Mendobrak, atau Membelok?

Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita hanya untuk kembali menjadi diri kita sendiri – Dee

Menjadi ideal itu sulit. Dalam lingkungan sosial ini ada terlalu banyak dinding yang siap membentur kalau kita ingin mempertanyakan idealisme. Walaupun menurut kita jalan yang lurus itu lebih sesuai untuk kita, tapi jika labirin kehidupan sosial menginginkan kita untuk berbelok dan akan membenturkan muka kita pada dinding tebal jika kita ngotot, maka apa yang harus dilakukan?

Ada orang yang berusaha mendobrak. Ada pula yang ikut berbelok sejenak sambil berusaha mencari celah untuk kembali ke jalan yang diyakini.

Ada pula orang yang berusaha memutar, lalu lupa di mana dia harus mencari jalan keluar dan akhirnya kembali masuk dengan nyaman ke dalam labirin.

Mungkin hidup akan lebih nyaman jika kita hanya perlu mengikuti arus seperti kerumunan sarden. Ikuti saja ke mana yang di depan menuntunmu dan ke mana yang di belakang mendorongmu. Berada dalam arus membuatmu selamat dari dimangsa hiu. Walau mungkin, belum tentu dari jaring manusia yang terlalu lebar itu. Lalu saat kau akhirnya terjaring juga, toh ada lingkungan sosial yang bisa disalahkan. Terutama saat kau berakhir di dalam kaleng alumunium penuh tomat dan cabai.

Saya sendiri, belakangan ini selalu punya hasrat untuk mendobrak. Beberapa bulan terakhir ini saya terlalu marah. Dendam saya kembali. Saya ingin mendobrak.

Saya ingin bicara dengan lantang bahwa saya tidak ingin menikah, ingin mengklaim diri sebagai aseksual, dan ingin bilang bahwa saya Islam hanya demi Tuhan saya, bukan demi masyarakat Islam lainnya. Saya ingin bicara bahwa selain kepada Tuhan saya, saya tak mengenal agama, bahwa di mata saya semua manusia itu sama. Manusia. Bukan produk penarikan garis khayal yang belum tentu lurus dan keangkuhan diri atas tarikan garis siapa yang lebih benar. Saya ingin bicara bahwa seks dan pernikahan tidak selamanya harus bersama, karena tanpa tanggung jawab bahkan seks dan pernikahan bisa saling membantai dengan keji. Saya ingin bicara bahwa mencintai adalah perkara pribadi dan personal, bukan sosial, pun demikian dengan tidak mencintai.

Saya ingin mendobrak. Karena saya lelah menyusuri arus labirin seraya terus awas mencari celah. Karena saya takut terlupa hingga kembali masuk kembali ke tengah labirin. Saya ingin menciptakan ruang. Pribadi. Teritori kebal norma di mana keputusan saya adalah keputusan saya. Pribadi.

Karena jika tidak, mungkin saya akan terseret kembali ke tengah dan tak pernah bisa kembali.

Iklan
Dengan kaitkata ,

Now I’m Paranoid and Anti-social?

Mencoba tes online tentang personality disorder di sebuah web, dan ini hasilnya:

Personality Disorder Test Results

Paranoid |||||||||||||||||| 74%
Schizoid |||||||||||||||| 62%
Schizotypal |||||||||||| 50%
Antisocial |||||||||||||| 58%
Borderline |||||||||||| 46%
Histrionic || 10%
Narcissistic |||||||||| 34%
Avoidant |||||||||||| 50%
Dependent || 10%
Obsessive-Compulsive |||||||||||| 42%

Take Free Personality Disorder Test
Personality Test by SimilarMinds.com

Jadi ingat obrolan semester lalu sama seorang teman. Saya sudah menyelesaikan kuliah Psikologi Abnormal semasa SP, dan teman saya mengikutinya di semester reguler. Waktu itu kami sedang membahas mengenai personality disorder juga, dan percakapan kami kira-kira berlangsung seperti ini:

Teman : Yuu, akhirnya gue tau lo ini disorder apa.

Saya : *nyengir* Oh ya? Apa? Schizotipal?

Teman : Bukan. Lo ini Anti-social.

Saya : *bengong sejenak* Anti-social? Bukannya itu disorder yang suka berontak ngelawan peraturan atau hukum itu, kan? Memang gue– *nunjuk diri sendiri*

Teman : Iya, kan, lo juga suka berontak. Walau cuma dalam pemikiran.

Saya : *mikir* Iya juga, ya. * kemudian ngakak*

Yah… bisa dilihat, saudara-saudara, kecenderungan anti-social saya di tabel itu. Ternyata tebakan teman saya somehow benar. But this test is a good laugh, tho.

Dengan kaitkata

Headset

Belakangan ini saya punya hobi baru: menyumpal telinga dengan headset, meskipun tidak ada lagu yang saya dengarkan, kadang bahkan jack-nya tidak tertancap ke laptop atau hape. Saya menyukai sensasinya, saat ada sesuatu yang menutup telinga saya, menjauhkan saya dari dunia paling tidak setebal earphone.

Kenapa headset? Entahlah. Ya itu tadi, saya cuma suka sensasi saat telinga saya tersumbat sesuatu. Mungkin saya sedang membentengi diri. Mungkin karena jika pakai headset saya bisa dikira tidak mendengarkan hal-hal yang memang tidak ingin saya dengar. Mungkin karena jika pakai headset saya bisa memilih kapan saya mau mendengar, kemudian melepas headset untuk menanggapi, dan kapan saya tidak ingin mendengar, lalu memutar musik dengan volume penuh hingga tak ada suara lain yang saya dengar kecuali lagu.

Mungkin saya cuma mau satu kebebasan kecil itu saja: menentukan apa yang ingin didengar dan apa yang tidak ingin didengar. Karena sekarang ini bahkan kebebasan sekecil itu sudah sulit untuk didapatkan tanpa perlu merasa melanggar society.

Selanjutnya apa? Tutup mata?

Dengan kaitkata

Dark Paradise – Lana Del Rey

Today’s mood is representated fully by this song.

Dengan kaitkata , ,

Titik Awal (Lagi?)

“Bagaimanakah permulaan dari permulaan kalau bukan pendidikan dan pengajaran?” – Jejak Langkah, Pramoedya Ananta Toer

Bukan menjadi Ksatria Baja Hitam atau Sailor Moon. Yang dua itu, dan juga beberapa lainnya, berubah (atau memisahkan) identitas mereka. Saya tidak.

Tapi, ya, saya mengubah banyak hal dari blog ini. Yang paling esensial, saya mengubah alamat blog ini dari skeptipig.wordpress.com menjadi yuusasih.wordpress.com. Alasan perubahannya? Sebenarnya hanya karena saya ingin hari ini menjadi satu titik dimana saya ingin lebih giat menulis, baik secara profesional maupun amatir, dan Yuu Sasih adalah nama saya dalam bidang penulisan.

Mungkin jarang ada yang mengetahui–bahkan di lingkungan terdekat saya sendiri–bahwa sebenarnya saya sudah pernah punya buku yang terbit secara keroyokan. Ya, buku kumpulan cerpen. Cerpen saya masuk di antaranya.

Kumcer Cinta Pertama I
click to buy

Kumpulan cerpen Cinta Pertama Jilid I yang diterbitkan oleh penerbit SahabatKata. Cerpen saya berjudul Homerun, atas nama Yuu Sasih. Cerpen tersebut saya ikutkan ke lomba yang dibuat oleh penerbit dan kemudian terpilih menjadi salah satu naskah yang dibukukan. Masuknya cerpen saya ke antologi pada waktu itu saya tetapkan sebagai sebuah titik di mana saya akhirnya benar-benar menetapkan hati untuk menjadi seorang penulis.

Lalu kenapa jarang ada yang tahu?

Lebih karena saya sendiri masih merasakan banyak sekali hal yang kurang pada cerpen saya yang ada dalam antologi ini. Malu rasanya kalau ada orang yang rela membeli buku ini lalu merasa kecewa. Dan ditunjukkan sekarang pun lebih karena sebagai pengantar penjelasan mengapa saya mengubah alamat blog. hehehehe.

Jadi, ya, alasan kenapa saya menggunakan nama Yuu Sasih adalah karena sejak pertama karya saya terbit dalam bentuk cetak, nama itulah yang saya gunakan. Perubahan alamat blog menggunakan nama Yuu Sasih menjadi semacam pengumuman bahwa saya akan terus menulis dan menyebarkan tulisan saya. Terutama juga karena pada tahun ini, saya sedang berusaha untuk menyelesaikan satu novel kolaborasi bertema LGBT bersama teman saya. Satu lagi karya untuk masyarakat. Semoga.

Kedua, saya juga mengubah tema blognya. Kalau yang ini lebih ke arah preferensi pribadi yang sedang ingin nuansa putih-putih nan simpel. Temanya juga sengaja dipilih yang enak dilihat kalau diberi suatu bacaan.

Pertanyaan selanjutnya: kenapa berubah?

Jawabannya simpel. Belakangan ini saya melihat banyak sekali teman-teman saya berubah. Ada yang tulisannya menjadi semakin bagus, ada yang menang award ini dan itu, sementara, ah, lagi-lagi saya tetap stak di sini, terlindas kehidupan layaknya buruh waktu yang taat. Lalu belakangan ini saya juga tengah berusaha menyelesaikan novel Jejak Langkah, sebuah karya Pramoedya Ananta Toer yang, lagi-lagi, mampu menggelitik keinginan saya untuk menjadi penulis bukan sekedar penulis, tapi penulis yang memberikan sesuatu pada bangsanya. Ah, Pak Pram, terima kasih!

Jadi saya memutuskan jalan hidup saya yang baru, di semester dan tahun yang baru ini. Saya akan menjadi penulis yang menghantarkan makna. Makna bagi orang-orang di sekitar saya, dan mungkin juga masyarakat luas. Bukan hanya asal menulis.

Mimpi yang muluk? Ya, tentu saja. Mimpi memang harus muluk, toh?

Dengan kaitkata ,