Tag Archives: kontemplasi singkat

Lucunya….

“Lucunya, saat kita menjadi mahasiswa Psikologi kita yang berbeda bisa duduk bersama tanpa saling melukai.”

Itu katanya di suatu siang sehabis membiarkan piring-piring makan siang kami kosong, masuk ke dalam perut bersamaan dengan hasil diskusi ringan yang masuk ke kepala. Bukan hal muluk seperti perang atau korupsi. Kami hanya berbeda prinsip esensial. Dia adalah kaum kolektifis yang menolak dibilang komunis, sementara aku adalah kaum sekular melenceng yang kaki dipasak oleh budaya timur sementara kepala diulur sampai ke barat. Hal yang kami bicarakan pun bukan masalah paham mana yang lebih benar. Kami duduk dan mengkaji. Dengan tawa. Kadang dengan tangis. Tapi tak pernah dengan kemarahan.

Kenapa, ya? tanyanya kemudian. Apa karena kita anak Psikologi?

Aku mengangkat bahu. Jadi mahasiswa Psikologi itu hanya variabel moderator. Variabel independennya mungkin karena kita memang tak suka bertengkar hanya karena masalah prinsipil yang jelas kemutlakannya melebihi nisbi. Plek begitu. Susah diutak-atik kecuali ada kiamat atau ada Nabi yang bangun lagi (yang berarti kiamat juga). Jadi buat apa panas mengenai hal yang mengakar. Radikal. Sebenarnya beda pendapat itu hanya butuh “Oooh” dan lalu diskusi bisa lanjut maju. Tidak perlu berhenti dan mencari siapa yang benar dulu. Toh pada akarnya, semuanya benar, tergantung akarnya siapa.

Tapi memang lucu, ketika yang berbeda bisa duduk bersama tanpa saling melukai. Satu “Oooh” dan kembali maju. Senjata dan kemarahan duduk manis di gudang. Berdebu.

Dengan kaitkata , ,

I Feel Psychotic

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku memoar tentang penderita manic-depressive disorder (atau sering juga disebut bipolar disorder) yang berjudul An Unquiet Mind karangan seorang psikiater Kay Redfield Jamison.

An Unquiet Mind, buku tentang Manic-Depressive Disorder yang dikarang oleh Kay Redfield Jamison

Apa sih manic-depressive disorder itu? Bagi yang belum familiar dengan istilah kerennya, bipolar, manic-depressive adalah salah satu bentuk kelainan kejiwaan yang membuat penderitanya merasakan episode mania dan depresi bergantian secara cepat, bahkan terkadang kedua episode itu terjadi secara bersamaan. DSM-IV TR, sebuah manual bagi segala mental disorder (dan kitab suci bagi para psikiater dan psikolog klinis) memberi definisi sebagai berikut:

Bipolar disorder is characterized by the occurrence of at least one manic or mixed-manic episode during the patient’s lifetime. Most patients also, at other times, have one or more depressive episodes. In the intervals between these episodes, most patients return to their normal state of well-being. Thus bipolar disorder is a “cyclic” or “periodic” illness, with patients cycling “up” into a manic or mixed-manic episode, then returning to normal, and cycling “down” into a depressive episode from which they likewise eventually more or less recover.

Tingkat manic-depressive ini juga ditentukan dengan tingkat episode mania yang dialami penderita. Ada penderita yang hanya mengalami fase hipomania, di sini penderita, saat mengalami episode ini, hanya merasa dirinya tiba-tiba berada dalam mood yang sangat baik, semangatnya meningkat, banyaknya ide yang muncul, dan merasa mampu untuk mengerjakan banyak hal. Lalu ada juga fase mania akut, dimana seseorang saat berada dalam kondisi ini akan merasakan peningkatan mood hingga sampai ke tahap euforia, hiperaktivitas, dan kurangnya waktu tidur, serta seringkali diikuti oleh gejala delusional. Yang terakhir, yang paling parah, adalah mania delirium. Pada fase yang seperti ini penderita sudah mengalami tingkat delusional yan parah hingga terkadang tidak menyadari di mana mereka berada. Ketiga jenis mania ini, jika kemudian disertai oleh episode depresi, maka akan menjadi bipolar disorder. Dua mood yang saling bergantian ini membuat bipolar terkenal dengan ikon dua topeng berwajah sedih dan senang.

The Happy and The Sad, ikon manic-depressive disorder

Ada teman kuliah saya yang mengaku bahwa dirinya bipolar dan secara rutin telah mengikuti terapi sejak semester awal kami berkuliah di Psikologi. Waktu teman saya menyatakan hal tersebut saya merasa bingung karena saya tidak pernah melihatnya berganti mood secara cepat, bahkan selalu terlihat seolah bahagia. Bagaimana mungkin dia bipolar? Bukannya bipolar adalah pergantian mania dan depresi secara cepat?

Ternyata saya salah besar. Manic-depressive memang merupakan kelainan yang selalu menimbulkan mania yang kemudian disusul oleh depresi, tapi ternyata tidak secepat itu. Selama ini saya kira penderita bipolar mengalami mood-switch yang sangat cepat, seperti misalnya dalam hitungan jam atau bahkan menit. Ternyata tidak, begitu saya baca lebih lanjut di DSM-IV, ciri utama dari manic-depressive hanyalah episode mania yang diikuti oleh depresi akut. Waktu pergantiannya ternyata bukan selalu dalam hitungan jam atau menit (walau memang ada juga yang seperti itu), tapi bahkan bisa berbulan-bulan. Seorang penderita bisa saja mengalami episode mania selama tiga minggu dan kemudian dilanjutkan dengan episode depresi yang bisa jadi lebih lama, lalu kembali normal hingga berbulan-bulan sebelum siklus itu bisa kembali menyerang. Bahkan ada orang yang kembali normal dahulu setelah mengalami episode mania, lalu baru mengalami depresi dalam jangka beberapa minggu setelahnya. Karena itulah saya tidak bisa menangkap simtom bipolar kawan saya itu, karena saya hanya memperhatikannya dalam lingkup per jam atau harian, padahal mungkin bisa saja teman saya itu mengalami perubahan dalam lingkup mingguan.

Dan karena salah persepsi mengenai waktu serangan itulah saya jadi tidak menyadari kalau saya juga penderita manic-depressive.

Saya baru menyadarinya ketika saya membaca buku An Unquiet Mind tersebut. dr. Jamison sangat detil dalam menggambarkan penyakitnya, menggambarkan setiap situasi yang dihadapinya ketika ia mendapatkan serangan mania dan depresinya hingga saya bisa mengerti dengan jelas bagaimana rasanya menjadi seorang manic-depressive. Dan membaca buku itu dalam seratus halaman pertama membuat saya bergidik ngeri karena menyadari bahwa semua simtom yang terdapat pada psikiater tersebut juga saya rasakan.

Dr. Jamison menceritakan bahwa ia baru menyadari kelainannya saat ia mengikuti kelas psikologi (sepertinya memang kuliah psikologi merupakan tempat berobat jalan) di waktu dirinya menyelesaikan kuliah magister kedokterannya. Saat mengalami episode mania ia selalu melakukan sesuatu secara hiperaktif, seperti mengkopi satu puisi yang sedang ia sukai pada waktu itu dan membagikannya ke semua orang yang ia kenal, menyuruh mereka membacanya. Ia juga sering merasa ide berkeliaran di kepalanya hingga satu saat ia bisa saja menulis artikel ilmiah sementara beberapa menit sebelumnya ia baru saja browsing mengenai resep yang ingin dicobanya. Pikirannya terus berlompatan tanpa bisa diikuti oleh aktivitas fisiknya hingga ia selalu berpindah dari satu tugas ke tugas lain yang jauh berbeda. Saat berada dalam kondisi mania ia akan bicara terlalu cepat dengan topik melompat-lompat hingga tak ada yang berhasil mengikuti arah pembicaraannya, dan ia akan bicara berteriak dengan energi yang sangat besar. Ia impulsif dalam membelanjakan uang sampai ke titik dimana semua kartu kreditnya mencapai limit tanpa mempedulikannya. Lalu saat semua energi yang besar itu menyusut, ia akan dengan cepat jatuh ke dalam jurang depresi. Ia akan sadar bahwa ia telah mengkopi sebuah puisi hingga kamarnya penuh dengan kertas-kertas bertuliskan kalimat-kalimat sama persis, atau sadar bahwa ia telah menghabiskan seluruh gajinya untuk membeli satu buku yang sama sebanyak puluhan kopi atau baju-baju dan aksesoris. Begitu ia kembali turun ke tanah yang menyadarkannya akan hasil kegilaannya, ia akan langsung terjun ke lembah depresi; merasa dirinya bodoh dan tidak berharga karena telah melakukan hal-hal tersebut, merasa dunia kejam padanya, bahkan sampai pada pemikiran untuk mengakhiri hidupnya agar bisa terbebas dari kondisi manianya.

Semua hal itu juga terjadi pada saya. Akan ada satu saat dimana saya merasa sangat bahagia, melayang seakan semua masalah meninggalkan saya. Di saat seperti itu saya akan mendapatkan banyak ide – terlalu banyak ide – hingga tangan dan mulut saya sama sekali tidak dapat mengikutinya. Dalam satu hari seperti itu saya bisa membuat sekitar dua puluh draft cerita – hanya draft, karena kepala saya terlalu penuh dengan ide hingga saya harus menuliskan semuanya sebelum ide tersebut menghilang, baru akan saya kerjakan setelah semua ide berhasil saya pindahkan ke suatu bentuk solid. Saya akan tersenyum puas – kadang tertawa – saat menulis, merasa terlalu aroused saat membiarkan tangan saya menari di atas keyboard. Saya akan gemar merekomendasikan buku – kalau bukan memaksa membaca – buku yang saya anggap bagus atau meng-quote kata-kata dari buku tersebut dimana pun. Kalimat-kalimat yang keluar dari kepala saya akan lebih susah untuk dimengerti oleh kawan-kawan saya karena saya cenderung mengatakan sesuatu tanpa topik penyambung bahkan konjungsi. Saya akan gemar meletupkan humor-humor sarkastis yang membuat teman-teman saya terbahak.  Dan saya akan menjadi spending-spree dalam hal membeli buku. Saya akan terus-menerus membeli buku hingga uang di rekening mencapai batas limit, terkadang bahkan saya tidak mencari review buku itu terlebih dahulu, hanya karena kovernya cantik atau ada satu kata yang saya sukai dalam deskripsi buku, saya akan langsung membelinya. Saya akan merasa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan, bahkan dalam keadaan seperti itu tak jarang saya pergi ke pagar pembantas lantai atas suatu bangunan dan mengintip ke bawah, berkhayal mengenai kenikmatan dalam menjatuhkan diri dari sana, merasakan angin memburu di sekitar saya saat terjatuh. Tidak, pada saat seperti itu saya tidak pernah memikirkan bagaimana sakitnya setelah mencapai tanah.

Lalu saat lambungan pemikiran tersebut selesai (biasanya setelah satu-dua minggu), saya langsung merasa ditarik kembali ke kenyataan. Hal-hal yang masuk ke dalam pikiran saya bukan lagi hal-hal menyenangkan seperti sebelumnya. Saya diingatkan oleh tugas, oleh absen yang berbaris dan bersiap mencekal ujian saya, oleh kewajiban saya terhadap beasiswa, oleh nilai-nilai saya, oleh jumlah uang di rekening saya, saya teringat kepada semua hal itu dan langsung jatuh ke lembah depresi. Saya akan merasa tidak berguna, merasa bodoh, dan merasa bahwa dunia ini terlalu buruk untuk bisa saya jalani. Saya akan menjadi paranoid yang skeptis, tidak mempercayai apa pun, mencela semua orang, dan memaki-maki diri sendiri karena tidak bisa membenahi diri dan dunia. Ya, dan dunia. Saya akan mencela semua karya yang telah saya tulis, menyadari letak kesalahan sekecil apa pun dan akan semakin depresi karena menyadari bahwa saya tidak berkembang meskipun orang lain berkata sebaliknya. Di saat seperti itu saya akan berubah dari humoris-sarkastis menjadi pengkritik-skeptis. Dunia ini perlu dibenahi, saya harus membenahi dunia ini, saya ingin menghapus dunia ini, dan lain-lain.

Karena itu, saat membaca An Unquiet Mind saya merasa seperti sekaligus menemukan diri sendiri dan menolak bahwa saya mempunyai kelainan kejiwaan seperti itu. Untuk meyakinkan diri sendiri saya akhirnya mencari tes online untuk bipolar disorder dan mengecek diri saya sendiri. Hasilnya? Ternyata saya mempunyai tipe Bipolar II, kondisi bipolar disorder yang mempunyai episode hipomania dan disusul dengan episode depresi yang lebih dominan, bahkan termasuk major depression atau acute depression. Merasa masih gamang, saya akhirnya mencari tes untuk depression disorder, dan menemukan bahwa saya memang menderita major depression. Saya positif manic-depressive.

Tapi kenapa saya baru menyadari mood saya yang mudah berubah ini setelah saya masuk kuliah? Kenapa sebelumnya saya tidak pernah merasa ada yang salah dengan perubahan mood saya?

Ternyata, menurut DSM-IV, gejala manic-depressive memang pada umumnya baru disadari saat penderita berusia awal 20an, walaupun ada juga yang memang merasakannya sejak jauh lebih muda. Dan saya sekarang ini berada pada tahun ke-21 kehidupan saya. Wajar. Semuanya jadi wajar. Dan semuanya menjadi lebih jelas bagi saya.

Memang tes yang saya jalani sampai saat ini hanya didapat secara online dari sebuah website psikologi dimana saya berlangganan artikelnya. Mungkin untuk membuat diagnosa saya lebih baik, saya akan mengunjungi psikolog saya dan meminta tes yang lebih akurat.

Dan bagi yang ingin mengetahui tentang Bipolar disorder, An Unquiet Mind adalah buku yang sangat saya rekomendasikan.

Jadi, kesimpulannya, kelainan yang saya miliki hingga sekarang bertambah menjadi; ADHD-I (Attention Deficit-Hyperactive disorder predominantly inattentive), disleksia, dan bipolar II. God help me.

 

Dengan kaitkata , ,

Saya Ingin Kembali Berkarya

Saya sadari, belakangan ini saya nyaris tidak menulis apa pun selain paper, makalah, atau esai analisis yang merupakan tugas kuliah. Semester kemarin berlalu dengan sebegitu hectic-nya hingga bahkan untuk menulis satu paragraf non-tugas pun saya tidak bisa bagaimana bisa jika untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah pun saya bahkan harus tidak tidur selama dua-tiga hari?

Dalam beberapa kesempatan diskusi bebas di grup internal Psikologi 2010 di Facebook, beberapa teman saya pernah menyatakan ketidakbebasan mereka dalam menangani hal di luar kegiatan kuliah. Well, waktu itu topiknya memang mengenai pergerakan mahasiswa dan suara-suara mahasiswa yang seakan terbungkam oleh padatnya tugas kuliah, tapi ada satu pendapat yang seakan mengena di hati saya.

Jangan-jangan sebenarnya alasan universitas begitu mengedepankan prestasi dan ngotot menekankan pentingnya IPK tinggi kepada mahasiswanya adalah untuk membungkam kreativitas dan pergerakan mahasiswa.

Waktu itu terjadi perdebatan panjang begitu komentar itu muncul. Anak-anak yang merasa diri mereka study-oriented langsung merasa tersinggung dan berkomentar pedas, “Memang apa salahnya menjadi study-oriented?” dan beberapa teman yang skeptis pada pergerakan mahasiswa (saya salah satunya, walaupun kali ini saya diam saja) memandang komentar ini sangatlah sepihak bagi kalangan aktivis saja.

Di saat semuanya ribut, saya terpaku di depan layar monitor. Dan menyadari bahwa kalimat tersebut, dilihat dari sebuah sisi lain, adalah benar adanya.

Dunia saya, semenjak memasuki bangku perkuliahan, sudah bukan lagi hanya untuk belajar.

Sejak kecil saya adalah orang yang study-oriented; mendewakan nilai di atas segalanya dan menganggap orang-orang yang tidak bisa mendapat nilai bagus bukanlah orang yang patut saya hormati. Saya harus sempurna. Saya dilahirkan untuk itu.

Tapi dua tahun vakum dari dunia pembelajaran mengajari saya arti dari kehilangan kesempatan untuk memperoleh ilmu. Saat itu saya menyadari bahwa yang saya inginkan bukanlah nilai bagus. Yang saya inginkan, murni, hanya kesempatan untuk bisa menambah pengetahuan saya tentang banyak hal, dan memformulasikannya dalam mimpi utama saya: menjadi seorang penulis.

Dan Tuhan sangat baik, sangat baik, karena telah mendengarkan keinginan saya yang paling besar dan mengabulkannya dengan perangkat-perangkat yang dapat membantu mimpi saya.

Perangkat yang paling berarti – dan paling utama – adalah beasiswa fullbright saya.

Bodohnya, saya sama sekali tidak menyadari bahwa beasiswa itu adalah suatu karunia yang begitu besar yang sebenarnya merupakan sarana utama untuk menuju mimpi saya. Selama tiga semester saya hanya menganggap beasiswa itu sebagai jalan saya untuk kembali mendapatkan pengetahuan. Ternyata beasiswa saya menawarkan lebih banyak dorongan. Dan saya baru menyadarinya setelah masa depresi panjang di penghujung semester 3 kemarin.

Berikut adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh saya selama mendapatkan beasiswa:

  1. IPK > 3.00
  2. Mengikuti setidaknya satu organisasi ekstra atau intra kampus
  3. Mengikuti kegiatan kepanitiaan di fakultas
  4. Mempunyai karya tulis ilmiah yang dipublikasikan
  5. Mempunyai karya non-ilmiah yang dipublikasikan
  6. Mempunyai prestasi di bidang non-akademis

Selama ini saya dengan bodohnya hanya berusaha memenuhi tiga syarat pertama, karena itu adalah syarat wajib yang harus dipenuhi agar beasiswa bisa terus berjalan. Selama tiga semester saya dicekam ketakutan bahwa saya tidak bisa memenuhi syarat tersebut, pikiran saya buntu oleh adanya kemungkinan beasiswa saya dicabut hingga saya akan kembali tidak bersekolah.

Tapi beberapa hari belakangan, setelah masa depresi panjang yang membutuhkan saya bolak-balik ke psikolog fakultas untuk melakukan terapi, pernyataan salah satu teman saya itu kembali melayang-layang di kepala saya bersamaan dengan salah satu nasihat yang saya terima dari psikolog saya:

You got that 3.5 or so for your GPA and then so what? I don’t care any of it. What are you fighting so hard for? To reach your dream, right? And does that GPA of yours now represent your dream?

Jawabannya, tidak. Dalam IPK saya, dalam perjuangan saya selama tiga semester, mimpi saya sama sekali tidak ada di dalamnya. Mimpi saya simpel hanya ingin mengembangkan pengetahuan dan menjadi seorang penulis, dan hal itu tidak bisa saya dapatkan selama saya memfokuskan diri saya untuk mengejar IPK tinggi. Saya terlalu terobsesi untuk mendapatkan nilai tinggi dan dicekam ketakutan bahwa suatu saat, jika saya lengah, semua fasilitas dan pengetahuan yang saya dapat akan segera diambil dari saya. Saya takut, karena pengetahuan adalah hal paling utama yang tidak akan bisa saya lepaskan.

Dan karena ketakutan itu, saya jadi menutup mata saya pada tiga syarat non-wajib beasiswa saya.

Kembali ke atas dan lihat apakah ketiga hal tersebut. Ya, ketiga hal tersebut adalah dorongan untuk menulis. MENULIS! Beasiswa saya mendorong saya untuk menulis! Beasiswa saya mengizinkan saya untuk menjadi penulis! Tuhan telah mengizinkan saya, dalam cara-NYA yang tidak dapat ditebak, untuk menjadi penulis!

Sewaktu menyadari hal tersebut, saya menangis – setengah karena kebodohan saya tidak menyadarinya sejak awal, dan setengah karena memang kondisi emosi saya masih sangatlah labil.

Dengan menyadari hal itu, saya kembali ke psikolog saya, dan menyatakan bahwa mulai sekarang dalam IPK saya akan terdapat mimpi saya di dalamnya. Saya ingin kembali menulis. Saya ingin kembali berkarya. Beliau (psikolog saya yang begitu baik dan hebat) tersenyum puas.

“Do your best, Ayu,” katanya. “And do what you want, don’t be restricted. This life’s yours, and as long as you do it the way it pleases you, your chance to be here won’t dissapear. UI needs more people like you.”

Jadi, pada masa registrasi online pada tanggal 31 Januari kemarin, saya memantapkan tekad saya. Saya akan lay low pada semester ini, tidak mengambil sks muluk-muluk, mungkin hanya akan mengambil 18 sks. Lalu saya akan membiarkan diri saya terfokus pada menulis dan menulis, menulis apa pun yang non-tugas, dan mungkin akan berusaha mempublikasikannya.

Orang lain bisa saja mendapatkan IPK tinggi dan mendapatkan mimpinya sekaligus. Tapi saya bukan manusia yang sehebat mereka. Saya tahu saya butuh manajemen tersendiri untuk mendapatkan keduanya; salah satu harus mengalah sementara untuk membiarkan yang lainnya berkembang, dan sebaliknya. Untuk sekarang ini, saya akan mementingkan tulisan saya.

Karena saya ingin di dalam IPK saya, terdapat mimpi saya. Karena saya ingin kembali berkarya.

Dengan kaitkata , ,

[Interlude] Emosi Negatif Dalam Social Media

Belakangan ini saya merasa sangat jengah dengan yang namanya jejaring sosial. Tiap masuk ke dalam sebuah situs saya pasti dihadapkan oleh sebuah situs/komentar yang mengandung emosi negatif, seperti “Saya ingin mati” atau “Saya benci X” atau kalimat-kalimat yang mengandung emosi negatif lainnya. Dan, jujur, hal itu sangat mengganggu saya.

Oke, saya tahu kalau salah satu keuntungan social media adalah karena situs macam itu menyediakan tempat untuk curhat. Tapi kadang saya benar-benar jadi merasa terpengaruh pada kalimat dengan emosi negatif. Pernah saya membuka akun Facebook saya, dan di dalam News Feed berderet penuh dengan status-status yang memiliki emosi negatif. Padahal waktu membuka situs tersebut, emosi saya sedang baik, sangat positif malah. Tapi begitu melihat News Feed yang penuh dengan begitu banyak kalimat beremosi negatif, rasanya saya langsung jadi sebal dan mood saya untuk sehari itu langsung hancur berantakan

Saya tidak tahu apakah ini hanya saya yang memang gampang terpengaruh atau memang kalimat-kalimat negatif di jejaring sosial pada akhirnya bisa mempengaruhi emosi seseorang. Mungkin saya akan melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mendapatkan hasilnya.

Dengan kaitkata ,