Category Archives: Uncategorized

Dulu saya….

Dulu saya bermimpi, lalu hanya bermimpi

lalu saya meremehkan mimpi, dan tenggelam dalam euforia

sekarang saya mengerti mimpi, kemudian ingin membawanya

saatnya bangun dari mimpi!

Iklan
Dengan kaitkata ,

Jadi Milikku, Mau?

Ia tidak tahu apa yang membuatnya tertarik pada sosok itu. Tebakannya, hal itu disebabkan oleh sebuah barisan nama yang menghadirkan lebih dari satu eksistensi. Gilang Angkasa.

gilang angkasa adalah namanya.

Gilang Angkasa adalah nama sosok itu.

Meskipun label eksistensi mereka seperti cermin—memantulkan takdir satu dan yang lainnya dengan sama persis—namun esensi mereka jauh berbeda. Ia adalah gumpalan tanah yang berubah menjadi daging; sama, biasa, dan mengabu di antara ribuan pelangi-pelangi jenius, sementara sosok itu adalah cahaya yang dengan rendah hati menutupi kilaunya dari mata para tanah; luar biasa, multitalenta, dan satu diantara sejuta.

Sosok itu selalu berada di pojok kelas dekat jendela, duduk sendiri dan mengacuhkan segala rasa kagum dan iri yang melingkupi sekitarnya. Ia melingkupinya dengan keduanya. Menjadi sepertinya adalah mimpinya. Bisa dipandang olehnya adalah karunia.

Karena itu, ketika sosok itu—Gilang dengan G besar, karena menurutnya dia sama mahaagungnya seperti G dalam God—mendatanginya dan memintanya untuk menjadi miliknya—ia, sang tanah yang mengabu—siapa yang akan menolak? Bukan gilang, tentu saja.

Maka gilang mengiyakannya.

Keesokan harinya, anak-anak kelas XI IPA 1 menatap heran pada sosok Gilang Angkasa. Ia yang dulu pemalu, tidak mencolok, dan serba biasa kini berubah menjadi begitu mempesona—hanya dalam rentang 24 jam, bagaimana mungkin?

Gilang Angkasa, guru mengabsen. Gilang mengangkat tangannya tinggi dan tersenyum mempesona. Kagum dan iri melingkupi presensinya. Kemana perginya Gilang yang dulu selalu mengangkat tangannya ragu? Dari mana datangnya Gilang yang sangat mempesona dan multitalenta ini? Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?

Ketika selama seminggu penuh Gilang Angkasa tetap menjadi Gilang Angkasa Yang Mempesona—yang ternyata bukan lelucon April tanggal satu yang datang pada bulan Desember—semua anak di kelas, dan seantero sekolah, mulai berusaha menebak-nebak alasan perubahan drastis Gilang Angkasa.

Mungkin dia digantikan oleh doppleganger atau semacamnya, komentar salah satu murid di kelas, terkekeh penuh humor. Gilang menolehnya, mengetahui namanya Andri Pratama.

Yang benar saja, ah. Gilang kan cuma ada satu di kelas ini, tawa satu siswa lain. Lagipula, terusnya, doppleganger itu kan tidak nyata.

Nama anak itu Rio Saputra. Gilang tersenyum kepadanya.

Tiga hari kemudian, sifat dan perilaku Rio Saputra berubah 180 derajat, membuat teman-temannya keheranan—karena, hanya dalam jangka 24 jam, bagaimana bisa?

Tiga hari kemudian, tak ada yang pernah mengingat kehadiran Gilang Angkasa. Tidak juga buku absen kelas.

Jadi milikku, mau?

END

.

.

Posted for #15HariNgeblogFF at Twitter.

Demotivasi

Demotivasi untuk menulis. Jatuh ke level basement. Will do something ’bout it, though. I just, ugh!

Dengan kaitkata , , ,