Tag Archives: song

We Are Skin and Bones

Belakangan ini saya sedang benar-benar tergila-gila dengan David J. Roch, musisi folk asal Inggris. Awal saya mengetahui artis satu ini adalah karena saya sedang senang menontoni variety show So You Think You Can Dance. Saat saya sedang melihat performance salah satu kontestannya, lagu yang dimainkan adalah lagu Skin and Bones milik David J. Roch. Karena lagunya langsung bikin saya merinding di tempat (dan juga karena dance dengan lagu ini hasilnya sangaaaat bagus) maka saya memutuskan untuk mendownload album dari David J. Roch ini yang berjudul Skin + Bones.

Track:

01. Lost Child (4.48)

02. Hour of Need (3.01)

03. Evil’s Pillow (3.56)

04. The Devil Don’t Mind (4.10)

05. Lonely Unfinished (3.09)

06. Only Love (4.37)

07. Dew (4.05)

08. Skin & Bones (3.53)

09. Bones (3.05)

10. Yours (4.59)

Dan ternyata…. SATU ALBUM LAGUNYA SAYA SUKA SEMUA!! Saya jarang suka semua lagu di satu album, tapi saya benar-benar suka semua lagu di album ini, tidak hanya Skin and Bones. Menurut kritikus musik, David J. Roch memiliki kecenderungan musik dan lirik dark romantic. Suaranya juga dianggap “Supernatural” karena dia mempunyai range suara yang lebar dan indah. Sebagian besar liriknya tentang cinta sejati, pertanyaan tentang Tuhan, dan keikhlasan. Melodi lagunya mendayu dengan indah namun tidak cengeng, rasanya seperti mendengarkan Elf cowok bernyanyi di tengah hutan. So clear, so sacred. Very recommended buat yang suka musik romantis nan kalem. Beautiful songs. 🙂

Dengan kaitkata , ,

Lisa Hannigan: Lagu Untuk Laut dan Burung

Baru-baru ini saya tengah mendengarkan seorang penyanyi asal Irlandia bernama Lisa Hannigan. Sebelumnya ia dikenal sebagai teman duet Damien Rice yang terkenal dengan tembang Volcano-nya. Pada tahun 2007 terjadi perselisihan antara Damien dan Lisa hingga Lisa akhirnya memutuskan untuk berpisah dari Damien dan bersolo karir. Ia mengeluarkan debut albumnya Sea Sew pada tahun 2008 dan kemudian disusul dengan album keduanya, Passenger, pada tahun 2011 kemarin.

Lisa Hannigan - Sea Sew (2008)

 

Lisa Hannigan - Passenger (2011)

Saya mendengarkan Lisa Hannigan karena saya menyukai kolaborasinya dengan Damien Rice. Bagi saya lagu-lagu Damien baru terasa soul-nya jika dinyanyikan berdua dengan Lisa, karena itu saya merasa sangat kecewa ketika Lisa memutuskan untuk keluar dari band Damien. Dan akhirnya, karena lagu solo Damien sama sekali tidak sesuai dengan selera saya, saya mencoba mendengar bagaimana lagu Hannigan pasca berpisah dari Damien.

Dan hasilnya? Luar biasa! Saya bahkan mengakui bahwa saya lebih menyukai rythm Lisa yang penuh dengan alunan cello dan gitar serta piano dalam sebuah komposisi sederhana, tidak seperti rythm Damien yang penuh dengan orkestra kompleks. Lirik-liriknya sederhana namun bermakna dan terkadang memiliki penafsiran yang tersembunyi di baliknya.

Saya otomatis langsung mengunduh kedua albumnya – yap, langsung keduanya – dan tidak ada satu album pun yang membuat saya kecewa. Genre musiknya tidak berubah, rythm-nya tetap sederhana dan lirik-liriknya benar-benar khas Lisa Hannigan. Di album pertamanya Lisa banyak memberi rujukan pada laut dalam nyaris setiap lagunya, dan sebagian besar lagunya bercerita tentang kehidupan, sakit hati, kekecewaan, dan perubahan. Sepertinya album ini, melihat dari jangka waktu rilisnya, kebanyakan ditulis berdasarkan perselisihannya dengan Damien. Lalu pada album kedua, Lisa lebih sering menggunakan kata “burung” dalam lagu-lagunya, dan kebanyakan lagunya berkisah tentang melepas masa lalu dan perjalanan dengan takdir baru. Such a nice experience hearing her.

Di bawah ini saya beri contoh salah satu karya Lisa Hannigan. Sebuah lagu yang menjadi favorit kedua saya – yang pertama berjudul “Teeth” – dalam album pertama Lisa Hannigan, Sea Sew. Lagu ini berjudul “Pistachio”. Happy listening! 😀

Lyric

“Pistachio”

Sit down and fire away, I know it’s tricky when you’re feeling low,
When you feel like your flavour
Has gone the way of a pre-shelled pistachio…
I know you’re weighed down
You’re fed up with your heavy
Your boots
Laced with melancholy notion’s all you own…I do – like sugar – tend toward the brittle and sticky when spun
And I know my demeanor
Has gone the way of a photo left out in the sun…
I try to keep myself in lillies and flax seeds…
Oh what a folly- fooling just yourself…

Sit down and smoke away, I wouldn’t knock it till you’re in them shoes
Oh watch as ours subtlety blows away as a blusher gives way to a bruise…
But seemly, we’d freely make a trade-off
A dry rot to take the weight off
Swap the boots for red shoes

Bagaimana menurut kalian lagunya? Kalau ada yang tahu artis folk yang mirip genre-nya dengan Lisa Hannigan, boleh juga rekomendasikan ke saya. 😀
Dengan kaitkata ,

Let’s go Folk, folks!

Belakangan ini genre musik saya berubah total. Setelah sekitaran tahun 2008-2009 saya sangat cinta dengan RnB dan HipHop, memuja-muja Rihanna, Lady Gaga, dan Beyonce, sekarang genre lagu saya berubah 180 derajat dari penuh dengan hingar-bingar menuju ke sebuah genre yang kalem dan ancient.

Sekarang saya mengabdikan diri saya pada aliran FOLK, baik itu pop maupun rock.

Apa sih, aliran folk itu?

Folk music is an English term encompassing both traditional folk music and contemporary folk music. The term originated in the 19th century. Traditional folk music has been defined in several ways: as music transmitted by mouth, as music of the lower classes, and as music with unknown composers. It has been contrasted with commercial and classical styles. This music is also referred to as traditional music and, in US, as ‘roots music’.” – Wikipedia

Aslinya, definisi folk seperti itu. Namun musik folk modern lebih memfokuskan diri pada pemakaian instrumen-instrumen etnik seperti perkusi, kendang, harpa, dll. Dulu, jaman saya masih sangat kecanduan anime dan manga, saya menyukai jenis japanese folk music yang sering diusung dalam anime-anime, terutama anime produksi studio Ghibli. Suasana etnik yang ditampilkan dalam alunan seruling atau instrumen khas Jepang selalu membuat hati nyaman dan teringat akan sawah dengan padi menghijau atau malam hari yang sejuk dengan bulan purnama di langit cerah. Dari semua lagu folk Ghibli, saya paling suka dengan sontrek Tonari no Totoro (Our Neighbor Totoro) yang berjudul “Path of Wind”.

some of Ghibli movies

Tonari no Totoro

Pada masa-masa SMA, kecintaan saya terhadap folk music sempat terlupakan karena teman-teman terdekat saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu RnB, dan memang pada saat itu RnB sedang banyak merajai tangga lagu internasional. Rihanna, Beyonce, dan Black Eyed Peas merajai playlist saya sebagaimana lagu-lagu mereka merajai Billboard chart. Bahkan sampai pada kemunculan Lady Gaga, saya masihlah pencinta setia RnB dengan dunia hingar-bingar mereka.

Namun memasuki dunia kuliah, pergaulan saya berubah jauh. Di tingkat pertama pengaruh teman yang menyukai genre New Age dan Ambient sangat kuat hingga saya juga mulai mendengarkan Enya, memperbanyak koleksi Kitaro dan Yuki Kajiura saya (yang memang saya sukai sejak lama namun sempat tidak bertambah jumlah koleksinya), dan rajin mengunduh lagu-lagu Yanni.

Enya

Sampai akhirnya ketika memasuki tingkat dua perkuliahan, RnB dan New Age tidak bisa lagi mendatangkan inspirasi bagi saya dalam menulis maupun mengerjakan tugas. Apalagi sekarang ini saya jarang mendengarkan radio karena kesibukan dan faktor headset handphone yang rusak dan masih belum didapatkan penggantinya maklum, handphone merek underground. Karena kurangnya referensi musik RnB dan New Age yang baru, saya akhirnya dengan iseng berbicara masalah musik favorit dengan beberapa teman penulis saya niat awalnya supaya musiknya bisa dicolong :p. Ternyata, sebagian besar teman penulis yang saya tanya mempunyai selera musik yang hampir sama. Dari salah seorang teman saya mendapatkan rekomendasi untuk mendengarkan Bat For Lashes (Natasha Khan). Dari teman yang lain saya mendapat rekomendasi Cecile Corbel. Suka dengan musik-musik mereka, saya iseng menjelajah situs-situs untuk mencari artis-asrtis serupa dengan mereka hingga menemukan –dan jatuh cinta– pada dua artis, Vienna Teng dan Florence + The Machine. Koleksi lagu folk saya bertambah pesat.

Sekarang ini, koleksi album folk saya sudah ada sekitar 9 album:

Bat For Lashes - Two Suns

 Mengusung aliran Folktronica, Natasha Khan, yang memkai nama panggung Bat For Lashes meghadirkan lagu-lagu gelap dengan lirik yang surealis dan sulit ditebak maknanya. Album Two Suns dikabarkan berada dalam urutan #5 di UK Albums chart dan memenangkan Best Alternative Act  dalam UK Asian Music Award. Saya mendengarkan Natasha setelah mendapat rekomendasi dari salah satu teman penulis saya, dan kebetulan memang saya jatuh cinta pada salah satu lagu berjudul “Daniel” di album ini.

Vienna Teng - Waking Hour

Vienna Teng - Warm Strangers

Vienna Teng - Dreaming Through The Noise

Vienna Teng - Inland Territory

Berbeda dengan BFL, Vienna Teng mengedepankan suara piano dalam semua lagunya, walaupun instrumen etnik yang lainnya juga tak ketinggalan. Vienna adalah musisi folk favorit saya karena lirik-lirik lagunya yang begitu implisit dan sureal. Vienna Teng ini murni hasil penemuan saya sendiri. Setelah menemukan satu fanvid Alexander The Movie dan Hetalia – Axis Power yang menggunakan lagunya sebagai backsound, saya pun memutuskan untuk mengunduh album pertamanya untuk coba-coba. Ternyata, begitu mengunduh satu album, saya ketagihan dengan alunan piano dan lirik-lirik surealis yang disajikan oleh Vienna Teng, maka jadilah saya mengoleksi semua albumnya.

Florence + The Machine - Lungs

Florence + The Machine - Ceremonials

Sama seperti Vienna Teng, Florence + The Machine ini juga hasil penemuan saya sendiri. Saat sedang asik mengacak-acak azlyrics.com, saya tanpa sengaja melihat promo album Ceremonials dan jadi tertarik untuk mencari tahu karena nama band-nya yang unik. Entah kebetulan atau takdir, ternyata FATM ini juga mengusung genre folk, lebih tepatnya folk rock dan folktronica. FATM bagi saya lebih seperti gabungan kualitas BFL dan Vienna Teng. Irama lagunya yang banyak menggunakan instrumen elektronik dengan tonjolan instrumen etnik yang khas mengingatkan saya pada irama-irama BFL sementara lirik-lirik lagunya yang terkesan surealis sangat mirip seperti Vienna Teng. Band yang berasal dari UK ini sering membawakan lagu-lagu berirama English folk.

Cecile Corbel - The Borrower Arrietty Image Album

Cecile Corbel - Songbook vol.1

Cecile Corbel adalah artis yang baru saja diperkenalkan pada saya, karena itu saya baru mempunyai dua albumnya. Diperkenalkan kepada saya melalui salah seorang teman penulis (lagi) dan sebuah film terbaru Ghibli, The Borrower Arrietty, saya langsung jatuh cinta pada kelembutan alunan harpanya. Mengusung aliran folk pop, artis Perancis ini telah menciptakan dan menyanyikan lagu dalam banyak bahasa, namun mayoritas karyanya adalah celtic folk.

Demikianlah kesembilan album modern folk milik saya. Sampai sekarang saya masih aktif mencari-cari artis folk yang berkualitas lainnya. Kalau ada yang entah bagaimana juga menyukai musik-musik folk, feel free to give me some good recs! 😉

 

 

 

 

Dengan kaitkata , ,