Tag Archives: favorite

We Are Skin and Bones

Belakangan ini saya sedang benar-benar tergila-gila dengan David J. Roch, musisi folk asal Inggris. Awal saya mengetahui artis satu ini adalah karena saya sedang senang menontoni variety show So You Think You Can Dance. Saat saya sedang melihat performance salah satu kontestannya, lagu yang dimainkan adalah lagu Skin and Bones milik David J. Roch. Karena lagunya langsung bikin saya merinding di tempat (dan juga karena dance dengan lagu ini hasilnya sangaaaat bagus) maka saya memutuskan untuk mendownload album dari David J. Roch ini yang berjudul Skin + Bones.

Track:

01. Lost Child (4.48)

02. Hour of Need (3.01)

03. Evil’s Pillow (3.56)

04. The Devil Don’t Mind (4.10)

05. Lonely Unfinished (3.09)

06. Only Love (4.37)

07. Dew (4.05)

08. Skin & Bones (3.53)

09. Bones (3.05)

10. Yours (4.59)

Dan ternyata…. SATU ALBUM LAGUNYA SAYA SUKA SEMUA!! Saya jarang suka semua lagu di satu album, tapi saya benar-benar suka semua lagu di album ini, tidak hanya Skin and Bones. Menurut kritikus musik, David J. Roch memiliki kecenderungan musik dan lirik dark romantic. Suaranya juga dianggap “Supernatural” karena dia mempunyai range suara yang lebar dan indah. Sebagian besar liriknya tentang cinta sejati, pertanyaan tentang Tuhan, dan keikhlasan. Melodi lagunya mendayu dengan indah namun tidak cengeng, rasanya seperti mendengarkan Elf cowok bernyanyi di tengah hutan. So clear, so sacred. Very recommended buat yang suka musik romantis nan kalem. Beautiful songs. 🙂

Iklan
Dengan kaitkata , ,

Psycho-Pass: Ketika Kehidupan Ditentukan Oleh Seberapa Sehat Mental Seseorang

Title : Psycho-Pass (サイコパス, saiko pasu)

Directed by : Naoyoshi Shiotani

Studio: Production I.G.

Genre : Action, Sci-fi, Psychological Thriller

Status : Ongoing (22 episodes planned, 3 episodes aired)

Rating : 18+ (for graphic violence and profanity)

The Story

“Apa yang akan terjadi ketika kehidupan seseorang dalam lingkungan sosial ditentukan oleh stabilitas mental orang tersebut?”

Hal itulah yang menjadi topik utama dari cerita besutan Production I.G. yang mulai tayang sejak tanggal 11 Oktober 2012 kemarin. Dikisahkan, di masa depan manusia mulai menganggap bahwa kebergunaan suatu individu dalam lingkungannya dipengaruhi oleh seberapa sehat mental individu tersebut. Oleh karena itu diciptakanlah sebuah sistem pendeteksi kondisi psikologis dan kepribadian yang bernama Psycho-Pass. Psycho-Pass ini akan menghasilkan data kondisi psikologis seseorang yang bernama “Crime Coefficient” yang nantinya tingkatan kemungkinan kebergunaan akan dianalisa oleh Sybill System. Jika Crime Coefficient seseorang melebihi angka 60, maka akan dilakukan penanganan berupa konsultasi psikologis oleh departemen kesehatan, namun jika angka melebihi 100, maka hal itu menyatakan bahwa orang tersebut sudah masuk ke dalam kategori kriminal yang menuntut diturunkannya personil keamanan untuk menanganinya.

Kisah Psycho-Pass mengikuti kegiatan Unit 1 dari Divisi Keamanan dan Investigasi. Unit ini khusus menangani masalah-masalah kriminal yang terjadi akibat peningkatan aktivitas Crime Coefficient seseorang. Dalam unit ini terdapat dua petugas resmi kepolisian, Inspektur Nobuchika Ginoza dan seorang inspektur baru, Akane Tsunemori. Meskipun hanya terdiri dari dua orang petugas resmi, namun mereka didukung oleh “Enforcers“, sekelompok orang dengan status Latent Criminal (Crime Coefficient lebih dari 100) yang sengaja dipekerjaakan untuk menangkap atau mengeliminasi Latent Criminal yang berkeliaran. Enforcers ini terdiri dari empat orang: Shinya Kogami, Tomomi Masaoka, Shusei Kagari, dan Yayoi Kunizuka.

Bagi penggemar Katekyo Hitman Reborn! pasti akan merasa familiar dengan artwork dari anime satu ini, karena yang menangani character design anime ini adalah orang yang sama dengan KHR, yaitu Akira Amano. Background artwork penuh dengan CGI yang berkualitas, suatu hal yang memang sudah menjadi kelebihan Production I.G. sejak lama. Kisah ini dikabarkan akan memiliki total 22 episode, meski hingga 25 Oktober kemarin, baru tiga episode yang ditayangkan. Episode 4 menurut jadwal akan tayang pada tanggal 1 November mendatang.

The Depression and Mental Health

Pada Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober kemarin, WHO mengangkat tema Depresi dan menyatakan bahwa kini depresi telah menjadi 2nd Global Burden of Disease, setingkat di bawah penyakit jantung. Hal ini nampaknya mulai membuka mata banyak negara akan ancaman tersembunyi yang ditimbulkan oleh gangguan psikologis yang satu ini. Dan nampaknya, Jepang menyuarakan jawaban mereka atas pentingnya memelihara kesehatan mental dengan cara mengeluarkan anime yang satu ini. Terbit hanya selang sehari dari World Mental Health Day 2012, anime ini memberi informasi pada khalayak mengenai seberapa mudah stres menjangkit anak muda jaman sekarang dan bagaimana peran kesehatan mental dalam keberlangsungan lingkungan.

Dalam Psycho-Pass juga diselipkan pesan mengenai kelemahan alat pengukuran kondisi psikologis, yaitu Sybill System dan Psycho-Pass itu sendiri. Masalah etika kembali disinggung mengenai pengukuran idiografik dan nomotetik, terutama mengenai pengukuran dan analisis instan yang menyeluruh tanpa mempertimbangkan aspek kondisi dan pribadi. Oleh karena itu, meskipun Sybill System mampu mendeteksi kondisi mental semua orang dan mengelompokkan mereka sebagai sehat/tidak sehat, masih diperlukan keberadaan petugas lapangan yang pada akhirnya akan memutuskan apakah status tersebut sesuai untuk individu tersebut.

Overall Rating

10/10.

Yap, saya bukan berlebihan. Mungkin saya sedikit bias karena kisah ini mengangkat tema psikologi, but really, this story’s worth to try. Tiga episode dan saya langsung berniat untuk setia menunggu lanjutannya. Great theme, great plot, great artwork (the CGI? to die for), nice characterization, nice and important messages delivery, I think this story would gain popularization for this season. So yeah, recommended to watch.

Dengan kaitkata , , ,

Let’s go Folk, folks!

Belakangan ini genre musik saya berubah total. Setelah sekitaran tahun 2008-2009 saya sangat cinta dengan RnB dan HipHop, memuja-muja Rihanna, Lady Gaga, dan Beyonce, sekarang genre lagu saya berubah 180 derajat dari penuh dengan hingar-bingar menuju ke sebuah genre yang kalem dan ancient.

Sekarang saya mengabdikan diri saya pada aliran FOLK, baik itu pop maupun rock.

Apa sih, aliran folk itu?

Folk music is an English term encompassing both traditional folk music and contemporary folk music. The term originated in the 19th century. Traditional folk music has been defined in several ways: as music transmitted by mouth, as music of the lower classes, and as music with unknown composers. It has been contrasted with commercial and classical styles. This music is also referred to as traditional music and, in US, as ‘roots music’.” – Wikipedia

Aslinya, definisi folk seperti itu. Namun musik folk modern lebih memfokuskan diri pada pemakaian instrumen-instrumen etnik seperti perkusi, kendang, harpa, dll. Dulu, jaman saya masih sangat kecanduan anime dan manga, saya menyukai jenis japanese folk music yang sering diusung dalam anime-anime, terutama anime produksi studio Ghibli. Suasana etnik yang ditampilkan dalam alunan seruling atau instrumen khas Jepang selalu membuat hati nyaman dan teringat akan sawah dengan padi menghijau atau malam hari yang sejuk dengan bulan purnama di langit cerah. Dari semua lagu folk Ghibli, saya paling suka dengan sontrek Tonari no Totoro (Our Neighbor Totoro) yang berjudul “Path of Wind”.

some of Ghibli movies

Tonari no Totoro

Pada masa-masa SMA, kecintaan saya terhadap folk music sempat terlupakan karena teman-teman terdekat saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu RnB, dan memang pada saat itu RnB sedang banyak merajai tangga lagu internasional. Rihanna, Beyonce, dan Black Eyed Peas merajai playlist saya sebagaimana lagu-lagu mereka merajai Billboard chart. Bahkan sampai pada kemunculan Lady Gaga, saya masihlah pencinta setia RnB dengan dunia hingar-bingar mereka.

Namun memasuki dunia kuliah, pergaulan saya berubah jauh. Di tingkat pertama pengaruh teman yang menyukai genre New Age dan Ambient sangat kuat hingga saya juga mulai mendengarkan Enya, memperbanyak koleksi Kitaro dan Yuki Kajiura saya (yang memang saya sukai sejak lama namun sempat tidak bertambah jumlah koleksinya), dan rajin mengunduh lagu-lagu Yanni.

Enya

Sampai akhirnya ketika memasuki tingkat dua perkuliahan, RnB dan New Age tidak bisa lagi mendatangkan inspirasi bagi saya dalam menulis maupun mengerjakan tugas. Apalagi sekarang ini saya jarang mendengarkan radio karena kesibukan dan faktor headset handphone yang rusak dan masih belum didapatkan penggantinya maklum, handphone merek underground. Karena kurangnya referensi musik RnB dan New Age yang baru, saya akhirnya dengan iseng berbicara masalah musik favorit dengan beberapa teman penulis saya niat awalnya supaya musiknya bisa dicolong :p. Ternyata, sebagian besar teman penulis yang saya tanya mempunyai selera musik yang hampir sama. Dari salah seorang teman saya mendapatkan rekomendasi untuk mendengarkan Bat For Lashes (Natasha Khan). Dari teman yang lain saya mendapat rekomendasi Cecile Corbel. Suka dengan musik-musik mereka, saya iseng menjelajah situs-situs untuk mencari artis-asrtis serupa dengan mereka hingga menemukan –dan jatuh cinta– pada dua artis, Vienna Teng dan Florence + The Machine. Koleksi lagu folk saya bertambah pesat.

Sekarang ini, koleksi album folk saya sudah ada sekitar 9 album:

Bat For Lashes - Two Suns

 Mengusung aliran Folktronica, Natasha Khan, yang memkai nama panggung Bat For Lashes meghadirkan lagu-lagu gelap dengan lirik yang surealis dan sulit ditebak maknanya. Album Two Suns dikabarkan berada dalam urutan #5 di UK Albums chart dan memenangkan Best Alternative Act  dalam UK Asian Music Award. Saya mendengarkan Natasha setelah mendapat rekomendasi dari salah satu teman penulis saya, dan kebetulan memang saya jatuh cinta pada salah satu lagu berjudul “Daniel” di album ini.

Vienna Teng - Waking Hour

Vienna Teng - Warm Strangers

Vienna Teng - Dreaming Through The Noise

Vienna Teng - Inland Territory

Berbeda dengan BFL, Vienna Teng mengedepankan suara piano dalam semua lagunya, walaupun instrumen etnik yang lainnya juga tak ketinggalan. Vienna adalah musisi folk favorit saya karena lirik-lirik lagunya yang begitu implisit dan sureal. Vienna Teng ini murni hasil penemuan saya sendiri. Setelah menemukan satu fanvid Alexander The Movie dan Hetalia – Axis Power yang menggunakan lagunya sebagai backsound, saya pun memutuskan untuk mengunduh album pertamanya untuk coba-coba. Ternyata, begitu mengunduh satu album, saya ketagihan dengan alunan piano dan lirik-lirik surealis yang disajikan oleh Vienna Teng, maka jadilah saya mengoleksi semua albumnya.

Florence + The Machine - Lungs

Florence + The Machine - Ceremonials

Sama seperti Vienna Teng, Florence + The Machine ini juga hasil penemuan saya sendiri. Saat sedang asik mengacak-acak azlyrics.com, saya tanpa sengaja melihat promo album Ceremonials dan jadi tertarik untuk mencari tahu karena nama band-nya yang unik. Entah kebetulan atau takdir, ternyata FATM ini juga mengusung genre folk, lebih tepatnya folk rock dan folktronica. FATM bagi saya lebih seperti gabungan kualitas BFL dan Vienna Teng. Irama lagunya yang banyak menggunakan instrumen elektronik dengan tonjolan instrumen etnik yang khas mengingatkan saya pada irama-irama BFL sementara lirik-lirik lagunya yang terkesan surealis sangat mirip seperti Vienna Teng. Band yang berasal dari UK ini sering membawakan lagu-lagu berirama English folk.

Cecile Corbel - The Borrower Arrietty Image Album

Cecile Corbel - Songbook vol.1

Cecile Corbel adalah artis yang baru saja diperkenalkan pada saya, karena itu saya baru mempunyai dua albumnya. Diperkenalkan kepada saya melalui salah seorang teman penulis (lagi) dan sebuah film terbaru Ghibli, The Borrower Arrietty, saya langsung jatuh cinta pada kelembutan alunan harpanya. Mengusung aliran folk pop, artis Perancis ini telah menciptakan dan menyanyikan lagu dalam banyak bahasa, namun mayoritas karyanya adalah celtic folk.

Demikianlah kesembilan album modern folk milik saya. Sampai sekarang saya masih aktif mencari-cari artis folk yang berkualitas lainnya. Kalau ada yang entah bagaimana juga menyukai musik-musik folk, feel free to give me some good recs! 😉

 

 

 

 

Dengan kaitkata , ,

[Review] Between Sinners and Saints

Between Sinners and Saints Between Sinners and Saints by Marie Sexton
My rating: 5 of 5 stars

Yes, I am fasting, and yes, I read this while I’m fasting. But whatever. Reading is harmless and I skipped the sex scenes so I didn’t feel that much guilty to God. And yes, I’m a religious person but not that religious, so think whatever you want. Besides, this story have that religious theme in it so I would just put this into my religious reading.

Okay, enough with my guilty rant.

For several early pages, I found myself hard to caught myself in this story, with it has some non-con scenes blasted at me from the beginning no, I’m not reading the erlier pages while I was fasting, it’s days before that and that scenes made me hesitant to continue reading this, and made my reading progress came painstakingly slower than my usual pace. But when Jamie got into the scene, it started getting better and better, and I found myself absorbed in this story.

This story contain sensitive issues, religious and its view on homosexualism. I found this book interesting with the way Marie Sexton circled smoothly in the issue with Levi’s family. The compromise was good for both part, and I found myself didn’t mind. I also thought hard in the same issue since I know that gay is not merely nature, but also nurture, they born with that condition. So is God that cruel to let them being a sinner even since the day they were born? This book gave a fine compromise, though not the same with my own perception, but I know that was the most for strictly religious family like Binder’s.

This book also dealt with psychology issues; trauma, sexual-abuse, etc on Jamie’s part. As a psychologist student I found myself delighted with the issues presented. Jamie was a mess-up man, and we know that affection is the best solution for his problems. Moreover, I was moved by the way Levi change from an all-sex-and-fun kind of guy into celibacing himself in order to be a man Jamie deserved. The relationship was smooth and careful, what with Jamie’s past and there’s even not any penetration sex scene, which made me glad since I’m not too fond of reading some dirty and kinky sex. This story focused more on their issues and relationship, not merely sex.

So yeah, 5 stars for this brilliant story. Such a great experience in reading.

View all my reviews

Dengan kaitkata ,