Tag Archives: book

Books!

Ada campus bookfair di kampus saya kemarin dan tentunya nggak saya lewatkan kesempatan ini untuk memborong buku. Ada banyak penerbit-penerbit keren yang pasang stand, dan dengan buku-buku bagus serta diskon yang tak kalah keren pula. hehe. Alhasil, saya kemarin berhasil mendapatkan 6 buku hanya dengan budget 100rb. What a price! Ini dia buku-buku yang berhasil saya sikat.

16122012

1. Berbeda Tetapi Setara by Saparinah Sadli 

Profesor wanita satu ini adalah mantan dekan fakultas saya (Psikologi UI) dan pendiri Program Pascasarjana Kajian Perempuan dan Gender UI. Buku ini merangkum semua esai-esai mengenai kajian perempuan yang beliau tulis selama 20 tahun belakangan. Saya beli selain karena beliau adalah guru besar fakultas saya (uhuk) tapi juga karena setahun belakangan ini saya juga mulai tertarik dengan studi gender (dan mulai mengumpulkan buku-buku tentangnya).

2. Radikal Itu Menjual by Joseph Heath and Andrew Potter

Beli karena memang sudah lama cari buku ini. Begitu ketemu (dan ada diskon) tentu saja langsung sikat. Buku ini berisi tentang Budaya-Tanding, atau istilah yang lebih kita kenal mungkin adalah budaya nonmainstream atau indie (dalam musik). Buku ini dirating bagus oleh teman-teman saya di Goodreads, dan karena saya juga menyatakan bahwa saya adalah seorang yang non-konformitas, buku ini semacam jadi bacaan wajib yang sudah saya cari sejak tahun lalu. hehe.

3. Manusia Menjadi Tuhan by Erich Fromm

Erich Fromm adalah salah satu psikolog yang tergabung dalam aliran Psikoanalisa, aliran favorit saya, walau tokoh psikoanalisa favorit saya adalah Carl Jung dan Alfred Adler. Kemarin tanpa sengaja lihat bukunya dan saya impulsif beli. Maksudnya, buku terjemahan filsafat dan psikologi langsung dari tokohnya sendiri itu jarang, lho! Sejak dulu buku tokoh-tokoh filsafat dan psikologi yang saya suka (seperti Dante Alighieri, Sigmund Freud, David Hume, dll) semuanya saya baca dalam versi bahasa inggris, itu pun bukunya sudah menguning saking lawasnya. Jadi ada versi terjemahannya itu wajib banget di beli! Di dalam buku ini Fromm mengkaji agama dan konsep ketuhanan dengan sudut pandang psikologi. Nice book!

4. Derrida by Muhammad Al-Fayyadi

Ini juga buku yang sudah lama saya cari-cari. Pertama baca di perpustakaan fakultas, tertarik karena ada pengantar Goenawan Mohamad dan di esai-esai GM juga sering menyebut masalah Derrida. Begitu saya baca, ternyata pemikiran Derrida memang luar biasa. Dia terkenal dengan pandangan “dekonstruksialisme”, sebuah pandangan radikal terhadap penguraian definisi yang tersimpan dalam suatu teks. Sejak baca di perpus waktu itu, jadi tertarik dengan pandangannya dan pengin mengkoleksi buku-bukunya.

5. Maya: Misteri Dunia dan Cinta by Jostein Gaarder

Jostein Gaarder adalah salah satu dari “10 Literary Gods” saya. Dia adalah seorang guru filsafat yang sering memasukkan unsur filsafat dalam novel-novel yang ditulisnya. Dia booming lewat karyanya Dunia Sophie, satu novel tentang filsafat yang pertama saya baca dan membuat saya tertarik dunia filsafat. Setelah itu saya terus mengkoleksi novel-novelnya (yang sudah jarang sekarang ini). Dengan Maya berhasil di dapat, berarti incaran saya tinggal satu: Misteri Soliter! why that one book is so hard to find!

6. The Good Thief by Hannah Tinti

Sebenarnya beli ini karena diprotes teman soal buku-buku yang saya beli kayaknya berat semua, belilah yang ringan sedikit! Jadinya, setelah browsing tempat diskon (diskon is the must) dan menyisihkan berpuluh-puluh novel teenlit (yang oh-so-cliche), fantasi (bosen!), metropop (well, sama aja kayak teenlit beda umur), novel korea-koreaan (plis, kalian penulis Indonesia buatlah novel tentang Indonesia, jangan tentang negara lain!), pilihan jatuh ke novel ini. Novel ini katanya berkisah tentang seorang anak yatim piatu yang berusaha mencari kasih sayang keluarga. Well, there are worthy books one in a million of trash literature, at least!

Well, itu semua buku-buku yang berhasil saya sikat. Worth it, no? Rencananya bakal saya baca selama liburan semester. Apa yang sedang kalian baca sekarang?

Happy reading all!

Dengan kaitkata ,

Double Review: A Game of Thrones The Novel and TV Series

“When you play a game of thrones, you win…. or you die.” – Cersei Baratheon

Saat ini saya sedang rajin melalap buku seri A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin. Sekitar seminggu yang lalu saya baru menyelesaikan buku pertamanya, A Game of Thrones, sekaligus menonton tv series-nya. Dan karena bukunya sudah saya review secara lengkap di Goodreads, maka yang akan saya review di sini lebih mengarah ke tv seriesnya dan perbandingannya dengan versi novelnya.

TV series

Title : Game of Thrones

Broadcaster : HBO

Episodes : 10 episodes (season 1)

Genre : Fantasy, adventure

Rating : 18+

Creators : David Benioff, D. B. Weiss

Cast : Lena Headey, Jack Gleeson, Sean Bean

Score : 4 from 5 stars

The synopsis

Game of Thrones mengisahkan mengenai kerajaan Seven Kingdoms, sebuah kerajaan yang terbentuk dari persatuan tujuh kerajaan besar di dataran Westeros. Robert Baratheon adalah raja Seven Kingdoms saat ini, yang mendapatkan tahtanya dengan cara melakukan kudeta terhadap pemerintahan raja sebelumnya, The Mad King Aerys dari dinasti Targaryen. Suatu hari, tangan kanan Robert yang juga adalah ayah angkatnya, Jon Arryn, meninggal dunia secara mendadak. Merasa  tidak percaya pada orang-orang di dekatnya, Robert akhirnya memutuskan jauh-jauh pergi ke Winterfell, sebuah daerah di Utara yang selalu dingin meskipun tengah mengalami musim panas. Ia datang untuk meminta sahabat sejak kecilnya, Eddard Stark (atau juga sering mendapat julukan Ned), mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Jon Arryn.

Ned awalnya ingin menolak tanggung jawab tersebut, tapi kemudian istrinya, Catelyn, mendapatkan surat dari istri Jon Arryn, yang kebetulan adalah adiknya, yang mengatakan bahwa Jon tidak mati secara normal, melainkan dibunuh oleh keluarga Lannister, yang anak perempuannya merupakan istri dari Robert dan saudara kembarnya adalah komandan pasukan pribadi Robert. Karena merasa perlu untuk menyelidiki kebenaran berita ini, juga untuk melindungi sahabatnya, akhirnya Ned memutuskan untuk pergi ke King’s Landing, tempat pusat pemerintahan Seven Kingdoms berada.

Kewajiban ganda untuk menjadi tangan kanan raja dan menjaga Winterfell membuat Ned dan Catelyn membagi putra-putri mereka. Ned akan membawa Sansa, anak keduanya sekaligus putri tertua yang ingin Robert jodohkan dengan putra mahkota, Arya, si anak ketiga yang tomboy, dan Bran, anak keempat yang baru berusia 10 tahun (7 tahun di novel). Sementara untuk di Winterfell akan tinggal Robb, putra sulung yang memang adalah pewaris Winterfell, dan Rickon, putra bungsu yang masih terlalu kecil. Catelyn diputuskan untuk tetap berada di Winterfell untuk menjaga Rickon. Jon Snow, anak haram Ned yang dibesarkan di keluarga Stark, memutuskan untuk ikut pamannya, Benjen Stark, menjadi anggota Night’s Watch, sebuah kelompok yang menjaga The Wall dari serangan makhluk-makhluk liar di luar batas dinding.

Perencanaan telah dibuat dan segala kebutuhan telah disiapkan, sampai akhirnya terjadi suatu kecelakaan pada Bran yang menyebabkan anak itu lumpuh permanen dan tidak dapat mengikuti perjalanan ke King’s Landing. Ned semakin was-was setelah kecelakaan putranya, mencurigai kehadiran Lannister di balik kejadian yang menimpa putranya, dan akhirnya memutuskan untuk menyelidikinya di King’s Landing, menggunakan otoritasnya sebagai tangan kanan raja. Namun tanpa ia sadari, ia justru melibatkan dirinya dalam sebuah permainan konspirasi tahta yang kelak akan menciptakan perang besar antar tujuh keluarga besar Seven Kingdoms.

The review

Saya sama sekali tidak tahu harus lebih menyukai yang mana; versi novelnya atau tv serinya. Keduanya punya kelebihan masing-masing yang rasanya melengkapi satu sama lainnya. Versi novel mempunyai detil background universe yang lengkap–hingga terkadang terkesan bertele-tele–dan konflik serta misteri yang lebih kompleks, dengan tokoh yang jauh lebih banyak juga, tentunya. Versi tv seri mempunyai plot yang lebih cepat, namun kuat dalam segi hubungan antarkarakter, yang sedikit gagal ditunjukkan di novel selain hubungan karakter narator dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam segi plot, alur tv seri mengikuti dengan presisi alur novel hingga tidak menyulitkan penonton yang sudah terlebih dahulu membaca bukunya.

Hal yang saya suka dari versi tv seri, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, adalah hubungan antarkarakter non-narator. A Game of Thrones–dan keseluruhan seri A Song of Ice and Fire–dikisahkan dengan sudut pandang keroyokan. Total ada delapan narator yang mengisahkan A Game of Thrones saja (dan bertambah di buku keduanya, A Clash of Kings), yaitu: Bran, Eddard, Catelyn, Tyrion, Jon, Daenerys, Sansa, dan Arya. Hubungan emosional kedelapan orang ini berkembang dengan sangat baik di novel, bahkan kita bisa ikut merasakan perubahan-perubahan dalam sifat dan cara mereka mengambil keputusan. Namun ada karakter-karakter penting yang gagal ditunjukkan hubungannya oleh GRRM karena mereka tidak mendapat jatah sudut pandang. Salah satu contoh adalah hubungan Robert dengan istrinya, Cersei. Di novel hubungan mereka terlihat dingin-dingin saja, seakan mereka menikah hanya karena kewajiban. Namun di tv seri ditunjukkan bahwa Cersei setidaknya pernah mencintai Robert, beberapa tahun yang lalu. Juga ada hubungan Cersei dengan saudara kembarnya, Jamie Lannister. Di novel hubungan inses mereka tidak terlalu diperlihatkan emosinya dan cenderung hanya memfokuskan pada hubungan seksual yang ditangkap oleh karakter narator.

Satu hal lain yang juga saya suka dari versi tv seri adalah keputusan Benioff dan Weiss untuk menaikkan umur para karakter minimal 2 tahun dari usia asli mereka di novel. Dengan keputusan ini setting cerita jadi lebih masuk akal. Lagipula, siapa yang tega menikahkan anak usia 13 tahun (Dany) dengan pemimpin suku barbar atau menjodohkan gadis kecil usia 11 tahun (Sansa) dengan putra mahkota yang tak kalah mudanya, 12 tahun (Jeoffrey), atau membiarkan anak usia 7 tahun (Bran) melihat pemenggalan kepala pertamanya, atau membiarkan anak 14 tahun (Robb) menjadi penguasa Winterfell? Well, not me, that’s GRRM. Jadi ya, keputusan untuk menaikkan usia para karakter adalah keputusan yang tepat.

Namun demikian, versi novel juga memiliki keunggulan tersendiri. Ada banyak fakta mengenai latar belakang setting yang gagal diadaptasi ke versi tv seri, terutama mengenai masa lalu para karakter yang sebenarnya juga penting, seperti kematian Lyanna, adik Ned yang seharusnya menikahi Robert, kematian Brandon, kakak Ned yang seharusnya menikahi Catelyn, atau pergolakan tahta saat kekuasaan masih berada di tangan dinasti Targaryen. Semua itu tidak dibahas di tv seri walaupun justru sebenarnya fakta itulah yang menjadi dasar utama kejadian-kejadian di Game of Thrones.

Dan ironisnya, hubungan karakter narator dengan orang-orang di dekatnya justru gagal ditampilkan di tv seri. Di novel kita bisa tahu bagaimana perasaan dilematis Jon Snow terhadap keluarga Stark, terutama saudara-saudaranya yang selalu menganggapnya seakan saudara kandung, bagaimana ia selalu iri namun juga sangat menyayangi mereka. Tv seri juga gagal menangkap perkembangan beberapa karakter yang terlihat jelas di novel. Di serinya, Robb sejak awal sudah terlihat sebagai sosok paling tua yang mengayomi adik-adiknya dan komandan yang tegas di medan perang, padahal sebenarnya di novel ia mengalami perubahan drastis dari seorang pemuda 14 tahun yang ceria dan kurang percaya diri menjadi sosok Lord Winterfell yang sebenarnya, yang dingin dan berwibawa. Juga ada Sansa yang karakternya terlihat minim walaupun di novel ia memegang peran sebagai narator dan mengalami perkembangan karakter yang signifikan–bahkan lebih drastis daripada Robb.

Kritik saya terhadap kedua versi hanyalah kevulgaran yang terkadang sampai membuat saya sendiri malu. Di novel kata-kata yang menjelaskan masalah kekerasan dan seksualitas terkesan terlalu gamblang, dan di tv seri pun kedua hal tersebut sangat ditonjolkan, dan malah diperbanyak. Sayangnya, kenyataan bahwa potensi plot cerita yang bagus justru membuat banyak orang mundur karena adanya gore dan seksualitas yang berlebihan.

But anyway, di novel pertama ini saya menyukai tiga karakter:

1. Tyrion Lannister

Peter Dinklage as Tyrion Lannister

Si kerdil keluarga Lannister yang dianggap aib oleh keluarganya kecuali oleh saudaranya, Jaime, yang Tyrion anggap sebagai satu-satunya keluarga yang menyayanginya dan mendapat rasa sayangnya. Menjadi kerdil sama sekali bukan alasan untuk rendah diri bagi Tyrion, justru ia memotivasi dirinya untuk rajin membaca, karena menurutnya jika Cersei bisa menjadi ratu dan Jamie menjadi ksatria, maka yang bisa dilakukannya adalah menambah pengetahuan sebisa mungkin. Ia terkenal dengan sarkasme dan kemampuan negosiasi yang handal. Intinya, mulutnya adalah senjatanya. ^^;

2. Eddard ‘Ned’ Stark

Sean Bean as Lord Eddard Stark

Oke, sebagai tangan kanan raja, Ned memang…. well, cenderung tolol dan terlalu naif, tapi saya sangat mengagumi kebijaksanaannya sebagai ayah. Ia termasuk ayah yang mendukung apa pun minat putra-putrinya, jenis ayah yang sangat non-mainstream di dunia Westeros yang sangat ketat aturan. Ia tidak memaksa Arya yang tomboy untuk mempelajari teknik sulam ataupun menjahit agar bisa seperti Sansa yang feminin, ia justru memberi Arya guru berpedang. Ia juga selalu mengutamakan keluarganya, bahkan Jon Snow yang notabene adalah anak haramnya. Dan terlepas dari sikap naifnya dalam bertindak, Ned adalah satu-satunya orang di istana yang tidak buta–atau pura-pura buta–terhadap perebutan tahta di istana.

3. Robb Stark

Richard Madden as Robb Stark

Stark generasi kedua yang paling saya suka. Terlahir sebagai pewaris Winterfell tidak lantas membuat Robb menjadi anak yang angkuh. Ia ramah pada siapa pun yang tinggal di Winterfell, bahkan pada Theon Greyjoy dan Osha, yang merupakan tahanan keluarga Stark. Ia juga sangat akrab dengan saudara-saudaranya dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Jon Snow yang selalu ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri. Di novel perubahan Robb dari seorang pemuda menjadi sesosok pemimpin sangat jelas terlihat. Di awal ia diceritakan suka berbuat usil bersama Jon untuk mengerjai adik-adik mereka, namun begitu keluarga Stark terpecah-belah, ia segera beradaptasi dan belajar bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin keluarga–dan nantinya, sebagai raja.

Yak. Itulah ketiga karakter yang saya sukai di Game of Thrones….. tapi, duh, ternyata memang susah membatasi siapa saja yang harus disukai di kisah ini. Well, whatever.

Jon Snow

Kit Harrington as Jon Snow

Karakter Jon ini termasuk karakter yang mau tak mau saya sukai karena dia adalah salah satu narator cerita (dan aktornya ganteng), tapi sebenarnya tokoh Jon memang dilematis. Terlahir sebagai anak haram dari Ned Stark, Jon tidak diizinkan untuk menyandang marga Stark, karena itu ia memiliki marga Snow, marganya para anak haram di utara. Akrab dengan saudara-saudaranya yang murni Stark (kecuali Sansa) namun selalu salah tingkah karena tidak disukai Lady Catelyn, Jon Snow seolah bingung di mana tempatnya berada. Ia akhirnya memutuskan untuk mengabdi pada Night’s Watch, sebuah perkumpulan yang menjaga The Wall dari serbuan wildlings di balik dinding, walaupun setelah di sana ia tetap memikirkan saudara-saudara Stark-nya. Dekat dengan Robb yang sebaya dengannya membuat Jon sering memikirkan keadaan saudaranya yang satu itu, dan membuatnya secara impulsif memutuskan untuk pergi dari The Wall agar bisa membantu Robb di medan perang, suatu keputusan yang–jika berhasil–akan membahayakan nyawanya.

Arya Stark

Maisie Williams as Arya Stark

Arya adalah satu-satunya karakter wanita yang saya suka di kisah ini, dan memang, satu-satunya karakter wanita yang non-mainsteram di Game of Thrones. Walaupun terlahir di keluarga bangsawan, Arya selalu menolak belajar tata krama keputrian dan justru menyenangi bermain panah dan pedang bersama adiknya, Bran. Hobi maskulinnya ini seringkali membuat Arya mendapat masalah, terutama dengan Jeoffrey sang putra mahkota. Namun setelah Ned memperkenalkannya pada Syrio, guru ‘dansa’-nya, ia menjadi semakin mahir berpedang dan kemampuan itulah yang mampu menyelamatkannya saat keluarga Stark di King’s Landing berada dalam kondisi kritis.

The direwolves

Nymeria, Arya's direwolf

Satu hal yang saya lumayan sesali pada saat menonton tv seri Game of Thrones adalah minimnya kehadiran para direwolves yang menjaga anak-anak Stark–dan Jon Snow. Dikisahkan setelah Bran melihat pemenggalan kepala pertamanya, saat mereka dalam perjalanan kembali ke Winterfell, Robb menemukan mayat direwolf betina di dekat sungai (di tv seri yang menemukannya adalah Ned). Namun ternyata di sekitar mayat itu terdapat bayi-bayi serigala yang tengah menyusu pada mayat ibu mereka. Tadinya Ned ingin segera membunuh mereka sampai Jon mengingatkan bahwa direwolf adalah lambang keluarga Stark dan ternyata bayi direwolf tersebut berjumlah lima, tiga jantan dan dua betina, persis seperti jumlah putra-putri Stark. Atas desakan Robb, akhirnya para Stark memelihara direwolves tersebut (Jon memelihara direwolf albino yang ternyata terpisah dari saudara-saudaranya, persis seperti keberadaan dirinya dalam keluarga Stark). Robb menamai serigalanya Grey Wind, Sansa menamainya Lady, Arya memiliki Nymeria, Bran memberi nama serigalanya Summer setelah bangun dari komanya, Rickon menamai miliknya Shaggydog, dan Jon menamai serigala albinonya Ghost.

Dalam versi novel, peran para direwolves ini sangat penting dan kerap menyelamatkan nyawa para Stark, seperti Summer yang menyelamatkan Bran dari pembunuh gelap, Nymeria yang menyelamatkan Arya saat Pangeran Jeoffrey hendak melukainya, Ghost yang menyelamatkan Jon dari serangan White Walker, bahkan Grey Wind yang membantu Robb berperang melawan Lannister. Sayangnya, kehadiran mereka sangat jarang terekspos di tv seri, padahal saya rasa kehadiran mereka bisa menjadi ikon tersendiri bagi tv serinya–sebagaimana mereka menjadi ikon novelnya.

Yah…. pada akhirnya saya tetap tidak bisa memutuskan versi mana yang lebih saya sukai–mungkin saya memang menyukai keduanya. Yang jelas, novel dan tv seri Game of Thrones ini sangat saya rekomendasikan bagi para pencinta fantasi yang menginginkan plot dan konflik yang kompleks namun tetap memiliki unsur fantasi di dalamnya. Hanya saja, saya tidak menyarankan kisah ini bagi mereka yang belum berusia 18 tahun karena kadar kekerasan dan seksualitas di novel ini yang, well, ada kalanya saya sendiri (yang sudah berusia 20+) merasa jengah. So kids, never touch this book before you reach your legal age.

And last but not least, winter is coming.

Dengan kaitkata , ,

Menguasai Pengetahuan Dunia dengan 150 Buku: Sebuah Apresiasi Bagi Sang Pendeta

Saat ini saya tengah membaca buku novel klasik The Count of Monte Cristo karangan Alexandre Dumas. Baru membaca sekitar 10%, saya tertarik – kalau bukan jatuh cinta setengah mati – dengan salah satu tokohnya yang bernama Abbe Faria.

Abbe Faria ini adalah seorang pendeta yang dipenjara di Chateau de If, sebuah penjara pulau, atas tuduhan yang sampai akhir hayatnya tetap tak ia ketahui. Ia dianggap gila karena setiap tahun berusaha menyogok sipir penjara dengan harta karunnya, dan setiap tahun bertambah ia juga akan menambahkan bagian harta karunnya ke dalam negosiasi. Atas alasan gila inilah akhirnya ia dipenjarakan di ruang bawah tanah, tempat dimana akhirnya ia bertemu Edmond Dantes, sang tokoh utama.

Pertemuannya dengan Edmond bermula saat ia salah perhitungan dalam menggali jalan keluar dari selnya. Alih-alih menggali ke luar sel, ia malah menggali ke arah ruang tahanan Edmond yang juga ada di bawah tanah. Dari situ mereka berkenalan, dan karena Abbe Faria menyerah dalam kegagalannya, maka ia memutuskan untuk berteman saja dengan Edmond dan melupakan keinginannya untuk kabur dari Chateau de If.

Setelah beberapa kali berkorespondensi tanpa bertatap muka (hanya lewat suara), Abbe Faria akhirnya mengunjungi Edmond, dan membiarkan Edmond berkunjung ke selnya. Di sana Edmond kagum mengetahui bahwa selama Faria disekap, ia masih dapat menulis dan mengembangkan pengetahuannya. Pulpennya terbuat dari batangan besi yang diruncingkan dan tintanya dibuat dari abu perapian dan lemak. Ia menulis bukunya di kain baju penjaranya yang telah usang dan ia sobek menjadi beberapa bagian. Semua fasilitas yang tidak bisa didapatkan para penghuni penjara yang lain bisa ia dapatkan dengan cara mempunyai pengetahuan yang cukup untuk membuatnya sendiri.

Edmond yang terkagum-kagum dengan semua hal ini, akhirnya menanyakan rahasia dari semua ilmu yang dimiliki oleh pendeta itu, bagaimana caranya ia bisa mengetahui hampir semua hal yang berguna dalam menghidupi dirinya sendiri di kala krisis seperti penjara bawah tanah yang gelap. Jawaban Abbe sederhana:

I had nearly five thousand volumes in my library at Rome, but after reading them over many times, I found out that with one hundred and fifty well-chosen books a man possesses, if not a complete summary of all human knowledge, at least all that a man need really know.

Ya. 150 buku yang dipilih dengan baik akan dapat membantu kita setidaknya memahami pengetahuan peradaban manusia, itulah yang dikatakan oleh Abbe Faria. Dengan 150 buku yang dipilihnya dengan baik, selama bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya untuk menghapalkannya, dan lihatlah apa yang bisa diperbuatnya dengan 150 buku tersebut di saat ia sedang berada pada masa krisis. Dari buku-buku itu ia mengetahui sejarah, membuat benda-benda, mengetahui kondisi tubuhnya berdasarkan gejala-gejala biologisnya, bahkan membuat obat untuk menyembuhkan dirinya sendiri! Sebuah pengharapan baru yang sangat luar biasa! 150 buku yang dipilih dengan baik, dan kita akan dapat mengetahui setidaknya segalanya yang kita butuhkan.

Tentu bukan hanya pengetahuannya saja yang membantunya bertahan selama empat tahun sebelum bertemu Dantes, kreativitasnya yang hebat juga membantunya mengatasi stres dan depresi yang biasanya hinggap dari minimnya aktivitas seorang tahanan. Ia bisa memikirkan jalan keluar agar ia bisa menulis, yang tentu saja, merupakan salah satu cara untuk menghindari stres karena ketidakmampuan mengeluarkan energi ide. Ketidakmampuan seseorang untuk menyampaikan pemikiran dan gagasan adalah sumber depresi utama manusia, karena manusia mampu bertahan untuk kehilangan apa pun namun tidak dengan kebebasan untuk mengungkapkan pemikiran. Abbe Faria dengan briliannya dapat mengatasinya.

Ia juga adalah orang yang menghargai filsafat di atas segala ilmu. Seperti yang diajarkannya pada Edmond:

Philosophy cannot be taught; it is the application of the sciences to truth; it is like the golden cloud in which the Messiah went up into heaven.

Ia menekankan bahwa filsafat adalah inti dari segala ilmu. Ia mengatakan pada Edmond bahwa dia bisa menguasai semua ilmu yang dimilikinya hanya dalam waktu dua tahun, selama Edmond dapat mengerti inti dan filosofi dari semua ilmu yang diajarkannya. Lagi-lagi, sebuah paradigma yang menimbulkan pengharapan baru. Yang penting dari semua ilmu pengetahuan adalah filosofinya, bukan apakah kita dapat menghafal semua teorinya dalam kepala kita.

Sayangnya, keberadaan tokoh Abbe Faria seakan dianggap kecil oleh sebagian besar orang yang membaca The Count of Monte Cristo – dan juga bagi produser-produser film yang mengadaptasi cerita tersebut. Saya tidak dapat menemukan sosoknya baik di (review) movie The Count of Monte Cristo dan Gankutsuou (adaptasi animasi). Padahal sebenarnya tokoh sang Abbe adalah tokoh kunci yang membuat Edmond menjadi The Count yang kita baca sepanjang 2/3 buku kemudian. Ialah yang mengajari Edmond banyak bahasa dan ilmu pengetahuan selama 14 tahun mereka berkorespondensi di Chateau de If. Ialah yang membuat sosok Monte Cristo begitu mengagumkan dengan kalimat-kalimat paradoks dan filsafat yang sering diucapkannya kemudian. Dan yang paling utama, ialah yang telah memberi tahu Edmond mengenai harta karun di pulau Monte Cristo, yang tentu saja membuat Edmond berubah menjadi seorang Count.

Walaupun bagi banyak orang peran Abbe Faria hanyalah peran kecil sebagai tutor Edmond Dantes yang eksis selama kurang-lebih 50 halaman (dari total kisah yang mencapai lebih dari 800 halaman bagi edisi Wordsworth Classics milik saya), bagi saya kehadiran Abbe Faria adalah sebagai sumber inspirasi utama; juga bagi Edmond Dantes dan kisah ini. Kehadirannya dan ucapan-ucapan filosofinya membuat saya terinspirasi untuk rajin membaca dan terus meningkatkan pengetahuan.

Karena, ya, Abbe Faria memberi saya pengharapan baru bahwa dunia yang luas ini bisa kita rengkuh jika kita dapat memilih setidaknya 150 buku yang tepat.

 

Dengan kaitkata ,

[Review] Between Sinners and Saints

Between Sinners and Saints Between Sinners and Saints by Marie Sexton
My rating: 5 of 5 stars

Yes, I am fasting, and yes, I read this while I’m fasting. But whatever. Reading is harmless and I skipped the sex scenes so I didn’t feel that much guilty to God. And yes, I’m a religious person but not that religious, so think whatever you want. Besides, this story have that religious theme in it so I would just put this into my religious reading.

Okay, enough with my guilty rant.

For several early pages, I found myself hard to caught myself in this story, with it has some non-con scenes blasted at me from the beginning no, I’m not reading the erlier pages while I was fasting, it’s days before that and that scenes made me hesitant to continue reading this, and made my reading progress came painstakingly slower than my usual pace. But when Jamie got into the scene, it started getting better and better, and I found myself absorbed in this story.

This story contain sensitive issues, religious and its view on homosexualism. I found this book interesting with the way Marie Sexton circled smoothly in the issue with Levi’s family. The compromise was good for both part, and I found myself didn’t mind. I also thought hard in the same issue since I know that gay is not merely nature, but also nurture, they born with that condition. So is God that cruel to let them being a sinner even since the day they were born? This book gave a fine compromise, though not the same with my own perception, but I know that was the most for strictly religious family like Binder’s.

This book also dealt with psychology issues; trauma, sexual-abuse, etc on Jamie’s part. As a psychologist student I found myself delighted with the issues presented. Jamie was a mess-up man, and we know that affection is the best solution for his problems. Moreover, I was moved by the way Levi change from an all-sex-and-fun kind of guy into celibacing himself in order to be a man Jamie deserved. The relationship was smooth and careful, what with Jamie’s past and there’s even not any penetration sex scene, which made me glad since I’m not too fond of reading some dirty and kinky sex. This story focused more on their issues and relationship, not merely sex.

So yeah, 5 stars for this brilliant story. Such a great experience in reading.

View all my reviews

Dengan kaitkata ,