena dongeng bisa membentuk karakter anak. SUDAH SAATNYA ORANGTUA INDONESIA BERHENTI MENDONGENG TENTANG KANCIL MENCURI KETIMUN!”

–Dr. Sofyan Djalil, MA. MALD – menteri BUMN RI 2004-2009

Menanggapi hal tersebut, pada bulan Mei 2009, terbitlah seri dongen Si Kancil terbaru karangan Tedi Siswoko. Buku pertamanya untuk seri Si Kancil terbit dengan judul Kancil (Bukan) Si Pencuri Ketimun. Dalam buku dongeng ini dikisahkan Si Kancil bukanlah pencuri ketimun dan ia mendapatkan ketimun dari Pak Tani dengan cara yang sopan. Si Kancil tetaplah binatang yang cerdik, namun dalam seri ini ia menggunakan kecerdikannya bukan untuk menipu kawan-kawannya, tapi untuk membantu mereka. Dalam blog pribadi penulis, ia berharap dengan reformasi dongeng ini dapat dibentuk anak-anak yang lebih baik untuk masa depan bangsa yang lebih gemilang.

Saya sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan banyak orang begitu menyukai Si Kancil, karena saya sejak dulu memutuskan bahwa Si Kancil itu tidak baik. Menurut saya, pada awalnya dongeng Si Kancil Mencuri Ketimun diceritakan untuk memberi pesan bahwa kecerdasan tidak seharusnya digunakan untuk cara-cara yang tidak baik seperti mencuri atau menipu. Setiap kali kakek saya selesai bercerita tentang Kancil, beliau selalu memberi wejangan agar saya tidak seperti Kancil, karena jika saya menggunakan kecerdasan saya seperti Kancil, suatu saat saya akan menerima ganjarannya.

Mungkin yang salah dari penceritaan dongeng Si Kancil adalah karena setelah dongeng berakhir, nasihat seperti yang kakek saya berikan tidak diberikan oleh orangtua lain, sehingga anak-anak mereka memutuskan bahwa Kancil itu binatang yang cerdik dan lucu, dan cerdik serta lucu itu hal baik yang patut dicontoh bukan? Yang terlewat di sini adalah fakta bahwa Kancil menggunakan kecerdikan dan kelucuannya untuk menipu dan membodohi binatang lain di sekitarnya. Sayangnya, sebenarnya tindak penipuan dan pembodohan tersebut yang menjadi inti kisah Si Kancil namun entah bagaimana orangtua mengabaikan pesan tersebut dan menutupinya dengan fakta bahwa tingkah Kancil dalam memperdaya teman-temannya sangat mengundang tawa–jujur, saya pun selalu tertawa saat Kancil mengatakan sesuatu yang cerdas.

Kehadiran seri terbaru kancil bagi saya oke-oke saja, karena memang lebih baik tokoh protagonis itu digambarkan sebagai orang baik daripada orang jahat toh? Agak risih bagi kita menerima kenyataan bahwa tokoh sentral dalam sebuah cerita sebenarnya tidak baik dan patut dibenci, walau kenyataannya kini cara penceritaan seperti itu mulai banyak dipakai. Tapi untuk anak-anak yang masih memerlukan bimbingan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang tidak, sifat jahat pada tokoh utama tidak dianjurkan, karena bisa menimbulkan kebingungan yang bisa mengakibatkan miskonsepsi dalam pikiran anak-anak (mis. “Kancil adalah tokoh utama dalam dongeng Si Kancil, karena itu Kancil sifatnya harus ditiru”). Kalaupun orangtua tetap berniat menceritakan dongeng Si Kancil sebagaimana aslinya (mencuri ketimun), yang perlu diperhatikan adalah agar mereka tidak melupakan kalimat penutup dalam sesi dongeng mereka bahwa sifat Kancil yang menggunakan kecerdikannya untuk membodohi orang itu tidak sepantasnya ditiru.

 

Catatan:

*teriakan “Kooooll… Kuk!” pada kisah Si Kancil dan Si Siput itu berarti Kancil sedang memanggil Siput “Kooooll!” (bahasa Jawa siput adalah kol, atau kul, saya tidak tahu bagaimana tulisannya) dan Siput menjawab panggilan Kancil dengan bahasa siput “Kuk!” untuk membiarkan Kancil tahu di mana posisinya.

Dengan kaitkata ,