Tag Archives: jurnal

Satu Langkah Menuju Goal

Di salah satu post saya beberapa waktu lalu saya pernah menyatakan kalau untuk semester ini, saya akan mendedikasikan waktu saya kepada menulis. Bukan berarti saya melupakan kuliah, bukan, saya hanya akan memperbanyak waktu menulis saya.

Dan saya memang melakukannya. Sejak awal semester saya berusaha mengikuti banyak lomba menulis, entah itu menulis fiksi, karya ilmiah, atau artikel. Pada awal April ini, niat saya untuk semester ini terwujud. Teman saya mengabarkan bahwa abstrakĀ paper kami lolos seleksi 30 besar lomba karya tulis yang diadakan Komunikasi Universitas Airlangga.

Mungkin bagi beberapa orang hal ini belum menjadi suatu pencapaian yang signifikan – dan Tuhan, saya kenal terlalu banyak orang yang menganggapnya demikian, orang-orang hebat yang selalu saya kagumi – tapi bagi saya hal ini merupakan suatu tanda. Tanda bahwa keputusan yang saya ambil untuk semester ini tidak salah. Tanda bahwa walaupun saya jadi membagi pikiran saya dalam kelas-kelas semester ini, namun saya melakukannya untuk sesuatu yang worth it. Dan bagi saya yang baru pertama kali mencoba ikut lomba karya tulis semenjak mengenyam bangku kuliah, this news’ really worth it.

Insyaallah dari sinilah saya akan mulai menapaki jalan yang saya ingin jalani, untuk mendapatkan IPK yang di dalamnya tercermin mimpi dan harapan saya. Terima kasih banyak bagi Ria yang sudah memberitahu saya mengenai event ini dan dengan lihai mengelaborasi ide paper saya. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk Kak Luluk yang sudah berusaha keras menyelamatkan naskah kami berdua dari kegagalan pengiriman akibat deadline hanya karena kakak yang satu ini sangat suka judul paper kami dan memutuskan kalau paper kami tidak boleh disia-siakan.

Ria dan Kak Luluk, tanpa kehadiran kalian, mungkin niat saya untuk semester ini belum akan terwujud. Terima kasih sebesar-besarnya untuk kalian. Mohon bantuannya untuk pembuatan makalah dan presentasi di Surabaya bulan Mei nanti. Semoga paper ini bisa menjadi sebuah pengalaman manis bagi kita semua.

Semoga paper ini terus menjadi pengingat bahwa mulai saat ini, Ayu, di dalam langkahmu akhirnya terdapat cita-citamu.

Iklan
Dengan kaitkata ,

Saya Ingin Kembali Berkarya

Saya sadari, belakangan ini saya nyaris tidak menulis apa pun selain paper, makalah, atau esai analisis yang merupakan tugas kuliah. Semester kemarin berlalu dengan sebegitu hectic-nya hingga bahkan untuk menulis satu paragraf non-tugas pun saya tidak bisa bagaimana bisa jika untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah pun saya bahkan harus tidak tidur selama dua-tiga hari?

Dalam beberapa kesempatan diskusi bebas di grup internal Psikologi 2010 di Facebook, beberapa teman saya pernah menyatakan ketidakbebasan mereka dalam menangani hal di luar kegiatan kuliah. Well, waktu itu topiknya memang mengenai pergerakan mahasiswa dan suara-suara mahasiswa yang seakan terbungkam oleh padatnya tugas kuliah, tapi ada satu pendapat yang seakan mengena di hati saya.

Jangan-jangan sebenarnya alasan universitas begitu mengedepankan prestasi dan ngotot menekankan pentingnya IPK tinggi kepada mahasiswanya adalah untuk membungkam kreativitas dan pergerakan mahasiswa.

Waktu itu terjadi perdebatan panjang begitu komentar itu muncul. Anak-anak yang merasa diri mereka study-oriented langsung merasa tersinggung dan berkomentar pedas, “Memang apa salahnya menjadi study-oriented?” dan beberapa teman yang skeptis pada pergerakan mahasiswa (saya salah satunya, walaupun kali ini saya diam saja) memandang komentar ini sangatlah sepihak bagi kalangan aktivis saja.

Di saat semuanya ribut, saya terpaku di depan layar monitor. Dan menyadari bahwa kalimat tersebut, dilihat dari sebuah sisi lain, adalah benar adanya.

Dunia saya, semenjak memasuki bangku perkuliahan, sudah bukan lagi hanya untuk belajar.

Sejak kecil saya adalah orang yang study-oriented; mendewakan nilai di atas segalanya dan menganggap orang-orang yang tidak bisa mendapat nilai bagus bukanlah orang yang patut saya hormati. Saya harus sempurna. Saya dilahirkan untuk itu.

Tapi dua tahun vakum dari dunia pembelajaran mengajari saya arti dari kehilangan kesempatan untuk memperoleh ilmu. Saat itu saya menyadari bahwa yang saya inginkan bukanlah nilai bagus. Yang saya inginkan, murni, hanya kesempatan untuk bisa menambah pengetahuan saya tentang banyak hal, dan memformulasikannya dalam mimpi utama saya: menjadi seorang penulis.

Dan Tuhan sangat baik, sangat baik, karena telah mendengarkan keinginan saya yang paling besar dan mengabulkannya dengan perangkat-perangkat yang dapat membantu mimpi saya.

Perangkat yang paling berarti – dan paling utama – adalah beasiswa fullbright saya.

Bodohnya, saya sama sekali tidak menyadari bahwa beasiswa itu adalah suatu karunia yang begitu besar yang sebenarnya merupakan sarana utama untuk menuju mimpi saya. Selama tiga semester saya hanya menganggap beasiswa itu sebagai jalan saya untuk kembali mendapatkan pengetahuan. Ternyata beasiswa saya menawarkan lebih banyak dorongan. Dan saya baru menyadarinya setelah masa depresi panjang di penghujung semester 3 kemarin.

Berikut adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh saya selama mendapatkan beasiswa:

  1. IPK > 3.00
  2. Mengikuti setidaknya satu organisasi ekstra atau intra kampus
  3. Mengikuti kegiatan kepanitiaan di fakultas
  4. Mempunyai karya tulis ilmiah yang dipublikasikan
  5. Mempunyai karya non-ilmiah yang dipublikasikan
  6. Mempunyai prestasi di bidang non-akademis

Selama ini saya dengan bodohnya hanya berusaha memenuhi tiga syarat pertama, karena itu adalah syarat wajib yang harus dipenuhi agar beasiswa bisa terus berjalan. Selama tiga semester saya dicekam ketakutan bahwa saya tidak bisa memenuhi syarat tersebut, pikiran saya buntu oleh adanya kemungkinan beasiswa saya dicabut hingga saya akan kembali tidak bersekolah.

Tapi beberapa hari belakangan, setelah masa depresi panjang yang membutuhkan saya bolak-balik ke psikolog fakultas untuk melakukan terapi, pernyataan salah satu teman saya itu kembali melayang-layang di kepala saya bersamaan dengan salah satu nasihat yang saya terima dari psikolog saya:

You got that 3.5 or so for your GPA and then so what? I don’t care any of it. What are you fighting so hard for? To reach your dream, right? And does that GPA of yours now represent your dream?

Jawabannya, tidak. Dalam IPK saya, dalam perjuangan saya selama tiga semester, mimpi saya sama sekali tidak ada di dalamnya. Mimpi saya simpel hanya ingin mengembangkan pengetahuan dan menjadi seorang penulis, dan hal itu tidak bisa saya dapatkan selama saya memfokuskan diri saya untuk mengejar IPK tinggi. Saya terlalu terobsesi untuk mendapatkan nilai tinggi dan dicekam ketakutan bahwa suatu saat, jika saya lengah, semua fasilitas dan pengetahuan yang saya dapat akan segera diambil dari saya. Saya takut, karena pengetahuan adalah hal paling utama yang tidak akan bisa saya lepaskan.

Dan karena ketakutan itu, saya jadi menutup mata saya pada tiga syarat non-wajib beasiswa saya.

Kembali ke atas dan lihat apakah ketiga hal tersebut. Ya, ketiga hal tersebut adalah dorongan untuk menulis. MENULIS! Beasiswa saya mendorong saya untuk menulis! Beasiswa saya mengizinkan saya untuk menjadi penulis! Tuhan telah mengizinkan saya, dalam cara-NYA yang tidak dapat ditebak, untuk menjadi penulis!

Sewaktu menyadari hal tersebut, saya menangis – setengah karena kebodohan saya tidak menyadarinya sejak awal, dan setengah karena memang kondisi emosi saya masih sangatlah labil.

Dengan menyadari hal itu, saya kembali ke psikolog saya, dan menyatakan bahwa mulai sekarang dalam IPK saya akan terdapat mimpi saya di dalamnya. Saya ingin kembali menulis. Saya ingin kembali berkarya. Beliau (psikolog saya yang begitu baik dan hebat) tersenyum puas.

“Do your best, Ayu,” katanya. “And do what you want, don’t be restricted. This life’s yours, and as long as you do it the way it pleases you, your chance to be here won’t dissapear. UI needs more people like you.”

Jadi, pada masa registrasi online pada tanggal 31 Januari kemarin, saya memantapkan tekad saya. Saya akan lay low pada semester ini, tidak mengambil sks muluk-muluk, mungkin hanya akan mengambil 18 sks. Lalu saya akan membiarkan diri saya terfokus pada menulis dan menulis, menulis apa pun yang non-tugas, dan mungkin akan berusaha mempublikasikannya.

Orang lain bisa saja mendapatkan IPK tinggi dan mendapatkan mimpinya sekaligus. Tapi saya bukan manusia yang sehebat mereka. Saya tahu saya butuh manajemen tersendiri untuk mendapatkan keduanya; salah satu harus mengalah sementara untuk membiarkan yang lainnya berkembang, dan sebaliknya. Untuk sekarang ini, saya akan mementingkan tulisan saya.

Karena saya ingin di dalam IPK saya, terdapat mimpi saya. Karena saya ingin kembali berkarya.

Dengan kaitkata , ,

Nama Sebagai Awal Segala Kontemplasi

What is in a name?

–William Shakespeare, Romeo and Juliet.

Keputusan sang ayah menunjukkan bahwa nama bukan sekadar tempelan. Nama punya daya performatif.

–Goenawan Mohamad

Fear of the Name increases fear of the thing its self.

–J.K. Rowling, Harry Potter and The Chamber of Secrets

Karena itulah saya memutuskan untuk membahas mengenai nama pada posting pertama saya. Setelah membaca sebuah esai di blog Goenawan Mohamad, saya juga jadi tertarik untuk membahas masalah ini. Bukan, bukan sebuah tinjauan khusus tentang budaya pemberian nama atau yang semacamnya, yang saya sanggup tulis hanya sebuah pemikiran egois tentang nama saya sendiri.

Nama saya Ayu Puspita Sari Ningsih. Arti dari Ayu sampai Sari-nya adalah “sari bunga yang cantik”, sementara Ningsih-nya hanya tempelan di detik-detik terakhir yang diberikan nenek saya yang bahkan tidak ada yang tahu apa artinya. Ironis.

Saya tidak pernah suka nama saya karena banyak yang mempunyai nama sama sampai rasanya kalau ada bisnis jual beli nama, nama saya adalah nama yang akan dijual di pinggir jalan dengan obralan paling rendah sama seperti kaus kaki. Saya selalu protes pada ayah yang telah memutuskan nama itu diberikan kepada saya. Tapi toh mau protes segencar apa pun nama saya sudah terdaftar dan kini memenuhi semua lembaran ijazah, kartu identitas, dan buku-buku yang jadi milik saya.

Tadinya saya ingin diberi nama Fransisca oleh ibu saya–yang, sebenarnya, lebih saya pilih–dengan alasan bahwa ayah saya beragama Katolik, jadi nama anaknya mungkin harus berkesan kebarat-baratan. Tapi ayah mengatakan bahwa seharusnya saya diberi nama netral karena persetujuan mereka adalah saya akan diikutkan agama ibu, maka aneh kalau namanya mengundang imej seperti orang non-muslim.Terlepas dari dinamika pemikiran orangtua saya yang unik–maksudnya, ibu saya yang beragama Islam ingin saya bernama seperti orang Katolik sementara ayah yang (dulunya) Katolik malah menyarankan saya seharusnya tidak bernama seperti orang Katolik–akhirnya dicapai suatu kesimpulan untuk memberi saya nama Jawa, Ayu Puspita Sari–Ningsih, setelah nenek tidak terima kalau tidak kebagian jatah memberi nama.

Kata orang “nama adalah do’a”, dan justru hal itu menimbulkan satu lagi alasan untuk tidak menyukai nama saya. Saya tidak pernah habis pikir kenapa orangtua saya lebih memilih mendoakan saya menjadi “cantik” daripada pintar atau berbagai harapan yang lain. Apakah memang ada pengharapan bahwa saya akan lebih menonjol dalam segi fisik dibanding segi lain atau pengharapan justru karena saya tidak mempunyai aspek yang diharapkan tersebut?

Begitu saya tanya, jawaban Mama adalah “karena nama itu yang paling gampang”. Dengan jawaban itu mau tak mau saya mundur. Apalah artinya protes kalau alasannya ternyata hanya sekedar kepatutan memberi nama? Saya bisa saja bernama Zea Mays–seperti yang Mama pernah nyatakan dalam keinginannya memberi nama pada anaknya–atau Arum–nama usulan Papa sebelum Ayu yang langsung ditolak oleh Mama–toh hal itu hanyalah sebuah formalitas. Anak harus punya nama, dan Ayu adalah doa umum yang sering diinginkan orangtua–karena siapa sih, orangtua yang tidak mau anaknya jadi cantik?

Sejak sadar akan hal itu saya mencoba suatu metode untuk menghindari nama saya: menciptakan nama alias. Sejak SD saya sudah mulai sering mencari-cari nama alias. Saya ingat nama pertama yang saya gunakan adalah Takenouchi Sora, nama sebuah tokoh Digimon yang tomboy–saya lumayan mempersepsi diri saya sebagai seorang tomboy–lalu teman-teman saya mulai ikutan memberi saya nama yang hampir seperti plesetan dari nama saya tapi cukup lebih saya terima daripada nama saya sendiri; ada Yayoi, Yue, Yuu-chan, dan lain-lain. Nama alias yang paling tetap dan saya gunakan sampai sekarang adalah Phoebe Yuu, sebuah nama yang saya ciptakan saat kelas X. Phoebe muncul dari nama satelit Saturnus, dan kebetulan frasanya masih seperti plesetan Puspita, dan Yuu berasal dari nama yang sering dipakai teman-teman untuk memanggil saya. Sekarang nama itu saya gunakan untuk alias jika saya menulis fiksi–semata demi kepantasan (dan saya pun akhirnya jatuh ke dalam sirkulasi pemikiran orangtua saya).

Sebenarnya konyol, kalau diingat lagi sekarang. Usaha saya mencari nama alias itu sejak dulu tidak pernah melalui proses pemaknaan yang panjang. Padahal sepertinya orang-orang yang mempunyai alias itu memikirkan namanya matang-matang sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Tapi apa boleh buat, nama Phoebe Yuu sekarang sudah lekat di hati saya. Kalau saya memutuskan untuk menggunakan nama alias saya suatu saat nanti, saya tidak mau ganti yang lain lagi.

Meskipun begitu, nama, pada akhirnya tetap menunjukkan siapa diri seseorang sebenarnya. Walau saya terkadang bersembunyi dalam nama alias, tapi nama yang mendukung eksistensi saya adalah Ayu Puspita Sari Ningsih. Nama itu yang menceritakan riwayat saya sejak kecil dan di bawah nama itu semua catatan kehidupan saya dikenang. Saat nama itu menghilang, eksistensi saya sebagai seorang Ayu Puspita Sari Ningsih pun hilang. Semua riwayat yang dicatat di bawah nama itu takkan berarti lagi jika saya berusaha memasukkannya ke dalam nama lain. Pada akhirnya, saya tetaplah seorang Ayu Puspita Sari Ningsih. Dan demi eksistensi saya sendiri, saya tidak akan menghilangkan nama itu–walau menyamarkan sesekali masih mungkin.

Dengan kaitkata ,