Tag Archives: review

We Are Skin and Bones

Belakangan ini saya sedang benar-benar tergila-gila dengan David J. Roch, musisi folk asal Inggris. Awal saya mengetahui artis satu ini adalah karena saya sedang senang menontoni variety show So You Think You Can Dance. Saat saya sedang melihat performance salah satu kontestannya, lagu yang dimainkan adalah lagu Skin and Bones milik David J. Roch. Karena lagunya langsung bikin saya merinding di tempat (dan juga karena dance dengan lagu ini hasilnya sangaaaat bagus) maka saya memutuskan untuk mendownload album dari David J. Roch ini yang berjudul Skin + Bones.

Track:

01. Lost Child (4.48)

02. Hour of Need (3.01)

03. Evil’s Pillow (3.56)

04. The Devil Don’t Mind (4.10)

05. Lonely Unfinished (3.09)

06. Only Love (4.37)

07. Dew (4.05)

08. Skin & Bones (3.53)

09. Bones (3.05)

10. Yours (4.59)

Dan ternyata…. SATU ALBUM LAGUNYA SAYA SUKA SEMUA!! Saya jarang suka semua lagu di satu album, tapi saya benar-benar suka semua lagu di album ini, tidak hanya Skin and Bones. Menurut kritikus musik, David J. Roch memiliki kecenderungan musik dan lirik dark romantic. Suaranya juga dianggap “Supernatural” karena dia mempunyai range suara yang lebar dan indah. Sebagian besar liriknya tentang cinta sejati, pertanyaan tentang Tuhan, dan keikhlasan. Melodi lagunya mendayu dengan indah namun tidak cengeng, rasanya seperti mendengarkan Elf cowok bernyanyi di tengah hutan. So clear, so sacred. Very recommended buat yang suka musik romantis nan kalem. Beautiful songs. 🙂

Dengan kaitkata , ,

Psycho-Pass: Ketika Kehidupan Ditentukan Oleh Seberapa Sehat Mental Seseorang

Title : Psycho-Pass (サイコパス, saiko pasu)

Directed by : Naoyoshi Shiotani

Studio: Production I.G.

Genre : Action, Sci-fi, Psychological Thriller

Status : Ongoing (22 episodes planned, 3 episodes aired)

Rating : 18+ (for graphic violence and profanity)

The Story

“Apa yang akan terjadi ketika kehidupan seseorang dalam lingkungan sosial ditentukan oleh stabilitas mental orang tersebut?”

Hal itulah yang menjadi topik utama dari cerita besutan Production I.G. yang mulai tayang sejak tanggal 11 Oktober 2012 kemarin. Dikisahkan, di masa depan manusia mulai menganggap bahwa kebergunaan suatu individu dalam lingkungannya dipengaruhi oleh seberapa sehat mental individu tersebut. Oleh karena itu diciptakanlah sebuah sistem pendeteksi kondisi psikologis dan kepribadian yang bernama Psycho-Pass. Psycho-Pass ini akan menghasilkan data kondisi psikologis seseorang yang bernama “Crime Coefficient” yang nantinya tingkatan kemungkinan kebergunaan akan dianalisa oleh Sybill System. Jika Crime Coefficient seseorang melebihi angka 60, maka akan dilakukan penanganan berupa konsultasi psikologis oleh departemen kesehatan, namun jika angka melebihi 100, maka hal itu menyatakan bahwa orang tersebut sudah masuk ke dalam kategori kriminal yang menuntut diturunkannya personil keamanan untuk menanganinya.

Kisah Psycho-Pass mengikuti kegiatan Unit 1 dari Divisi Keamanan dan Investigasi. Unit ini khusus menangani masalah-masalah kriminal yang terjadi akibat peningkatan aktivitas Crime Coefficient seseorang. Dalam unit ini terdapat dua petugas resmi kepolisian, Inspektur Nobuchika Ginoza dan seorang inspektur baru, Akane Tsunemori. Meskipun hanya terdiri dari dua orang petugas resmi, namun mereka didukung oleh “Enforcers“, sekelompok orang dengan status Latent Criminal (Crime Coefficient lebih dari 100) yang sengaja dipekerjaakan untuk menangkap atau mengeliminasi Latent Criminal yang berkeliaran. Enforcers ini terdiri dari empat orang: Shinya Kogami, Tomomi Masaoka, Shusei Kagari, dan Yayoi Kunizuka.

Bagi penggemar Katekyo Hitman Reborn! pasti akan merasa familiar dengan artwork dari anime satu ini, karena yang menangani character design anime ini adalah orang yang sama dengan KHR, yaitu Akira Amano. Background artwork penuh dengan CGI yang berkualitas, suatu hal yang memang sudah menjadi kelebihan Production I.G. sejak lama. Kisah ini dikabarkan akan memiliki total 22 episode, meski hingga 25 Oktober kemarin, baru tiga episode yang ditayangkan. Episode 4 menurut jadwal akan tayang pada tanggal 1 November mendatang.

The Depression and Mental Health

Pada Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober kemarin, WHO mengangkat tema Depresi dan menyatakan bahwa kini depresi telah menjadi 2nd Global Burden of Disease, setingkat di bawah penyakit jantung. Hal ini nampaknya mulai membuka mata banyak negara akan ancaman tersembunyi yang ditimbulkan oleh gangguan psikologis yang satu ini. Dan nampaknya, Jepang menyuarakan jawaban mereka atas pentingnya memelihara kesehatan mental dengan cara mengeluarkan anime yang satu ini. Terbit hanya selang sehari dari World Mental Health Day 2012, anime ini memberi informasi pada khalayak mengenai seberapa mudah stres menjangkit anak muda jaman sekarang dan bagaimana peran kesehatan mental dalam keberlangsungan lingkungan.

Dalam Psycho-Pass juga diselipkan pesan mengenai kelemahan alat pengukuran kondisi psikologis, yaitu Sybill System dan Psycho-Pass itu sendiri. Masalah etika kembali disinggung mengenai pengukuran idiografik dan nomotetik, terutama mengenai pengukuran dan analisis instan yang menyeluruh tanpa mempertimbangkan aspek kondisi dan pribadi. Oleh karena itu, meskipun Sybill System mampu mendeteksi kondisi mental semua orang dan mengelompokkan mereka sebagai sehat/tidak sehat, masih diperlukan keberadaan petugas lapangan yang pada akhirnya akan memutuskan apakah status tersebut sesuai untuk individu tersebut.

Overall Rating

10/10.

Yap, saya bukan berlebihan. Mungkin saya sedikit bias karena kisah ini mengangkat tema psikologi, but really, this story’s worth to try. Tiga episode dan saya langsung berniat untuk setia menunggu lanjutannya. Great theme, great plot, great artwork (the CGI? to die for), nice characterization, nice and important messages delivery, I think this story would gain popularization for this season. So yeah, recommended to watch.

Dengan kaitkata , , ,

Double Review: A Game of Thrones The Novel and TV Series

“When you play a game of thrones, you win…. or you die.” – Cersei Baratheon

Saat ini saya sedang rajin melalap buku seri A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin. Sekitar seminggu yang lalu saya baru menyelesaikan buku pertamanya, A Game of Thrones, sekaligus menonton tv series-nya. Dan karena bukunya sudah saya review secara lengkap di Goodreads, maka yang akan saya review di sini lebih mengarah ke tv seriesnya dan perbandingannya dengan versi novelnya.

TV series

Title : Game of Thrones

Broadcaster : HBO

Episodes : 10 episodes (season 1)

Genre : Fantasy, adventure

Rating : 18+

Creators : David Benioff, D. B. Weiss

Cast : Lena Headey, Jack Gleeson, Sean Bean

Score : 4 from 5 stars

The synopsis

Game of Thrones mengisahkan mengenai kerajaan Seven Kingdoms, sebuah kerajaan yang terbentuk dari persatuan tujuh kerajaan besar di dataran Westeros. Robert Baratheon adalah raja Seven Kingdoms saat ini, yang mendapatkan tahtanya dengan cara melakukan kudeta terhadap pemerintahan raja sebelumnya, The Mad King Aerys dari dinasti Targaryen. Suatu hari, tangan kanan Robert yang juga adalah ayah angkatnya, Jon Arryn, meninggal dunia secara mendadak. Merasa  tidak percaya pada orang-orang di dekatnya, Robert akhirnya memutuskan jauh-jauh pergi ke Winterfell, sebuah daerah di Utara yang selalu dingin meskipun tengah mengalami musim panas. Ia datang untuk meminta sahabat sejak kecilnya, Eddard Stark (atau juga sering mendapat julukan Ned), mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Jon Arryn.

Ned awalnya ingin menolak tanggung jawab tersebut, tapi kemudian istrinya, Catelyn, mendapatkan surat dari istri Jon Arryn, yang kebetulan adalah adiknya, yang mengatakan bahwa Jon tidak mati secara normal, melainkan dibunuh oleh keluarga Lannister, yang anak perempuannya merupakan istri dari Robert dan saudara kembarnya adalah komandan pasukan pribadi Robert. Karena merasa perlu untuk menyelidiki kebenaran berita ini, juga untuk melindungi sahabatnya, akhirnya Ned memutuskan untuk pergi ke King’s Landing, tempat pusat pemerintahan Seven Kingdoms berada.

Kewajiban ganda untuk menjadi tangan kanan raja dan menjaga Winterfell membuat Ned dan Catelyn membagi putra-putri mereka. Ned akan membawa Sansa, anak keduanya sekaligus putri tertua yang ingin Robert jodohkan dengan putra mahkota, Arya, si anak ketiga yang tomboy, dan Bran, anak keempat yang baru berusia 10 tahun (7 tahun di novel). Sementara untuk di Winterfell akan tinggal Robb, putra sulung yang memang adalah pewaris Winterfell, dan Rickon, putra bungsu yang masih terlalu kecil. Catelyn diputuskan untuk tetap berada di Winterfell untuk menjaga Rickon. Jon Snow, anak haram Ned yang dibesarkan di keluarga Stark, memutuskan untuk ikut pamannya, Benjen Stark, menjadi anggota Night’s Watch, sebuah kelompok yang menjaga The Wall dari serangan makhluk-makhluk liar di luar batas dinding.

Perencanaan telah dibuat dan segala kebutuhan telah disiapkan, sampai akhirnya terjadi suatu kecelakaan pada Bran yang menyebabkan anak itu lumpuh permanen dan tidak dapat mengikuti perjalanan ke King’s Landing. Ned semakin was-was setelah kecelakaan putranya, mencurigai kehadiran Lannister di balik kejadian yang menimpa putranya, dan akhirnya memutuskan untuk menyelidikinya di King’s Landing, menggunakan otoritasnya sebagai tangan kanan raja. Namun tanpa ia sadari, ia justru melibatkan dirinya dalam sebuah permainan konspirasi tahta yang kelak akan menciptakan perang besar antar tujuh keluarga besar Seven Kingdoms.

The review

Saya sama sekali tidak tahu harus lebih menyukai yang mana; versi novelnya atau tv serinya. Keduanya punya kelebihan masing-masing yang rasanya melengkapi satu sama lainnya. Versi novel mempunyai detil background universe yang lengkap–hingga terkadang terkesan bertele-tele–dan konflik serta misteri yang lebih kompleks, dengan tokoh yang jauh lebih banyak juga, tentunya. Versi tv seri mempunyai plot yang lebih cepat, namun kuat dalam segi hubungan antarkarakter, yang sedikit gagal ditunjukkan di novel selain hubungan karakter narator dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam segi plot, alur tv seri mengikuti dengan presisi alur novel hingga tidak menyulitkan penonton yang sudah terlebih dahulu membaca bukunya.

Hal yang saya suka dari versi tv seri, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, adalah hubungan antarkarakter non-narator. A Game of Thrones–dan keseluruhan seri A Song of Ice and Fire–dikisahkan dengan sudut pandang keroyokan. Total ada delapan narator yang mengisahkan A Game of Thrones saja (dan bertambah di buku keduanya, A Clash of Kings), yaitu: Bran, Eddard, Catelyn, Tyrion, Jon, Daenerys, Sansa, dan Arya. Hubungan emosional kedelapan orang ini berkembang dengan sangat baik di novel, bahkan kita bisa ikut merasakan perubahan-perubahan dalam sifat dan cara mereka mengambil keputusan. Namun ada karakter-karakter penting yang gagal ditunjukkan hubungannya oleh GRRM karena mereka tidak mendapat jatah sudut pandang. Salah satu contoh adalah hubungan Robert dengan istrinya, Cersei. Di novel hubungan mereka terlihat dingin-dingin saja, seakan mereka menikah hanya karena kewajiban. Namun di tv seri ditunjukkan bahwa Cersei setidaknya pernah mencintai Robert, beberapa tahun yang lalu. Juga ada hubungan Cersei dengan saudara kembarnya, Jamie Lannister. Di novel hubungan inses mereka tidak terlalu diperlihatkan emosinya dan cenderung hanya memfokuskan pada hubungan seksual yang ditangkap oleh karakter narator.

Satu hal lain yang juga saya suka dari versi tv seri adalah keputusan Benioff dan Weiss untuk menaikkan umur para karakter minimal 2 tahun dari usia asli mereka di novel. Dengan keputusan ini setting cerita jadi lebih masuk akal. Lagipula, siapa yang tega menikahkan anak usia 13 tahun (Dany) dengan pemimpin suku barbar atau menjodohkan gadis kecil usia 11 tahun (Sansa) dengan putra mahkota yang tak kalah mudanya, 12 tahun (Jeoffrey), atau membiarkan anak usia 7 tahun (Bran) melihat pemenggalan kepala pertamanya, atau membiarkan anak 14 tahun (Robb) menjadi penguasa Winterfell? Well, not me, that’s GRRM. Jadi ya, keputusan untuk menaikkan usia para karakter adalah keputusan yang tepat.

Namun demikian, versi novel juga memiliki keunggulan tersendiri. Ada banyak fakta mengenai latar belakang setting yang gagal diadaptasi ke versi tv seri, terutama mengenai masa lalu para karakter yang sebenarnya juga penting, seperti kematian Lyanna, adik Ned yang seharusnya menikahi Robert, kematian Brandon, kakak Ned yang seharusnya menikahi Catelyn, atau pergolakan tahta saat kekuasaan masih berada di tangan dinasti Targaryen. Semua itu tidak dibahas di tv seri walaupun justru sebenarnya fakta itulah yang menjadi dasar utama kejadian-kejadian di Game of Thrones.

Dan ironisnya, hubungan karakter narator dengan orang-orang di dekatnya justru gagal ditampilkan di tv seri. Di novel kita bisa tahu bagaimana perasaan dilematis Jon Snow terhadap keluarga Stark, terutama saudara-saudaranya yang selalu menganggapnya seakan saudara kandung, bagaimana ia selalu iri namun juga sangat menyayangi mereka. Tv seri juga gagal menangkap perkembangan beberapa karakter yang terlihat jelas di novel. Di serinya, Robb sejak awal sudah terlihat sebagai sosok paling tua yang mengayomi adik-adiknya dan komandan yang tegas di medan perang, padahal sebenarnya di novel ia mengalami perubahan drastis dari seorang pemuda 14 tahun yang ceria dan kurang percaya diri menjadi sosok Lord Winterfell yang sebenarnya, yang dingin dan berwibawa. Juga ada Sansa yang karakternya terlihat minim walaupun di novel ia memegang peran sebagai narator dan mengalami perkembangan karakter yang signifikan–bahkan lebih drastis daripada Robb.

Kritik saya terhadap kedua versi hanyalah kevulgaran yang terkadang sampai membuat saya sendiri malu. Di novel kata-kata yang menjelaskan masalah kekerasan dan seksualitas terkesan terlalu gamblang, dan di tv seri pun kedua hal tersebut sangat ditonjolkan, dan malah diperbanyak. Sayangnya, kenyataan bahwa potensi plot cerita yang bagus justru membuat banyak orang mundur karena adanya gore dan seksualitas yang berlebihan.

But anyway, di novel pertama ini saya menyukai tiga karakter:

1. Tyrion Lannister

Peter Dinklage as Tyrion Lannister

Si kerdil keluarga Lannister yang dianggap aib oleh keluarganya kecuali oleh saudaranya, Jaime, yang Tyrion anggap sebagai satu-satunya keluarga yang menyayanginya dan mendapat rasa sayangnya. Menjadi kerdil sama sekali bukan alasan untuk rendah diri bagi Tyrion, justru ia memotivasi dirinya untuk rajin membaca, karena menurutnya jika Cersei bisa menjadi ratu dan Jamie menjadi ksatria, maka yang bisa dilakukannya adalah menambah pengetahuan sebisa mungkin. Ia terkenal dengan sarkasme dan kemampuan negosiasi yang handal. Intinya, mulutnya adalah senjatanya. ^^;

2. Eddard ‘Ned’ Stark

Sean Bean as Lord Eddard Stark

Oke, sebagai tangan kanan raja, Ned memang…. well, cenderung tolol dan terlalu naif, tapi saya sangat mengagumi kebijaksanaannya sebagai ayah. Ia termasuk ayah yang mendukung apa pun minat putra-putrinya, jenis ayah yang sangat non-mainstream di dunia Westeros yang sangat ketat aturan. Ia tidak memaksa Arya yang tomboy untuk mempelajari teknik sulam ataupun menjahit agar bisa seperti Sansa yang feminin, ia justru memberi Arya guru berpedang. Ia juga selalu mengutamakan keluarganya, bahkan Jon Snow yang notabene adalah anak haramnya. Dan terlepas dari sikap naifnya dalam bertindak, Ned adalah satu-satunya orang di istana yang tidak buta–atau pura-pura buta–terhadap perebutan tahta di istana.

3. Robb Stark

Richard Madden as Robb Stark

Stark generasi kedua yang paling saya suka. Terlahir sebagai pewaris Winterfell tidak lantas membuat Robb menjadi anak yang angkuh. Ia ramah pada siapa pun yang tinggal di Winterfell, bahkan pada Theon Greyjoy dan Osha, yang merupakan tahanan keluarga Stark. Ia juga sangat akrab dengan saudara-saudaranya dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Jon Snow yang selalu ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri. Di novel perubahan Robb dari seorang pemuda menjadi sesosok pemimpin sangat jelas terlihat. Di awal ia diceritakan suka berbuat usil bersama Jon untuk mengerjai adik-adik mereka, namun begitu keluarga Stark terpecah-belah, ia segera beradaptasi dan belajar bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin keluarga–dan nantinya, sebagai raja.

Yak. Itulah ketiga karakter yang saya sukai di Game of Thrones….. tapi, duh, ternyata memang susah membatasi siapa saja yang harus disukai di kisah ini. Well, whatever.

Jon Snow

Kit Harrington as Jon Snow

Karakter Jon ini termasuk karakter yang mau tak mau saya sukai karena dia adalah salah satu narator cerita (dan aktornya ganteng), tapi sebenarnya tokoh Jon memang dilematis. Terlahir sebagai anak haram dari Ned Stark, Jon tidak diizinkan untuk menyandang marga Stark, karena itu ia memiliki marga Snow, marganya para anak haram di utara. Akrab dengan saudara-saudaranya yang murni Stark (kecuali Sansa) namun selalu salah tingkah karena tidak disukai Lady Catelyn, Jon Snow seolah bingung di mana tempatnya berada. Ia akhirnya memutuskan untuk mengabdi pada Night’s Watch, sebuah perkumpulan yang menjaga The Wall dari serbuan wildlings di balik dinding, walaupun setelah di sana ia tetap memikirkan saudara-saudara Stark-nya. Dekat dengan Robb yang sebaya dengannya membuat Jon sering memikirkan keadaan saudaranya yang satu itu, dan membuatnya secara impulsif memutuskan untuk pergi dari The Wall agar bisa membantu Robb di medan perang, suatu keputusan yang–jika berhasil–akan membahayakan nyawanya.

Arya Stark

Maisie Williams as Arya Stark

Arya adalah satu-satunya karakter wanita yang saya suka di kisah ini, dan memang, satu-satunya karakter wanita yang non-mainsteram di Game of Thrones. Walaupun terlahir di keluarga bangsawan, Arya selalu menolak belajar tata krama keputrian dan justru menyenangi bermain panah dan pedang bersama adiknya, Bran. Hobi maskulinnya ini seringkali membuat Arya mendapat masalah, terutama dengan Jeoffrey sang putra mahkota. Namun setelah Ned memperkenalkannya pada Syrio, guru ‘dansa’-nya, ia menjadi semakin mahir berpedang dan kemampuan itulah yang mampu menyelamatkannya saat keluarga Stark di King’s Landing berada dalam kondisi kritis.

The direwolves

Nymeria, Arya's direwolf

Satu hal yang saya lumayan sesali pada saat menonton tv seri Game of Thrones adalah minimnya kehadiran para direwolves yang menjaga anak-anak Stark–dan Jon Snow. Dikisahkan setelah Bran melihat pemenggalan kepala pertamanya, saat mereka dalam perjalanan kembali ke Winterfell, Robb menemukan mayat direwolf betina di dekat sungai (di tv seri yang menemukannya adalah Ned). Namun ternyata di sekitar mayat itu terdapat bayi-bayi serigala yang tengah menyusu pada mayat ibu mereka. Tadinya Ned ingin segera membunuh mereka sampai Jon mengingatkan bahwa direwolf adalah lambang keluarga Stark dan ternyata bayi direwolf tersebut berjumlah lima, tiga jantan dan dua betina, persis seperti jumlah putra-putri Stark. Atas desakan Robb, akhirnya para Stark memelihara direwolves tersebut (Jon memelihara direwolf albino yang ternyata terpisah dari saudara-saudaranya, persis seperti keberadaan dirinya dalam keluarga Stark). Robb menamai serigalanya Grey Wind, Sansa menamainya Lady, Arya memiliki Nymeria, Bran memberi nama serigalanya Summer setelah bangun dari komanya, Rickon menamai miliknya Shaggydog, dan Jon menamai serigala albinonya Ghost.

Dalam versi novel, peran para direwolves ini sangat penting dan kerap menyelamatkan nyawa para Stark, seperti Summer yang menyelamatkan Bran dari pembunuh gelap, Nymeria yang menyelamatkan Arya saat Pangeran Jeoffrey hendak melukainya, Ghost yang menyelamatkan Jon dari serangan White Walker, bahkan Grey Wind yang membantu Robb berperang melawan Lannister. Sayangnya, kehadiran mereka sangat jarang terekspos di tv seri, padahal saya rasa kehadiran mereka bisa menjadi ikon tersendiri bagi tv serinya–sebagaimana mereka menjadi ikon novelnya.

Yah…. pada akhirnya saya tetap tidak bisa memutuskan versi mana yang lebih saya sukai–mungkin saya memang menyukai keduanya. Yang jelas, novel dan tv seri Game of Thrones ini sangat saya rekomendasikan bagi para pencinta fantasi yang menginginkan plot dan konflik yang kompleks namun tetap memiliki unsur fantasi di dalamnya. Hanya saja, saya tidak menyarankan kisah ini bagi mereka yang belum berusia 18 tahun karena kadar kekerasan dan seksualitas di novel ini yang, well, ada kalanya saya sendiri (yang sudah berusia 20+) merasa jengah. So kids, never touch this book before you reach your legal age.

And last but not least, winter is coming.

Dengan kaitkata , ,

Lisa Hannigan: Lagu Untuk Laut dan Burung

Baru-baru ini saya tengah mendengarkan seorang penyanyi asal Irlandia bernama Lisa Hannigan. Sebelumnya ia dikenal sebagai teman duet Damien Rice yang terkenal dengan tembang Volcano-nya. Pada tahun 2007 terjadi perselisihan antara Damien dan Lisa hingga Lisa akhirnya memutuskan untuk berpisah dari Damien dan bersolo karir. Ia mengeluarkan debut albumnya Sea Sew pada tahun 2008 dan kemudian disusul dengan album keduanya, Passenger, pada tahun 2011 kemarin.

Lisa Hannigan - Sea Sew (2008)

 

Lisa Hannigan - Passenger (2011)

Saya mendengarkan Lisa Hannigan karena saya menyukai kolaborasinya dengan Damien Rice. Bagi saya lagu-lagu Damien baru terasa soul-nya jika dinyanyikan berdua dengan Lisa, karena itu saya merasa sangat kecewa ketika Lisa memutuskan untuk keluar dari band Damien. Dan akhirnya, karena lagu solo Damien sama sekali tidak sesuai dengan selera saya, saya mencoba mendengar bagaimana lagu Hannigan pasca berpisah dari Damien.

Dan hasilnya? Luar biasa! Saya bahkan mengakui bahwa saya lebih menyukai rythm Lisa yang penuh dengan alunan cello dan gitar serta piano dalam sebuah komposisi sederhana, tidak seperti rythm Damien yang penuh dengan orkestra kompleks. Lirik-liriknya sederhana namun bermakna dan terkadang memiliki penafsiran yang tersembunyi di baliknya.

Saya otomatis langsung mengunduh kedua albumnya – yap, langsung keduanya – dan tidak ada satu album pun yang membuat saya kecewa. Genre musiknya tidak berubah, rythm-nya tetap sederhana dan lirik-liriknya benar-benar khas Lisa Hannigan. Di album pertamanya Lisa banyak memberi rujukan pada laut dalam nyaris setiap lagunya, dan sebagian besar lagunya bercerita tentang kehidupan, sakit hati, kekecewaan, dan perubahan. Sepertinya album ini, melihat dari jangka waktu rilisnya, kebanyakan ditulis berdasarkan perselisihannya dengan Damien. Lalu pada album kedua, Lisa lebih sering menggunakan kata “burung” dalam lagu-lagunya, dan kebanyakan lagunya berkisah tentang melepas masa lalu dan perjalanan dengan takdir baru. Such a nice experience hearing her.

Di bawah ini saya beri contoh salah satu karya Lisa Hannigan. Sebuah lagu yang menjadi favorit kedua saya – yang pertama berjudul “Teeth” – dalam album pertama Lisa Hannigan, Sea Sew. Lagu ini berjudul “Pistachio”. Happy listening! 😀

Lyric

“Pistachio”

Sit down and fire away, I know it’s tricky when you’re feeling low,
When you feel like your flavour
Has gone the way of a pre-shelled pistachio…
I know you’re weighed down
You’re fed up with your heavy
Your boots
Laced with melancholy notion’s all you own…I do – like sugar – tend toward the brittle and sticky when spun
And I know my demeanor
Has gone the way of a photo left out in the sun…
I try to keep myself in lillies and flax seeds…
Oh what a folly- fooling just yourself…

Sit down and smoke away, I wouldn’t knock it till you’re in them shoes
Oh watch as ours subtlety blows away as a blusher gives way to a bruise…
But seemly, we’d freely make a trade-off
A dry rot to take the weight off
Swap the boots for red shoes

Bagaimana menurut kalian lagunya? Kalau ada yang tahu artis folk yang mirip genre-nya dengan Lisa Hannigan, boleh juga rekomendasikan ke saya. 😀
Dengan kaitkata ,

Let’s go Folk, folks!

Belakangan ini genre musik saya berubah total. Setelah sekitaran tahun 2008-2009 saya sangat cinta dengan RnB dan HipHop, memuja-muja Rihanna, Lady Gaga, dan Beyonce, sekarang genre lagu saya berubah 180 derajat dari penuh dengan hingar-bingar menuju ke sebuah genre yang kalem dan ancient.

Sekarang saya mengabdikan diri saya pada aliran FOLK, baik itu pop maupun rock.

Apa sih, aliran folk itu?

Folk music is an English term encompassing both traditional folk music and contemporary folk music. The term originated in the 19th century. Traditional folk music has been defined in several ways: as music transmitted by mouth, as music of the lower classes, and as music with unknown composers. It has been contrasted with commercial and classical styles. This music is also referred to as traditional music and, in US, as ‘roots music’.” – Wikipedia

Aslinya, definisi folk seperti itu. Namun musik folk modern lebih memfokuskan diri pada pemakaian instrumen-instrumen etnik seperti perkusi, kendang, harpa, dll. Dulu, jaman saya masih sangat kecanduan anime dan manga, saya menyukai jenis japanese folk music yang sering diusung dalam anime-anime, terutama anime produksi studio Ghibli. Suasana etnik yang ditampilkan dalam alunan seruling atau instrumen khas Jepang selalu membuat hati nyaman dan teringat akan sawah dengan padi menghijau atau malam hari yang sejuk dengan bulan purnama di langit cerah. Dari semua lagu folk Ghibli, saya paling suka dengan sontrek Tonari no Totoro (Our Neighbor Totoro) yang berjudul “Path of Wind”.

some of Ghibli movies

Tonari no Totoro

Pada masa-masa SMA, kecintaan saya terhadap folk music sempat terlupakan karena teman-teman terdekat saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu RnB, dan memang pada saat itu RnB sedang banyak merajai tangga lagu internasional. Rihanna, Beyonce, dan Black Eyed Peas merajai playlist saya sebagaimana lagu-lagu mereka merajai Billboard chart. Bahkan sampai pada kemunculan Lady Gaga, saya masihlah pencinta setia RnB dengan dunia hingar-bingar mereka.

Namun memasuki dunia kuliah, pergaulan saya berubah jauh. Di tingkat pertama pengaruh teman yang menyukai genre New Age dan Ambient sangat kuat hingga saya juga mulai mendengarkan Enya, memperbanyak koleksi Kitaro dan Yuki Kajiura saya (yang memang saya sukai sejak lama namun sempat tidak bertambah jumlah koleksinya), dan rajin mengunduh lagu-lagu Yanni.

Enya

Sampai akhirnya ketika memasuki tingkat dua perkuliahan, RnB dan New Age tidak bisa lagi mendatangkan inspirasi bagi saya dalam menulis maupun mengerjakan tugas. Apalagi sekarang ini saya jarang mendengarkan radio karena kesibukan dan faktor headset handphone yang rusak dan masih belum didapatkan penggantinya maklum, handphone merek underground. Karena kurangnya referensi musik RnB dan New Age yang baru, saya akhirnya dengan iseng berbicara masalah musik favorit dengan beberapa teman penulis saya niat awalnya supaya musiknya bisa dicolong :p. Ternyata, sebagian besar teman penulis yang saya tanya mempunyai selera musik yang hampir sama. Dari salah seorang teman saya mendapatkan rekomendasi untuk mendengarkan Bat For Lashes (Natasha Khan). Dari teman yang lain saya mendapat rekomendasi Cecile Corbel. Suka dengan musik-musik mereka, saya iseng menjelajah situs-situs untuk mencari artis-asrtis serupa dengan mereka hingga menemukan –dan jatuh cinta– pada dua artis, Vienna Teng dan Florence + The Machine. Koleksi lagu folk saya bertambah pesat.

Sekarang ini, koleksi album folk saya sudah ada sekitar 9 album:

Bat For Lashes - Two Suns

 Mengusung aliran Folktronica, Natasha Khan, yang memkai nama panggung Bat For Lashes meghadirkan lagu-lagu gelap dengan lirik yang surealis dan sulit ditebak maknanya. Album Two Suns dikabarkan berada dalam urutan #5 di UK Albums chart dan memenangkan Best Alternative Act  dalam UK Asian Music Award. Saya mendengarkan Natasha setelah mendapat rekomendasi dari salah satu teman penulis saya, dan kebetulan memang saya jatuh cinta pada salah satu lagu berjudul “Daniel” di album ini.

Vienna Teng - Waking Hour

Vienna Teng - Warm Strangers

Vienna Teng - Dreaming Through The Noise

Vienna Teng - Inland Territory

Berbeda dengan BFL, Vienna Teng mengedepankan suara piano dalam semua lagunya, walaupun instrumen etnik yang lainnya juga tak ketinggalan. Vienna adalah musisi folk favorit saya karena lirik-lirik lagunya yang begitu implisit dan sureal. Vienna Teng ini murni hasil penemuan saya sendiri. Setelah menemukan satu fanvid Alexander The Movie dan Hetalia – Axis Power yang menggunakan lagunya sebagai backsound, saya pun memutuskan untuk mengunduh album pertamanya untuk coba-coba. Ternyata, begitu mengunduh satu album, saya ketagihan dengan alunan piano dan lirik-lirik surealis yang disajikan oleh Vienna Teng, maka jadilah saya mengoleksi semua albumnya.

Florence + The Machine - Lungs

Florence + The Machine - Ceremonials

Sama seperti Vienna Teng, Florence + The Machine ini juga hasil penemuan saya sendiri. Saat sedang asik mengacak-acak azlyrics.com, saya tanpa sengaja melihat promo album Ceremonials dan jadi tertarik untuk mencari tahu karena nama band-nya yang unik. Entah kebetulan atau takdir, ternyata FATM ini juga mengusung genre folk, lebih tepatnya folk rock dan folktronica. FATM bagi saya lebih seperti gabungan kualitas BFL dan Vienna Teng. Irama lagunya yang banyak menggunakan instrumen elektronik dengan tonjolan instrumen etnik yang khas mengingatkan saya pada irama-irama BFL sementara lirik-lirik lagunya yang terkesan surealis sangat mirip seperti Vienna Teng. Band yang berasal dari UK ini sering membawakan lagu-lagu berirama English folk.

Cecile Corbel - The Borrower Arrietty Image Album

Cecile Corbel - Songbook vol.1

Cecile Corbel adalah artis yang baru saja diperkenalkan pada saya, karena itu saya baru mempunyai dua albumnya. Diperkenalkan kepada saya melalui salah seorang teman penulis (lagi) dan sebuah film terbaru Ghibli, The Borrower Arrietty, saya langsung jatuh cinta pada kelembutan alunan harpanya. Mengusung aliran folk pop, artis Perancis ini telah menciptakan dan menyanyikan lagu dalam banyak bahasa, namun mayoritas karyanya adalah celtic folk.

Demikianlah kesembilan album modern folk milik saya. Sampai sekarang saya masih aktif mencari-cari artis folk yang berkualitas lainnya. Kalau ada yang entah bagaimana juga menyukai musik-musik folk, feel free to give me some good recs! 😉

 

 

 

 

Dengan kaitkata , ,