Tag Archives: half-fiction

Lucunya….

“Lucunya, saat kita menjadi mahasiswa Psikologi kita yang berbeda bisa duduk bersama tanpa saling melukai.”

Itu katanya di suatu siang sehabis membiarkan piring-piring makan siang kami kosong, masuk ke dalam perut bersamaan dengan hasil diskusi ringan yang masuk ke kepala. Bukan hal muluk seperti perang atau korupsi. Kami hanya berbeda prinsip esensial. Dia adalah kaum kolektifis yang menolak dibilang komunis, sementara aku adalah kaum sekular melenceng yang kaki dipasak oleh budaya timur sementara kepala diulur sampai ke barat. Hal yang kami bicarakan pun bukan masalah paham mana yang lebih benar. Kami duduk dan mengkaji. Dengan tawa. Kadang dengan tangis. Tapi tak pernah dengan kemarahan.

Kenapa, ya? tanyanya kemudian. Apa karena kita anak Psikologi?

Aku mengangkat bahu. Jadi mahasiswa Psikologi itu hanya variabel moderator. Variabel independennya mungkin karena kita memang tak suka bertengkar hanya karena masalah prinsipil yang jelas kemutlakannya melebihi nisbi. Plek begitu. Susah diutak-atik kecuali ada kiamat atau ada Nabi yang bangun lagi (yang berarti kiamat juga). Jadi buat apa panas mengenai hal yang mengakar. Radikal. Sebenarnya beda pendapat itu hanya butuh “Oooh” dan lalu diskusi bisa lanjut maju. Tidak perlu berhenti dan mencari siapa yang benar dulu. Toh pada akarnya, semuanya benar, tergantung akarnya siapa.

Tapi memang lucu, ketika yang berbeda bisa duduk bersama tanpa saling melukai. Satu “Oooh” dan kembali maju. Senjata dan kemarahan duduk manis di gudang. Berdebu.

Dengan kaitkata , ,